Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 10 - 2013 0 Comment

SungkemanSungkeman merupakan tradisi khas bagi masyarakat Jawa. Sungkeman itu biasanya dilakukan seorang anak kepada kedua orangtuanya ketika hendak mengaruni pernikahan. Sungkeman juga biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa (Indonesia), khususnya umat islam ketika hari raya Idul Fitri. Dalam tradisi Arab kuno dan Arab Islam memang tidak ditemukan tradisi sungkeman. Namun bukan lantas memvonis kalau sungkeman itu bidah (mengada-ngada), tersesat dan masuk Neraka.

Dalam tradisi Arab Jahiliyah, dan Arab Islam, sungkeman tidak dikenal. Mereka memiliki tradisi sendiri. Ketika hari raya tiba, mereka berkumpul dirumah orangtua masing-masing. Mereka saling bersalaman sambil berpelukan, mencium tangan. Ada juga ketika bersalaman, mereka menempelkan pucuk hidungnya masing-masing. Yang perlu dilakukan, mereka melakukan salaman (berpelukan), hanya dengan keluarganya. Laki-laki dengan laki-laki, begitu juga dengan wanita.

Dalam kajian bahasa, istilah sungkeman berasal dari kata sungkem yang berarti bersimpuh atau duduk berjongkok sambil mencium tangan. Ada yang mengatakan ini sudah berjalan sejak jaman Majapahit. Dengan begitu berarti sungkeman itu memang tradisi nusantara yang harus dilestarikan, selama tidak bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan sunnah Rosulullah SAW.

MAKNA SUNGKEMAN

Tradisi sungkeman yang diperbolehkan dan sesuai dengan ajaran Al-Quran dan ajaran Rosulullah SAW, seorang anak duduk bersimpuh dihadapan keduan orangtuanya. Kemudian meminta maaf atas dosa-dosa, baik tutur, tindakan, sikap yang kurang berkenan selama ini. Meminta doa dan ridho kedua orangtua, agar Allah SWT juga meridhoi setiap langkah yang ditempuhnya. Rosulullah SAW menuturkan:’’Ridho Allah itu terletak pada ridho kedua orangtua (HR Baihaqi). Dalam redaksi lain, Nabi SAW menuturkan:’’ surga itu terletak pada kaki ibu’’. QS Al-Isra’ (17:24) Allah SWT mengatakan:’’ rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Jika dilihat dari praktek sungkeman di masyarakat ada beberapa yang perlu diperhatikan.Yang membolehkan berdalil bahwa prilaku seperti ini adalah adat kesopanan, khususnya masyarakat Indonesia. Selama tidak dilakukan dengan tatacra yang tercela dan tidak ada dalil yang mengharamkan mengapa dilarang.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook