Posted by Abdul Adzim Irsad On Maret - 17 - 2014 0 Comment

Pada umrah kali ini, saya sengaja mengunjungi saudara di Jeddah. Kebetulan saudara itu sedang kena musibah. salah satu dari kerabatnya wafat. Sesudah sholat magrib, saya bersama saudaraku ta’ziyah. Kebetulan pada hari itu memasuki malam ke-tiga. Syekh Usamah Abdul Mannan, usai ta’ziyah, saya bertanya kepadanya. ”Apa saja yang dilakukan selama dalam masa duka?  Kemudian Syekh Usamah menjawab:”kami membaca kalimat-kalimat tayyibah dan mendokan mayat. Kemudian, setelah itu kami makan-makan bersama’‘.

Mendengar penjelasan itu, saya bertanyta kembali:”bukankah itu perbuatan Bidah? Syekh Usamah menjawab jelas dan tegas:” bagaimana mungkin medoakan orang mati itu bidah”. Kami makan-makan usai mendoakan selama tiga hari berturut-turut, bertujuan sedekah, sekaligus bersilaturahmi.

Ternyata, tradisi ta’ziyah dan mendokan jenazah selama tiga hari berturut-turut, serta makan-makan itu adalah tradisi Arab, bahkan bagian dari ajaran agama, bukan tradisi hindu budha sebagaimana banyak tuduhan orang-orang yang tidak bertanggung jawab terhadap warga NU yang suka tahlilan. Kondisi masyarakat Arab Jedah yang berjalan sejak bertahun-tahun itu sekaligus jawaban, bahwa itu adalah bagian dari budaya Arab Islam.

 Sedangkan di Makkah, banyak sekali orang-orang menunaikan ibadah umrah itu melihat sesuatu yang tidak dilihat dan dirasakan oleh orang Indonesia. Biasanya, mereka yang sedang menunaikan ibadah haji maupun umrah Makkahselalu menginformasikan apa yang sedang di alami selama di Makkah dan Madinah. Itu sudah lumrah, karena memang perjalanan menuju Makkah bukanlan mudah dan murah. Untuk itulah, orang selalu antusias ketika menceritakan apa yang didengarkan, apa yang disaksikan, dan apa yang dirasakan selama di Makkah dan Madinah.

            Zam-Zam Tower sebuah ikon baru di tanah suci Makkah. Bangunan raksasa itu menarik perhatian jamaah umrah dan haji, sehingga kadang lebih menarik dari pada Baitullah. Bagi siapa saja yang melihat pucuk bangunan itu, akan melihat tulisan sholawat yang berwarna terang ‘’Allahumma Solli Ala Sayyidina Muhammad’’. Padahal, sebagian orang, dulu mengatakan:’’ di Makkah saja, sholawatanya tidak ada ‘’Sayyidina Muhammad’’.

Bahkan saking ga suka dengan Sayyidina, sampai-sampai ada ustad di Indonesia mengatakan ‘’Sayyidina itu bukan dari nabi, tetapi tambahan dari ulama’’.  Rupanya, sang ustad yang bilang seperti ini belum khatam ngajinya. Sebab, di dalam kitab bukhori, Rosulullah SAW mengatakan:’’ Ana Sayyidul Kaum Yauma Al-Qiyamah (HR Bukhori). Sedangkan dalam hadis muslim, Rosulullah SAW mengatakan:’’ Ana sayyidu waladi Adam yaumi Al-Qiyamah (HR Muslim).

Kalau kita berjalan keliling di Makkah, pasti akan menemukan sebuah Jl. Sayyidina Umar Ibn Al-Khattab, Jl. Sayyidina Usman Ibn Affan di daerah Syari’ Mansur- Makkah. Dengan begitu, orang yang beranggapan bahwa sayyidina itu berlebih-lebihan itu tidak ber-alasan. Apalagi, sampai mengecam terhadap orang yang selalu mengunakan sayyidina di dalam bersholawat kepada Rosulullah SAW.

Arab Saudi sekarang jauh berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu. Bahkan, nuasa ibadah di Makkah terasa sekali seperti nuansa  ibadahnya orang Nahdiyin. Ketika sholat jumat, adzanya juga dua kali. Setelah adzan pertama, sebagian besar dari jamaah melaksanakan sholat dua rakaat (qobliyah). Kemudian setelah sang Khotin mengucapkan salam, dilanjutkan dengan adzan yang ke-dua, baru berikutnya khutbah jumat.

Menariknya, sang khotib juga berulang-ulang membaca sholawat nabi dengan tambahan sayyidina Muhammad. Apalagi, saat Syekh Sholih Al-Thalib ketika khutbah di atas mimbar (bukan podium) menjadi khotib dan Imam Jumat (27/02/2014) beliau selalu meng-ulang-ulang Sayyidina Muhammad. Begitu juga dengan seniorntya, Syekh Solih Ibn Humaid menjadi imam sholat subuh, bacaan basmalahnya agak kencang, sehingga semua makmum mendengarkan basmalah tersebut. Dengan demikian, nuasa amaliyah Ibadah NU mulai terasa di bumi Makkah, walaupun secara manhaj (pedoman) tauhid tetap ada perbedaan yang tidak mungkin disatukan. Yang terpenting ialah, kesamaan-kesamaan yang ada  harus terus dibangun.

Para Imam Masjidilharam secara jelas dan gamblang mulai membaca surat Al-Fatihah dengan di awali Bismillah secara terang-terangan. Walaupun samar, tetapi semua jamaah bisa mendengarkan. Itulah yang didengar oleh penulis selama di Makkah, yaitu saat Syekh Sholih Ibn Khumaid menjadi Imam Sholat subuh.

Menerut keterangan beberapa teman yang bermukim 15 tahun di Makkah. Telah terjadi perubahan besar di Arab Saudi, muali liburan sekolah yang biasanya hari kamis dan jumat, sekarang berubah menjadi Jumat dan Sabtu. Para ulamaulama yang selama ini keras dan mudah menyesatkan (tabdi), tafsik (menfasikan), takfir (mengkafirkan), sesama bisa dikatakan jarang. Bahkan, banyak yang membaca sholawat selalu di tambah dengan sayyidina dan maulana Muhammad.

Kondisi seperti sangat bagus dan sangat menguntungkan bagi eksistensi negara Saudi Arabia dari sudut pandang politik. Selama ini Saudi Arabia dipandang sangat ekstrim di dalam menjalankan ajaran Rosulullah SAW, sehingga menganggab yang lain itu  salah dan tersesat.

Jika di kaji dari ctatan-catan sejarahnya, sejak awal, Syekh Abdul Wahab pernah mengatakan kalau dirinya mengaku tidak pernah mengharamkan tawassul, maulidan, membaca dalail khoirat dll. Secara langsung, Syekh Abdul Wahab menulis di dalam risalahnya.

Sulaiman Ibn Suhaim adalah laki-laki yang di anggab telah melakukan perbuatan kasar dengan menatasnamakan Syekh Abdul Wahab. Itulah ungkapan beliau di dalam risalah Syekh Abdul Wahab sebagaimana yang dukutip oleh Sayyid Muhammad di dalam kitab Al-Mafahim.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook