Posted by Abdul Adzim Irsad On Februari - 11 - 2016 0 Comment

umrah rajabSetiap memasuki bulan Rajab selalu ada orang-orang yang usil dengan mengatakan “puasa rajab itu bidah”, bahkan ada yang tidak segan-segan menyesatkan orang yang puasa sunnah Rajab dengan di ancam bakal masuk Neraka. Mestinya, bagi orang yang tidak puasa, karena berpendapat dilarang, janganlah melakukan puasa Rajab. Dengan tidak mengusik orang-orang yang sedang melaksanakan puasa Rajab. Karena sesungguhnya, ini bukan perkara usuliyah (dasar) melainkan furuiyah (cabang). Mempermasalahkan masalah puasa Rajab, sepertinya kurang pekerjaan. Orang yang cerdas itu, orang yang bisa menerima sebuah perbedaan, dan mecari titi temunya. Karena memang Allah SWT menciptakan manusia berbeda, tujuan utamanya untu saling mengenal, bukan saling menyalahkan, dan bukan saling menyesatkan.

Tetapi jika ada yang melakukan puasa, karena memiliki dalil yang bersumber dari Rosulullah SAW, bahkan itu dikemukakan oleh ulamaulama, maka itu sudah cukup untuk dijadikan pijakan. Toh, puasa itu manfaatnya sangat besar baik untuk kesehatan, maupun untuk membangun mental dan pribadi. Beda pendapat itu sudah biasa, yang tidak biasa adalah orang yang biasa menyalahkan orang yang biasapuasa sunnah Rajab.

Mengutip pernyataan bijak, KH Jamhuri Asbar Lc. MA, seorang kyai lulusan Umm Al-Qura University beliau mengatakan:” Ber-husnuzhon-lah kepada saudarasaudara kita yang tidak mengamalkan puasa Rajab/Sya’ban karena keyakinan mereka khawatir padd bid’ah. Dan ber-husnuszhon-lah kepada saudara-saudara kita yang mengamalkan puasa Rajab/Sya’ban karena keyakinan mereka akan anjuran dan kesunahannya.

Sungguh tdk ada puasa yang diharamkan syariat secara qoth’i (pasti) kecuali puasa 2 hari raya dan ayyamut Tasyriq(11-12-13 Dzulhijah). Dan.. Sungguh ibadah sosial (menjaga ukhuwah) lebih afdol dari ibadah fardiyah (indifidual) tathouwwiyah (sukarela).

Barangkali, sangat menyejukkan pendapat ini, biarkan jutaan umat Islam Indonesia yang mengikuti pendapat para ulama ketika menunaikan puasa Sunnah Rajab. Jangan usil kepada orang yang berpuasa. Orang yang berpuasa sunnah Rajab, juga tidak akan memaksa mengikuti puasa Sunnah Rajab.

Terlepas dari perbedaan pendapat seputar puasa sunnah di bulan Rajab. Barangkali akan lebih arif, jika bulan Rajab itu dipergunakan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT. Pada momentum bulan rajab ini, sebagian besar umat Islam Nusantara menunaikan ibadah umrah. Mereka memiliki keyakinan bahwa bulan ini adalah waktu istimewa, dimana Rosulullah SAW melakukan perjalanan spiritual dari Makkah menuju Masjidil Aqsa. Tidaklah berlebihan jika pada bulan Rajab, bisa napak tilas perjalanan Rosulullah SAW yang suci.

Jika ada orang yang berpendapat bahwa umrah bulan Rajab itu tidak ada dalilnya, alias bidah. Maka, bisa dikatakan kepadanya, bahwa tidak ada satupun ayat Al-Quran dan hadis Rosulullah SAW, juga tidak ada pendapat ulama yang terpecaya melarang Ibadah Umrah di Bulan Rajab. Kalau ada yang melarang bahwa Umrah di bulan Rajab itu bid’ah (mengada-ngada), maka orang tersebut kurang kerjaan alias mengada-ngada. Umrah bisa dilakukan kapan saja, yang penting tidak pada hari waktu ibadah haji. Umrah itu akan menjadi istimewa, jika benar-benar niat karena Allah SWT.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook