Posted by Abdul Adzim Irsad On Juli - 18 - 2014 2 Comments

Tarawih BidahSemua ulama sepakat, Umar Ibn Al-Khattab ra salah sahabat dekat Rosulullah SAW yang pernah mengatakan:”nikmatul bidah hadihi  “ artinya nikmat bidah ya ini. Ucapan Umar Ibn Al-Khattab ini disampaikan ketika usai melaksanakan tarawih 20 rakaat dan 3 witir. Umar Ibn Al-Khattab ra satu-satunya sahabat Nabi SAW yang merintis tarawih berjamaah (terorganisir). Sebelumnya, pelaksanaan qiyam ramadhan selalu dilaksanakan sendiri-sendiri, dan waktunya juga di tenggah malam.

Memang, pada mulanya tarawih yang digagas oleh Umar Ibn Al-Khattab itu 8 rakaat plus 3 witir. Sedangkan yang bertindak sebagai Imamnya ialah sahabat Ubai Ibn Ka’ab rad an Tamim Al-Dar, sebagaimana di riwayatkan oleh Imam Malik ra di dalam kitab Al-Muwatta’.

Perlu diketahui, saat Ubai Ibn Ka’ab dan Tamim Al-Dar menjadi imam sholat tarawih 8 rakaat plus 3 witir, ternyata banyak yang keberatan. Sebab, kedua imam tersebut membaca 50-60 ayat dalam setiap rakaat. Bisa dibayangkan, betapa panjang dan lama. Semua tahu, sebagian besar sahabat Nabi SAW itu hafal Al-Quran dan cara membacanya tartil. Dengan begitu, durasi tarawih 8 rakaat plus 3 witir itu sangat lama, diperkirakan 4-5 jam.  Setiap dua rakaat usai, beristirahat sejak dengan membaca dzikir. Konon, rampungnya tarawih hingga menjelang fajar (menjelang sholat subuh). Luar biasa bukan…..!

Melihat sebagian sahabat keberatan dengan delapan rakaat dengan durasi yang begitu panjang. Umar  Ibn Al-Kahttab ra sebagai seorang khalifah merubah sistemnya menjadi 23 rakaat dengan durasi lebih pendek. Setiap rakaat hanya membaca 20-30 ayat. Dengan demikian, sedikitnya ayat yang dibaca dalam sholat dapat tertutupi dengan jumlah rakaat yang lebih banyak.  Sejak saat itulah, hingga kini jumlah rakaat tetap 20 rakaat plus 3 witir dengan durasi sekitar 1-1,5 jam, dengan membaca 1 juz di setiap malam. Hal ini dilakukan di Masjidilharam dan Nabawi dan beberapa masjid besar di Tumur Tengga dan Asia.

Rupanya, Umar Ibn Al-Khattab memahami bahwa apa yang dilakukan itu belum pernah dan tidak pernah diperintahkan oleh Rosulullah SAW. Tentu saja Umar Ibn Al-Khattab ra lebih memahami sunnah Nabi SAW. Beliau bertahun-tahun selalu bersama Rosulullah SAW, baik dalam suka maupun duka. Apa yang dilakukan itu tidak mungkin keluar dari koridor sunnah Rosulullah SAW. Sebab, Rosulullah SAW sendiri pernah mengatakan:”wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafaur Al-Rosidhin” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi, Ib Majjah, Al-Hakim, Ib Hibban). Umar Ibn Al-Khattab ra adalah kholifah kedua dari empat khulafaur al-Rashidin  yang diberikan petunjuh setelah Abu Bakar Al-Siddiq.

Dengan demikian, mengikuti apa yang telah dilakukan Umar Ibn Al-Khattab ra berarti sama dengan mengikuti Rosulullah SAW. Secara khusus, Rosulullah SAW memuji sahabat-sahabatnya sebagai generasi terbaik. Nabi SAW mengatakan:” Sebaik-baik manusia adalah pada abadku, kemudian abad sesudah-nya kemudian abad sesudah itu.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi).

Tidak dipekenankan menghina dan melecehakan sahabat Rosulullah SAW, karena itu sama dengan menghina Rosulullah SAW. Juga, apa yang dilakukan oleh sahabatnya, sebagaimana apa yang dilakukan Umar Ibn Al-Khattab ra, seperti; tarawih 20 rakaat. Sebab, ada pihak-pihak yang mengatakan cinta Rosulullah SAW dan selalu berpegang pada Al-Quran dan hadis Rosulullah SAW, justru mengatakan ‘’tarawih 20 rakaat itu tidak sesuai dengan hadis Rosulullah SAW’’. Ada yang lebih gila lagi “tarawih 20 rakaat itu bidah”. Artinya, jika bidah yang di maksud itu negative (bidah dhalalah), maka endingnya adalah neraka.

Bagaimana mungkin, tarawih yang digagas oleh Umar Ibn Al-Khattab ra kemudian disesatkan. Padahal, semua ulama fikih sejak masa sahabat, salafussolih, tabiit tabiin, hingga mujtahidin; Imam Abu Hanifah, Malik, Syafii, dan Hambali sepakat bahwa jumlah maksimal shalat tarawih itu adalah 20 rakaat ditambah 3 rakaat sholat witir. Hal ini berdasarkan apa yang dilakukan oleh Umar Ibn Al-Khattab ra, Usman Ibn Affan ra, Ali Ibi Thalib ra.

Ulama-ulama hadis, fikih, seperti; Imam Nawawi, Al-Subkhi, Al-Hafid Ibn Al-Iraqi (Umdatu Al-Qori),  Imam Al-Suyuthi (Al-Masobih), Ali Al-Qori (Syarah Al-Muwatta’). Bahkan, salah satu ulama wahabi kontemporer Syekh Ismail Al-Ansori di dalam kitabnya “Taskhih Hadis Shalat Al-Tarawih Isrina Rakaat wa Radd Alal Al-Bani fi Tadfiih’’. Kitab ini menjelaskan seputar jumlah rakaat tarawih 20, sekaligus menjawab pernyataan Syekh Al-Bani yang mengatakan tarawih itu 8 rakaat (2 salam).

Jadi, pandangan orang yang menilai bahwa tarawih 20 rakaat itu bidah adalah pandangan yang salah fatal. Dengan kata lain, membidahkan tarawih 20 rakaat itu sama dengan membidahkan Umar Ibn Al-Khattab, Usman Ibn Affan, Ali Ibn Abi Thalib, serta ulama hadis dan fikih yang melaksanakan tarawih 20 rakaat. Jika tidak mau mengikuti sunnah Nabi SAW serta sahabat Rosulullah SAW, minimal tidak mencibir orang-orang yang melaksanakan sholat 20 rakaat. Apakah yang sholat rakaat 8 plus 3 witir itu sudah sesuai dengan sunnah Nabi SAW dan sahabat, baik dalam prakteknya, durasinya, bacaanya, serta kualitasnya?

Kendati demikian, hukum shoat sunnah ramadhan  (tarawih) itu tetap sunnah, bukan wajib. Artinya, bagi yang menjalankan mendapatkan pahala, dan bagi yang tidak melaksanakan tidak apa-apa. Akan tetapi, bukti cinta kepada Nabi SAW dan sahabatnya ialah, melaksanakan apa yang telah dilakukan oleh Nabi SAW dan sahabat. Bukankah Rosulullah SAW pernah mengatakan kepada sahabatnya:” engkau bersama dengan orang yang engkau cintai (HR.Bukhori).

 

 

 

 

2 Responses so far.

  1. putra mengatakan:

    aduh, mau share tp ga bisa pake hape?


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook