Posted by Abdul Adzim Irsad On Desember - 31 - 2012 0 Comment

Dalam banyak catatan, sebagian umat Islam menyukai warna putih bersih. Sebab, warna putih identic dengan kesucian. Lihat saja, seragam ihram yang dikenakan ketika musim haji dan umrah, semua mengenakan warna putih, baik laki-laki maupun wanita.

Apalagi, ketika melihat realitas di lapangan, dimana sebagian besar orang Arab, mulai Makkah, Madinah, Mesir, Syiria, Sudan, Palestina. Kesemuanya memakai pakain putih-putih. Seolah-olah, pakaian putih menjadi lambang orang Arab dan islam secara keseluruhan. Sedangkan bagi kaum wanita, Hitam menjadi warna pilihan utama bagi kalangan wanita di Jazirah Arabiyah.

Asmaul Khusna

Bagi sebagian orang, warna memiliki makna, seperti; biru, hijau, merah, kuning. Oleh karena itu, beberpa partai politik di tanah air Indonesia, memiliki warna tertentu dan warna itu sesuai dengan falsafah dan tujuan mulia mereka. Lihat saja PDI, bangga dengan warna merah yang identic dengan berani tanpa menyerah. Begitu  juga dengan warna kuning Golkar yang identic dengan selalu berkarya untuk orang banyak. PKB identik dengan hijau yang membawa kedamaian, PAN dengan warna biru.

Bagi Nabi SAW warna yang paling di sukai adalah warna putih, hal ini terlihat di Jazirah Arabiyah, khususnya kota Nabi SAW (Madinah), dimana hampir semua orang islam mengenakan gamis putih. Apalagi, ketika di masjid, sepanjang mata memandang, semua terlihat putih-putih, mulai anak-anak, dewasa, hingga orangtua. Mulai di pasar, hingga di masjid, sampai para petani-pun juga menggunakan pakaian berwarna putih.

Kendati demikian, Nabi SAW bukan berarti tidak menggunakan warna lainnya. Sebab, nabi SAW juga pernah mengenakan warna hitam, merah. Bahkan, imamah (penutup kepala) Rosulullah SAW yang masih bisa kita saksikan sampai sekarang ini berwarna hitam. Tetapi, dari sekian warna yang paling banyak dan sering dikenakan oleh Rosulullah SAW adalah putih.

Bisa dikatakan, warna putih menjadi warna kesukaan Rosulullah SAW, walaupun dalam riwayat Imam Al-Tabrani diceritakan jika Nabi SAW juga menyukai warna hijau. Dalam sebuah keterangan hadis yang bersumber dari Anas Ibn Malik ra, sahabat dekat dan pembantu Rosululllah SAW, beliau mengatakan:’’Warna yang paling disukai oleh Rasulullah saw adalah hijau.” Namun selain itu Rasul juga ternyata menyukai warna putih. Ada juga keterangan bahwa Nabi Muhammad saw pernah memakai pakaian berwarna hitam, merah hati, abu-abu dan warna campuran. Tetapi, sebagian banyak keterangan menjelaskan bahwa warna kesukaan Nabi SAW adalah putih.  Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin berkata : ” Yang amat disukai oleh Nabi saw ialah warna putih.”

Oleh karena itulah, sebagian besar ulamaulama selalu mengutamakan pakaian warna putih sebagai wujud cinta, sekaligus meneladani Rosulullah SAW. Tetapi, bukan berarti warna lain tidak disukai atau tidak di anjurkan oleh Nabi SAW. Ibnu Hajjar dalam Tanbih Al Akhbar mengatakan: “Pada hari raya kami disuruh memakai pakaian berwarna hijau karena warna hijau lebih utama. Adapun warna hijau adalah afdhal daripada warna lainnya, sesudah putih.”

Terlepas dari warna kesukaan Nabi SAW, yang jelas Nabi SAW tidak pernah membuka kepalanya. Beliau selalu menggunakan Imamah (penutup) kepala. Beliau pernah juga mengunakan Imama Hitam. Menutup kepala adalah sunnah, baik menggunakan Imamah maupun menggunakan kopyah, sebagaimana orang Indonesia mengenaka peci hitam di dalam menjalakan sholat. Dalam sebuah riwayat, Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Anas r.a, beliau pernah melihat : “Nabi saw menutup kepalanya dengan kain biasa yang bercorak-corak warnanya”.

Yang menjadi pertanyaan ialah, warna apakah kesuakaan kita, sudahkan kita menutup aurat dengan baik dan sempurna. Hakekat berbusana adalah menutup aurat rapat-rapat. Bagi Nabi SAW bukan hanya sekedar menutup aurat, tetapi busana itu harus bersih dan indah, selalu wangi, karena Allah SWT indah menyukai keindahan.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook