Posted by Abdul Adzim Irsad On Februari - 8 - 2016 0 Comment

Rendah-HatiOrang itu paling suka bangga diri, dan sombong dengan apa yang dimiliki, karena sombong itu bagian dari watak manusia. Tetapi, ketahuilah, sesungguhnya sombong itu wataknya Iblis. Ketika Allah SWT memerintahkan iblis untuk bersujud kepada Adam as, Iblis menolak perintah Allah SWT. Alasanya, Iblis merasa bahwa dirinya lebih baik dari pada Adam as, karena Iblis tercipta dari bara api, sementara Adam tercipta dari tanah.

Sejak saat itulah, Allah SWT melaknat Iblis karena kesombonganya. Sedangkan Iblis meminta kepada Allah SWT agar dirinya dirinya diperkenankan berusia panjang agar bisa mengoda manusia agar kelak menjadi pengikutnya. Salah satunya, menanamkan watak sombong kepada manusia. Jadi, kalau ada orang mukim merasa lebih baik ibadahnya, lebih baik iman dan taqwanya, kemudian merendakan sesama muslim. Bahkan menganggab ibadah orang mungkin sesat, maka sesungguhnya Iblis telah berhasil menanamkan watak kesombonganya.

Allah SWT melarang dan mengancam orang-orang yang bersifat sombong (takabbur) dan berbangga diri. Allah SWT justru memulyakan orang yang tawadu’ (rendah diri). Jadi, orang mukmin yang baik itu tidak merasa lebih baik dari orang lain, justru merasa orang lain lebih baik. Dengan demikian, dia akan terus berusaha memperbaiki kualitas ibadahnya, dan juga berusaha agar dirinya benar-benar jauh dari sifat takabur.

Orang tawadu’ (rendah hati) itu sangat dihormati, dan sangat dimulyakan oleh orang lain, bahkan Allah SWT juga menjunjung tinggi derajatnya. Renda hati sebenarnya sangat mudah, tetapi dalam kehidupan sehar-hari sangat sulit dan rumit mempraktekkanya. Imam Al-Ghozali mengajarkan, agar supaya melihat orang itu pada sisi positifnya, bukan sisi negatifnya. Jika ada orang tua, maka berfikirlah, berapa banyak ibadah yang telah dilakukan. Jika melihat orang yang lebih muda dari kita, betapa sedikit dosa yang dilakukan. Dengan demikian, kita akan selalu muhasabah diri (intropeksi diri) atas kekurangan diri sendiri, sehingga tidak sempat menilai kekurangan ornag lain.

Dalam praktek sehari-hari, rendah hati itu juga bisa dilatih dengan berprasaka postif, seperti saat bertemu dengan orang yang secara lahiriah lebih tinggi dari kita. Maka tanamkan pada hati dan fikiran kita, bahwa betapa banyak pahalanya, dan betap kecil dosanya, dibandikan dengan diri kita sendiri. Jangan sampai sebaliknya, karena syetan dan iblis akan selalu masuk pada hati manusia dengan membisikkan “engkau lebih baik dari pada orang itu”.
Kadang rendah hati itu begitu berat saat kita berjumpa dengan dengan orang yang secara lahiriah lebih rendah dari kita. Pastikan, bahwa kita tetap merasa bahwa dirinya bisa jadi lebih mulya dari pada diri kita.

Sebaliknya, rendah hati itu kadang sangat mudah saat berhadapan dengan orang yang lembut, peramah, dermawan. Jelas dan pasti, jika kita orang yang kasar dan pelit, hati kita akan berkata, dia termasuk orang baik. Orang-orang itu menjadi kaca bagi kita yang memiliki watak dan sifat kurang baik.

Ketahuilah, sebagai seorang muslim juga tidak boleh merasa dirinya tawadu’ karena itu juga bagian dari kesombongan. Di dalam kitab Al-Hikam diterangkan “barang siapa merasa dirinya tawadhu‘, maka dia benar-benar telah takabbur (sombong). Sebab tiadalah ia merasa tawadhu‘ kalau bukan karena sifat tinggi darinya. Oleh karena itu kapan saja engkau merasa dirimu tinggi, maka sungguh engkau telah takabbur (Al-Hikam ).

Sebaliknya, seseorang yang beriman kepada Allah SWT dan Rosulullah SAW hendaknya merasa dalam hati masih ada sifat takabur, dan berusaha bagaimana menghilangkan. Rosulullah SAW pernah bersabda yang artinya “barangsiapa yang merasa sombong akan dirinya atau angkuh dalam berjalan, dia akan bertemu
dengan Allah SWT dalam keadaan Allah murka terhadapnya. (HR. Ahmad).

Dalam sebuah hadis shahih, Rosulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ (rendah) karena Allah, maka Dia akan mengangkatnya di hadapan manusia (HR Muslim). Rendah hati (tawadu’) itu bukan menhinakan diri, tetapi merasa bahwa dirinya itu benar-benar tidak ada artinya dihadapan Allah SWT, dan tidak pernah memangdang orang lain lebih rendah dan hina, karena sesungguhnya semua itu tidak lepasa dari kekuasaan Allah SWT (Abdul Adzim Irsad, Malang 08/02/2016)

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook