Posted by Abdul Adzim Irsad On Januari - 11 - 2013 0 Comment

Abd. Adzim Irsad[1]

 Sufi KontemporerSeringkali orang bilang dengan nada miring kalau tasawuf itu tidak bersandar pada Alquran, dan bertentangan dengan ajaran Rosulullah SAW. Dengan kata lain, tasawuf itu bidah (mengada-ngada). Sesuatu yang mengada-ngada dalam ajaran agama itu tersesat (dholalah), dan setiap kesesatan itu balasan yang paling tepat adalah neraka. Anggapan dan tuduhan ini tidak mendasar, sekaligus menebarkan permusuhan sesama muslim.

            Semua ulama sufi sepakat bahwa ajaran tasawuf itu harus melalui syariat yang diajarkan oleh Rosulullah SAW. Seorang tokoh dan ulama tasawuf yang bernama Abu Al-Hasan Ahmad Ibn Abi Al-Hiwari mengatakan:’’Barang siapa yang melakukan sebuah amal perbuatan tanpa mengikuti sunnah Rosulullah SAW, maka amalan itu batil (tidak diterima)’’.[2]

Ada juga yang berpendapat bahwa sufi atau tasawuf hanya mengajarkan cinta kepada Allah SWT, tidak mengajarkan Alquran dan sunnah. Berbagai pandangan miring terhadap tasawuf tidak pernah berhenti. Bahkan ada yang terang-terang menyesatkan, dan tidak segan-segan menjustifikasi bahwa ajaran sufi itu termasuk ahli neraka.

Hendaknya setiap melihat perbedaan, haruslah hati-hati jangan sampai mudah menghukumi orang-orang sufi dengan ahli neraka. Kecuali telah menyaksikan bahwa ajaran itu benar-benar keluar dari ajaran Alquran dan tuntunan Rosulullah SAW.

Ada pendapat bahwa tasawwuf itu berasal dari kata safa (???), yang artinya bersih murni. Hal ini sesuai dengan para sufisme yang selalu menekankan pada kemurnian hati dan jiwa dari segala kotoran hati, agar bisa menembus cahaya Allah SWT. Seorang sufi yang bernama Syekh Sulaiman Ibn Attiyah Al-Darani mengatakan:’’Tasawuf itu tidak akan diterima kecuali harus berpedaoman dengan Alqur’an dan Sunnah’’.[3]

Di jaman Rosulullah SAW ada sekelompok sahabat yang disebut dengan , “Ahlu Shuffah”. Mereka tinggal di emperan Masjid Nabawi, dan menghabiskan waktunya di Masjid. Mereka tidak pernah melewatkan sholat berjamaah dengan bagindan Rosulullah SAW, dan sebagian besar menghafal Alquran serta menghafal hadis Rosulullah SAW.

Setiap ada masalah, mereka selalu bertanya dengan Rosulullah SAW, sampai-sampai Abu Hurairah pernah mengatakan kepada Nabi SAW:’’ Ya Rosulullah, sesungguhnya ketika aku melihatmu terasa terasa tentram jiwaku, dan sejuk kedua mataku’’. Betapa cintanya mereka Ahlusuffah terhadap Rosulullah SAW, Sampai urusan makan dan minum-pun, selalu mendapatkan subsidi dari Rosulullah SAW.

Suatu ketika Abu Hurairah[4] mengatakan:’’ ketika turun QS Al-Najm (59-60) yang artinya ’ Maka Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? . dan kamu mentertawakan dan tidak menangis (QS Al-Najm (53:59-60).

Para sahabat Ahlu Suffah berderai air mata hingga membahasai kedua pipi mereka. Ketika Rosulullah SAW mendengarkan tangisan sahabat Ahlussuffah itu, Nabi-pun ikut larut dalam tangisan. Kemudian Rosulullah SAW mengatakan:’’ Tidak akan tersentuh api neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah SWT.[5] Di dalam keterangan hadis lain, Nabi SAW mengatakan:’’ dua mata yang tidak mungkin tersentuh sengatan api neraka, mata yang menangis karena takut kepada Allah SWT, dan mata yang terjaga karena berejuang di jalan Allah SWT (HR Tirmidzi).  Begitu peka Nabi SAW serta sahabat-sahabat yang tergabung dalam Ashabus suffah, sampai-sampai mereka Ahlussuffah menangis tersedu-sedu setiap mendengar ayat yang turun.

Dalam dunia modern, para sufisme tidak harus selalu bersila di atas sajadah, tetapi mereka banyak yang menjadi pejabat, pengusaha, dokter, dosen. Kendati mereka seorang professional, mereka selalu bekerja dengan baik dan sesuai dengan nilai-nilai ajaran sufi, yaitu sesuai dengan ajaran Alquran dan sunnah.

Salah satu cii khas sufi modern, mengutamakan ibadah mutaddiyah (ibadah social) dan ibadah Qoshirah (ibadah invidu). Para sufi modern, selalu menjaga kejernihan hati dan fikiran, serta ucapannya dari segala kotoran yang bisa merusak hubungan dengan Allah SWT. Dengan demikian, sinyalnya selalu nyambung dengan Allah SWT, baik ketika sedang ibadah sholat maupun di luar sholat.

 

 Hakekat Makna Tasawuf

Tasawuf atau yang lebih populer dengan istilah Sufisme adalah satu cabang keilmuan dalam Islam.  Tasawwuf itu berarti sebuah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa dari berbagai kotoran hati. Dengan begitu akan lahir budi pekerti yang luhur, dengan tujuan memperoleh kebahagiaan abadi, baik lahir maupun batin. Semua ajaran sufi bersandar pada ajaran Alquran sebagai kitab suci, dan tutur kata dan budi pekerti Nabi SAW, serta atsar para sahabat Rosulullah SAW

Sebagian orang antipasti dengan istilah sufi, mereka tidak mau disebut sufi, tetapi lebih pada zuhud. Mereka tidak menyadari, bahwa prilaku zuhud itu sudah memasuki dunia sufi. Antara sufi dan zuhud memang tidak bisa dipisahkan. Hanya saja, dalam perkembanganya istilah  Zuhud lebih populer dari pada Tasawuf.

 Banyak sekali hadis Rosulullah SAW yang meceritakan makna Zuhud. Sampai dalam sebuah kitab hadis,  Amr Ibn Al-Ash menyebut Nabi SAW dengan ‘’Azdadu Al-Naas’’ yang artinya  manusia paling zuhud. Zuhud itu artinya menghindari gemilang duniawi serta segala kenikmatannya, dengan tujuan untuk meraih kebahagiaan ahirat, dengan kata lain ‘’Ahirat itu lebih baik dan lebih abadi (QS Al-A’la (87:16)

Para ulama berpendapat, untuk mencapai derajat sufi sejati, orang harus mampu melakukan zuhud yang artinya sebuah keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Dunia itu sering kali menjadi tipu daya, sehingga mebuat manusia terlena, Allah SWT menjelaskan:’’kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS Ali Imran (3:185). Di tenggah-tenggah kehidupan dunia yang menyenangkan, ternyata manusia harus mam menjinakkan hawa nafsunya yang cenderung mengajak negatif.

Sebelum menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi zahid, barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian tiap sufi ialah zahid, tetapi sebaliknya tidak setiap zahid merupakan sufi. Orang Zuhud dan sufi bukan berarti hidup dalam kemiskinan dan kemlaratan, dengan kondisi awut-awutan, tetapi bagaimana ia bisa memanj hidupnya dan apa yang dimiliki untuk mencapai riho-Nya. Dunia itu sementara, dan yang abadi adalah cinta kepada Allah SWT dan cinta kepada Rosulullah SAW.

Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah. Bisa dikatakan, para sahabat Nabi SAW termasuk para zuhud, yang derajat setara dengan sufi sejati, yang mana seluruh hidupnya untuk Allah SWT dan Rosulullah SAW.  Lisan para sufi selalu basah dengan dzikir kepada Allah SWT, tindakanya sesuai dengan lisan dan hatinya, dan ia selalu mementingan sesama dari para kepentingan dirinya.

Dalam dunia zuhud dan sufi, tidak dikatakan sempurna jika masih mementingkan dirinya sendiri serta memenuhi hasratnya. Pesan Nabi SAW dalam hadisnya:’’Tidak sempurna iman seseorang sehingga ia mencintai orang lain sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’’.[6] Sesungguhnya, ketika orang mencintai sesama berarti ia telah mencintai dirinya sendiri, dan mencintai sesama sebagian bukti cinta kepada Allah SWT dan Rosulullah SAW.

Zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Dan  zuhudsebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu station (maqam) menuju tercapainya “perjumpaan” atau ma’rifat kepada-Nya. Ketika Jibril as bertanya kepada Rosulullah SAW”’ apakah ihasn itu? Nabi SAW menjawab:’’ Ihsan itu ialah ketika engkau menyembah Allah SWT, seolah-olah engkau melihatnya, jika tidak mungkin, seolah-olah Allah SWT melihatmu’’. Dengan demikian, seorang hamba akan selalu merasakan di monitor Allah SWT setiap saat, sehingga tidak ada kesempatan untuk berbuat negatife.

 



[1] . Abdul Adzim Irsad Lc. M.Pd. Dosen Bahasa Arab dan PAI Universitas Malang.  Lulusan Umm Alqura University Makkah, sekaligus Pembina Ngaji Sufi Kontemporer Malang.

[2] . Dr. Sayyed Muhamm Alawi Al-Maliki. 1995. Mafahim Yajib An-Tusohhih ( Dairoh Al-Auqof wa al-Syuuni Al-Islamiyah- Dubai) adhlm 108

[3] . hlm 108

[4] . Beliau salah satu sahabat Nabi SAW yang tinggal di Emperan Masjid Nabawi (Ahlusuusffah), yang setiap harinya belajar (nyantri) kepada Rosulullah SAW dan mengabdikan dirinya kepada Allah SWT.

[5] .HR Imam Baihaki

[6] . HR Bukhori.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook