Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 24 - 2011 1 Comment

baitullah, multazam, Nabi Ibrahim dan Ismail adalah bapak dan anak yang pertama kali mendapat amanat Allah Swt. untuk membangun Ka’bah setelah sekian lama berdiri dan pernah terkena banjir di zaman Nabi Nuh AS. Para malaikat sebagai utusan Allah senantiasa setia dan taat pada perintah-Nya. Mereka membantu meletakan dasar-dasar Ka’bah dari bebatuan yang diambil dari lima gunung[1] yang bersejarah. Sedangkan Nabi Ismail -sebagai putra tercinta- membantu ayahandanya mengangkat batu-batu dengan cara memikul di punggungnya, lalu memberikannya kepada ayahandanya. Nabi Ibrahim membangun Ka’bah tanpa luluhan (perekat/semen) sebagaimana perekat yang kita kenal sekarang.

Bahan baku baitullah berasal dari lima gunung atas perintah-Nya. yang Para malaikat itu tanpa ragu mengambil bebatuan dari Gunung Hira’ (tempat Rasulullah menerima wahyu untuk pertama kalinya), Jabal Tursina dan Touri Zait (di Palestina/al-Quds, di daerah Masjidilaqsa), Labanan (gunung di Syam, dikatakan gunung para wali), dan al-Judhi (gunung ini dekat sungai Dajlah, dimana ada suatu desa tempat perahu nabi Nuh berlabuh ketika banjir tufan).

Nabi Ibrahim hanya bertugas meletakan dasar-dasarnya seperti yang diperintahkan Allah Swt. Sedangkan para malaikat membantu Ibrahim AS. dan Ismail AS. dalam menegakkan Ka’bah, sehingga berdiri kokoh, sebagaimana yang direncanakan.

Para ahli sejarah sering mengadakan penelitian tentang pembangunan Ka’bah yang dilakukan Ibrahim AS. Namun hasilnya tidak pernah memuaskan, karena apa yang dilakukan beliau merupakan mu’jizat Allah Swt. bagi beliau. Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an surat Ibrahim yang berbunyi:

???????? ?????? ?????????? ???? ??????????? ??????? ?????? ??? ?????? ?????? ???????? ???????????? ???????? ??????????? ?????????? ????????? ?????????? ???? ???????? ??????? ?????????? ????????????? ???? ???????????? ??????????? ??????????? (37)

Artinya ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati umat manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rezeki buah-buahan, agar supaya mereka bersyukur.”[2]

Setelah selesai merampungkan pembangunan, Nabi Ibarahim mendo’akan keturunannya yang tinggal di Makkah dan orang mukmin yang tinggal di dalamnya agar mendapatkan kebaikan, serta kecukupan dari segi kebutuhan makanan dan buah-buahan (tsamarot) sebagai rizki bagi mereka.

Dengan langkah berat, Nabi Ibrahim meninggalkan anak dan isterinya menunju Palestina (al-Quds). Ternyata do’a Nabiyullah Ibrahim terbukti pada zaman sekarang ini. Orang-orang mukmin benar-benar menikmati do’a dari Abul Anbiya’ tersebut, nabi Ibrahim AS. Namun, segala kenikmatan yang ada sekarang, seperti kemudahan rizki (makanan, minuman, buah-buahan), serta segala fasilitas ibadah, tranpormasi, informasi serta akomodasi, adakalnya merupakan istidroj (nglulu), atau sebuah ujian. Sebab, sering kali manusia lupa kepada Tuhan manakala dikaruniai banyak kenikmatan duniawi. Akan tetapi, adakalanya sebaliknya. Semakin banyak karunia Tuhan semakin rajin beribadah dan meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kepada-Nya. Jika masyarakat Makkah dan pemukimnya tidak bisa menjaga amanah-Nya dengan sebaik-baiknya, bahkan mengotori tanah haram dengan beraneka ragam kemaksiatan dan kedholiman, maka suatu saat akan terjadi petaka. Dan ini sudah pernah terjadi. Yaitu ketika Allah menutup mata air Zam-zam pada masa Jurhum.

Rumah Allah yang begitu sacral benar-benar memberikan kebaikan bagi para penghuninya. Sebagaimana  bangunan lain, baitullah juga sering direnovasi. Pada masa pemerintahan Abdullah Ibn Zubair, biaitullah pernah terbakar, sehingga kondisinya tidak indah dipandang. Abdullah Ibn Zubair berusaha merenovasinya dengan sebaik-baiknya. Adak e-unikan, karena pada masa Abdullah Ibn Zubair itu, pintu baitullah menjadi dua. Pintu pertama sebagai tempat masuk (sekarang), dan yang kedua didekat Hijir Ismail (tempat keluar).

Tidak lama kemudian, pintu dekat Hijir Ismail itu ditutup oleh Yusuf al-Hajjaj al-Tsaqofi, karena alasan politik. Sejak itu, para ulama’ memberikan nasehat kepada para pengguasa agar tidak mudah merubah baitullah, karena bisa mengurangi haibah (wibawa). Pesan itu disampaikan oleh Imam Malik ra, kepada pemerintah waktu itu agar tidak sembrono terhadap baitullah.

Ada sebuah kisah yang belum jelas asal usulnya, bahwa tempat bekas pintu yang ditutup oleh Yusuf al-Tsaqofi merupakan tempat yang mulia (mustajabah). Konon, tempat itu merupakan tempat yang paling mulia. Tidak dipungkiri, semua tempat disekitar baitullah merupakan tempat mulia. Justru, orang lupa bahwa multzam (antara pintu baitullah dan Hajar Aswad) merupakan tempat yang digunakan Nabi Saw, sahabat, malaikat, serja jin dan para kekasih Allah (auliya’), mencurahkan isi hatinya kepada Allah Swt. Jadi, tidak salah jika mengatakan tempat bekas pintu keluar itu mulia, tetapi salah jika menjadikan tempat itu lebih khusus, karena Nabi Saw mencontohkan bahwa multazam itulah tempat dikabulkan do’a. Walhasil, semua tempat disekitar baitullah itu merupakan tempat istimewa disinya untuk mengintip Allah dari celah-celah baitullah.

 


[1] . Lima gunung tersebut adalah, Tourisina, Hira’ Tourizita,  Qubais, Labanan, dan al-jud. Lihat al-Fasi, 151.

[2] . (QS Ibrahim : 37)

One Response so far.

  1. Williams Vicknair mengatakan:

    I simply want to say I am just new to blogging and site-building and actually liked you’re page. Almost certainly I’m likely to bookmark your blog post . You amazingly come with good articles. Kudos for sharing with us your blog site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook