Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 17 - 2013 0 Comment

Rosulullah SAW paling suka dengan nama-nama bagus dan indah. Rosulullah SAW pernah mengatakan:”Nama-nama yang paling disukai Allah ialah ‘Abdullah & ‘Abdurrahman.” (HR. Muslim).  Orang Arab paling suka memberikan nama putra-putranya dengan nama itu, sekaligus membuktikan diri sebagai hamba Allah SWT yang senantiasa mengabdikan diri kepada-Nya. Walaupun realitasnya tidak demikian.

Nama bagus

Nabi SAW adalah teladan sejati. Rosulullah SAW, tidak hanya memerintahkan, beliau SAW juga memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. terkait dengan penggunaan nama yang bagus dan bermakna, dalam sebuah hadisnya, Rosulullah SAW bersabda: “Malam ini telah lahir anakku, aku menamainya degan nama ayahku, Ibrohim.” (HR. Muslim). Tidak berlebihan jika para ulama memberikan nama putra-putranya dengan nama yang paling bagus dan bermakna. Dan nama  Muhammad atau Ahmad adalah nama terbaik, sekaligus bentuk identitas dan kecintaan kepada Rosulullah SAW. Nama itu akan memberikan penggaruh besar terhadap anak.

Selanjutnya, nama-nama yang dianjurkan adalah nama-nama orang sholih. Bukan berarti nama-nama selain berbahas Arab itu salah atau tidak pantas. banyak sekali nama-nama yang bermakna bagus, tetapi bukan bahasa Arab, seperti; Samuel, Ismail, Maryam. Tetyapi, jika nama itu bermakna negatif, walaupun kedengaranya indah dan menarik, maka nama itu harus segera di ganti. Sebab, Nabi SAW tidak menyukai nama itu, sebagaimana pernyataan Rosulullah SAW di atas.

Dalam tradisi Jawa, banyak sekali nama-nama tidak bagus, juga tidak ada maknya, bahkan maknanya negatif. Sementara, mereka itu adalah orang-orang islam yang rajin menjalankan ibadah lima waktu, dan menjalankan rukun islam. Musim haji adalah kesempatan merubah nama menjadi lebih baik dan bermakan, sekaligus merubah prilaku lebih baik selesai menunaikan ibadah haji. Nama baru, bagus, bermakna, membuat semangat beribadah kepada Allah SWT semakin tinggi. Begitulah harapan para ulama.

Dipungkiri bahwa setiap orang yang menunaikan ibadah haji kemungkinan status sosialnya kebih tinggi di lingkungan masyarakatnya. Dalam tradisi jawa timuran misalnya, setiap orang yang telah menunaikan ibadah haji dipangil dengan ”abah” bagi kaum lelaki dan ” umi” bagi kaum wanita. Di beberapa daerah juga tidak jauh berbeda. Di Madura dan Lombok ”pak haji sangat mulya. Keberangkatanya diantar warga sekampung, dan kepulanganya dijemput oleh masyarakat. Ini bukti bahwa titel haji” bisa membawa status sosial lebih tinggi, walaupun kadang perilakunya masih jauh dari syariat.

Dalam tradisi kita, sering kali orang yang habis menunaikan ibadah haji merubah namanya. Seperti nama Ngadeni diganti dengan ”Haji Abdullah”. Harapannya nama tersebut dapat memberikan dampak positif sepulang dari Makkah. Memang, Nabi s.a.w telah mengajarkan kepada para pengikutnya agar menggunakan/memberi nama yang bagus, seperti Abdullah atau Abdurahman. Jadi, perubahan nama yang lebih baik tersebut memang sangat dianjurkan oleh agama, dan bulan haji (bulan suci)  serta tempat suci (Makkah) merupakan moment yang paling tepat.

Dalam literatur sejarah, banyak dari penguasa di Jawa –seperti Kerajaan Demak, Pajang dan Banten- pada setiap musim haji mengirimkan utusan ke Makkah. Mereka meminta kepada Imam Masjidil Haram memberikan nama atau gelar kepada Raja Jawa. Gelar itu kita kenal dengan sebutan ”sultan” yang berarti ”penguasa kerajaan”. Bahkan, Raja-raja di Jawa berlomba-lomba mengirimkan utusannya ke Makkah agar supaya memperoleh gelar tersebut dari Imam Masjidil Haram. Sang Imam-pun memberikan gelar kebesaran serta oleh-oleh berupa ”kiswah” ka’bah sebagai kenang-kenangan.

Dalam cosmos Jawa, gelar atau nama, kiswah Ka’bah, air Zam-zam, serta segala sesuatu yang dibawa dari tanah suci Makkah memiliki nilai tinggi dan istimewa dari pada tempat lainya.

Cosmos di atas sampai sekarang masih berlaku. Hanya saja di era modern ini, nilai cosmos itu mulai berkurang dan suatu saat mungin akan hilang, karena kondisi Makkah dan sekitarnya yang sudah mulai berubah. Semua barang-barang yang dulu tidak bisa dijangkau dan sakral ternyata bisa ditemukan dengan mudahnya di pasar, mall. Barang-barang itu sudah menjadi komoditas dangangan. Hal ini seringkali menjadikan nilai-nilai sakral (suci) berkurang dan suatu ketika akan hilang. Wallau a’lam.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook