Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 13 - 2014 0 Comment

Suara berita Koran, majalah dan media onlie mengabarkan seputar kelahiranya putra pertama Teuku Wisnu. Secara sengaja Teuku Wisnu tidak meng-adzani putranya dengan alasan hadisnya lemah (dhoif). Kemudian Teuku Wisnu menjelaskan jika ketika di dalam kandungan sudah di adzani dan dibacakan ayat-ayat suci Al-Quran. Membacakan al-Quran dan meng-adani ketika masih dalam kandungan juga tidak ada hadisnya yang shohih. Kalau ketika baru dilahirkan justru ada hadis yang dibenarkan oleh Imam Al-Tirmidzi, Al-Hakim, Al-Thabrani, Al-Baihaqi, Abu Dawud, bahkan Ibn Qosyiim, Ibnu Qudamah, Imam Nawawi, Syafii, Sayyid Sabiq, dan Syekh Wahbah Al-Zuhaili mensunahhkan.

Adzan

Jika dikaji dan ditelusuri, ternyata  sumber hadis yang mengatakan bahwa tidak ajaran yang menganjurkan meng-adzani bayi dan meng-iqomati bayi bersumber dari hadis yang di doifkan oleh Syekh Al-Bani, walaupun beberapa ulama lain sebelumnya juga ada yang berpendapat sama. Hadis yang diriwayatkan oleh ulama hadis di atas, dianggab dhoif (lemah), oleh Syekh Al-Bani. Menariknya, Syekh Al-Bani kadang berpendapat bahwa hadis seputar anjuran meng-adzani bayi itu hasan. Artinya, tidak apa-apa di amalkan, bahkan dikategorikan kuat.[1] Dengan kata lain, dalam hal ini Syekh Al-Bani memiliki dua pernyataan yang bertentangan.

Kemudian sumber lain yang menopang pendapat Syekh Al-Bani adaah situs online dari era muslim. Terlepas dari sebuah perbedaan antara di adzani dan tidak. Tidak ada larangan mengadzani bayi lahir itu dilarangan. Selanjutnya, tidak dibenarkan bagi yang percaya hadis seputar adzan dan iqomat bayi itu lemah, kemudian melarang dan membidahkan orang yang mengadzani bayinya. Perbedaan pendapat bagi ulama itu biasa, tetapi masing-masing memiliki argumentasi yang kuat dan mendasar. Yang tidak benar ialah, ketika bayi masih dikandungan di dengarkan musik-musik, dan ketika baru lahir juga didengarkan musik-musik, ini yang tidak ada dasarnya baik dalam Al-Quran, hadis, dan juga tidak ada anjuran dari ulama.

Sejak ber-abad-abad umat islam dunia, baik itu pakar hadis maupun pakar fikih dan hadis, seperti, Imam Al-Tirmidzi, Al-Thabrani, Al-Hakim, Abu Dawud, Al-Baihaqi, serta Imam Nawawi, Imam Syafii, Ibnu Qudamah, Ibn Qoyiim, Sayid Sabiq, Syekh Prof.Dr. Wahbah Al-Zuhaili, dan masih puluhan, bahkan ratusan ulama Ahlussunah Waljamaah menganjurkanmeng-adzani putra yang bayi lahir ditelinga kanan dan meng-iqomati di telinga kiri. Ibnu Qoyyim juga sependapat dengan Imam Syafii seputar sunnahnya mengadzani bayi yang baru lahir.

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah yang mengikuti madzhab Imam Hambali, menganjurkan adzan, karena itu termasuk sunnah. Sunnah itu artinya, mendapatkan pahala jika dilaksanakan dengan baik dan tidak berdosa bagi yang meninggalkan. Di dalam kitab Tuhfat al-Maudud, Ibn Qosyyim secara khusus membahas satu bab yang menyunnahkan adzan bagi bayi yang baru dilahirkan. Di dalam keteranganya, beliau mengatakan:”

Bab ke-empat, menerangkan mengenai disunnahkannya adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri”.[2]

Sayyid Sabiq seorang ulama penulis kitab “Fiqhu Al-Sunnah” juga berpendapat bahwa meng-adzani bayi dan meng-iqomati bayi yang baru dilahirkan itu dianjurkan sunnah. Perlu diketahui Sayyid Sabiq disamping seorang dosen di Umm Al-Qura University, kitab Fiqhu Al-Sunnah juga diajarkan dan dipelajari diberbagai kampus di seluruh jazirah Al-Arabiyah, juga di pelosok nusantara.

Kemudian Sayyid Sabiq mengatakan dalam karyanya:”Adzan di telinga bayi yang baru dilahirkan, : Termasuk sunnah dilakukan, mengadzani telinga kanan dan mengiqamahi telinga kiri bayi yang baru dilahirkan, supaya yang pertama kali didengar telinga anak adalah Asma Allah SWT”.[3]

Ulama hadis dan fikih modern dan konteporer, Prof.Dr. Wahbah Al-Zuhaili penulis Tafsir Munir dan Fiqhu Al-Silam wa Adillatuhu menganjurkan meng-adzani bayi yang baru lahir. Dalam sebuah pernyataanya Syekh Prof.Dr. Wahbah Al-Zuhali mengatakan:”disukai bagi orang tua untuk mengadzani di telinga kanan bayi yang baru dilahirkan dan diiqamati seperti iqamat untuk shalat di telinga kirinya”.[4]

Suara tauhid (adzan dan iqomah), mengalun merdu pada kedua telingga sang bayi. Itulah kalimat tauhid, suara takbir yang diperdengarkan sanga ayah kepada buah hatinya.‘’ Allah Albar’’ kebesaran akan sang pecipta. Tujuan adzan dan iqomah adalah mengenalkan bayi kepada sang penciptanya, sebagaimana Nabi menyambut cucunya dengaun lantunan suara Adzan. Dalam sebuah keterangan hadis, Nabi SAW ketika menyambuat cucunya, beliau adzan dan iqomah pada telinga Hasan:

 Diriwayatkan dari Ubaidillah bin abi Rofi’ dari ayahandanya, ia mengatakan:”Aku pernah melihat Nabi SAW adzan pada di telingga Hasan Ibn Ali ketika Fatimah sedang melahirkannya sebagaimana sholat (H.R Tirmidzi).

Beberapa organisasi kemasyarakatan di Indonesia yang tidak mau mengamalkan adzan dan iqomah terhadap bayi yang baru dilahirkan antara lain, Persis, Muhammadiyah[5] dan MTA (Majlis Tafsir Al-Quran). Hadis seputar anjuran meng-adzani bayi di anggab lemah(dhaif).

Berdasarkan hadis di atas, serta pendapat deretan ulama hadis dan fikih di atas, NU (Nahdhotul Ulama), serta ulama-ulama nusantara lainya, menganjurkan meng-adzani bayi yang baru dilahirkan.

Sebab, walaupun dikatakan hadis seputar adzan itu dhoif, tetapi tidak ada satu-pun hadis atau riwayat lain yang melarang meng-adzani bayi yang baru dilahirkan. Sementara perintah Nabi SAW jelas, walaupun tingkatan hadis itu hasan menurut Imam Al-Turmudzi.

Sekarang realitas dilapangan, sebagian masyarakat muslim Indonesia, baik itu Muhammadiyah, NU, selalu meng-adzani putra atau putrinya yang baru lahir. Bukan hanya di Indonesia saja, Mesir, Syiria, sebagian Arab Saudi, India, Pakistan, Malaysia, Brunai, Thailand (Fatani), melakukan adzan dan iqomah ketika putranya lahir. Sebab, adzan itu bagian dari  mengenalkan kalimat tauhid kepada bayi ketika keluar dari perut seorang Ibu.

 

[1]. Periksa Sahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud : 11/105, dan  Sahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi : 4/14.

[2] . Tuhfat al-Maudud : 1/30)

[3] . As-Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah :  3/329

[4] .Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu : 4/288)

[5] . Tanya Jawab Agama 1, hlm. 38. Periksa juga Himpunan Putusan Majlis Tarjih Muhammadiyah, hlm. 333. Lihat pula jawaban Pak AR Fahrudin tokoh ulama Muhammadiyah dalam Abdul Munir Mulkhan ( penyusun), Jawaban Kyai Muhammadiyah, Mengurai Jawaban Pak AR  dan 274 Permasalahan dalam Islam, Cet. II,  Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2004,  hlm.182-183. ( https://www.facebook.com/notes/ahmed-azzimi/mengadzani-ketika-bayi-baru-dilahirkan/10152345324117543)

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook