Posted by Abdul Adzim Irsad On Maret - 21 - 2012 1 Comment

Syeh Husain bin Abd.RahmanPalembang merupakan gudangnya ilmu dan ulama di nusantara, banyak ulama, pemimpin dan politisi, sampai cendikiawan lahir di Palembang. Beberapa ulama besar yang menorehkan sejarah di kota suci Makkah rupanya dari Palembang. Sayyid Muhsin bin Ali al-Hasani Al-Masawi al-Syafii merupakan pendiri dan perintis Madrasah Darul Ulum al-Diniyah berasal dari tanah Wong Kito. Sekolah Formal EducationIni satu-satunya peninggalan ulama-ulama nusantara yang pernah Berjaya di Makkah al-Mukarramah. Sebuah Madrasah yang hampir semua lulusannya menjadi ulama dan tokoh hebat di tanah air, dan Malaysia, Singgapura, Thailand. Di Makkah terdapat sebuah perkumpulan (organisasi orang-orang yang berasal dari Palembang) yang dirintis oleh Sayyid Muhsin Al-Falanbani. Sangat tepat jika Sayid Muhsin Bapak Pelopor Pendidikan Indonesia di Tanah Haram.

 

            Nabi Saw pernah menuturkan:’’ barangsiapa merintis jalan (sunnah) kebaikan di dalam agama islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya, juga akan memperoleh pahalanya orang yang mengamalkan setelahnya tanpa berkurang sedikitpun’’ (HR Muslim). Ide mendirikan sekolah formal di Makkah telah melahirkan ratusan santri dari berbagai belahan dunia, khususnya nusantara. Hampir semua pesantren yang ada di Indonesia di dirikan oleh santri Makkah, begitu juga KH Ahmad Dahlan setelah mengenyam pendidikan di tanah Suci Makkah, kemudian mengadopsi pendidikan yang ada di Makkah, seperti; Madrasah Al-Falah, Madrasah al-Soulatiyah, dan Madrasah Darul Ulum al-Diniyah. 

 

Di antara tokoh tokoh penting dari Palembang yang memiliki penggaruh besar adalah Syeh Abdurrahman Al-Falanbani. Bagi komunitas keturunan Palembang, satu sama lainnya saling mengenal. Biasaya, nama terahirnya selalu di ahiri dengan ‘’al-Falanbani’’ yang artinya dari kota Palembang. Semua ulama al-Falanbani bermadhabkan al-Syafii, termasuk Syeh Abdurrahman.

 

Banyak sekali keturuan Palembang yang sudah menjadi warga Arab Saudi, bahkan menjadi tokoh dan ulama di Arab Saudi, khususnya di Makkah. Di Universitas Umm al-Qura Makkah, banyak sekali wajah-wajah Indonesia yang menjadi dosen, pegawai, bahkan menjadi ketua juruan. Ternyata, nama mereka ber-ahiran ‘’al-Falanbani’’ al-Banjari’’ dll. Orang yang akan dibahas oleh penulis salah satu dari ulama’ Indonesia yang bermukim di Makkah yang memiliki karakter unik, menarik sebagai seorang ulama dan keturunan bangsawan Majapahit.

 

Nama beliua adalah Muhammad Hussain Abdul Ghani bin Abdul Rahman bin Adam al-Falamban (Palembang). Dan berakhir dikaitkan dengan raja, raja-raja Jawa  (Majapahit). Berarti, beliau memiliki darah biru, dari penguasa tanah Jawa waktu itu. Beliau  lahir di sebuah kota Palembang, di pulau Sumatera, pada malam Rabu (06/09/1319 H).

Di dalam beberapa literatur, di samping nama beliau di ahiri dengan ‘’al-Falanbani’’, juga di tambah dengan ‘’al-Idonesi’’ yang atinya orang Palembang yang berwarganegara Indonesia pada waktu itu. Tetapi, se-iring dengan perkembangan waktu, banyak di antara ulama asal nusantara lebih betah di Makkah, dan meninggal di Makkah.

 

Pendidikan beliau berawal dari ketekunan dan ke-ihlasan orangtuanya yang seorang Imam Masjid di desanya, yang dikenal sebagai seorang ualama’ yaitu Syeh Abdul Ghani. Syeh yang satu ini belajar al-Qur’an dan menghafalkanya atas bimbingan orangtuanya. Sudah menjadi tradisi ulama, selalu mengawali pendidikan membaca dan menghafal al-Qur’an sejak usia dini. Ini persis dengan pendapat Imam Nawawi di dalam kitab ‘’al-Majmu’’, dimana beliau mengatakan:’’ bagi ulama salaf, mereka tidak pernah mengajarkan hadis dan fikih, kecuali bagi orang yang telah menghafal al-Qur’an.’’[1]

 Oleh karena itu, semua ulama selalu mengajarkan al-Qur’an sejak usia dini, sebelum mengenal ilmu yang lain. Di Indonesia, di desa-desa anak-anak belajar al-Qur’an dengan duduk besila mengelilingi guru ngaji al-Qur’an. Biasanya, pendidikan membaca al-Qur’an itu di lakukan di Masjid atau di surau/Musolla. Menurut adat kaum muslim, anak yang telah berumur 7 tahun, harus dipisahkan dari ibunya. Anak-anak bermalam di Suarau/Musolla, sambil belajar ngaji al-Qur’an pada seorang guru agama yang sekaligus guru al-Qur’an.[2] Begitulah tradisi yang berkembang waktu itu, dan ini menjadi bukti betapa besar perhatian umat islam waktu itu terhadap pendidikan membaca al-Qur’an.

 

Kembali pada Syeh Abdurahman, beliau pernah menjadi Imam Sholat, ketika usianya belum memasuki 12 tahun. Karena memang beliau benar-benar fasih membaca al-Qur’an, sebagaimana yang ajarkan oleh Ayahandannya. Ini juga menjadi bukti, bahwa beliau sejak kecil telah memiliki kemampua dan kekuatan hafalan yang luar biasa, sebagaimana ulama-ulama terdahulu. Untuk melengkapi ilmunya, beliau belajar ilmu tata bahasa Arab Serta ilmu agama kepada Syeh Husain bin Abdullah seorang ulama’ terkemuka dan alim di daerahnya kala itu.

 

Pada (29/8/1330 H) beliau ingin menyempurnakan pendidikan agamanya di kota sakral Makkah. Sebab, makkah waktu itu memang memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan santri-santri yang berasal dari Nusantara, seperti; Palembang, Mandailing, Padang, Aceh, dll). Sesampainya di kota suci Makkah, beliau langsung masuk di sekolah favorit Makkah, yaitu Madrasah al-Sholatiyah pada tahun 1331-1333 H. Kendati seolah di pendidikan formal, beliau tidak lupa mengikuti halakoh-halakoh para ualam hebat yang mengajar di Masjidilharam, serta di kota suci Makkah pada umumnya. Bahkan, beliau juga berkeliling dari satu tempat ketempat yang lain untuk melengkapi ilmu dan pengetahuanya dari ulama-ulama hebat dunia.

 

Guru-guru beliau yang mampu membentuk karakter serta memberikan dan mewarnai hidup Sang Begawan dari Palembang ini, di antaranya sebagai berikut:

1-      Indoenesia: Syeh Abdul Ghoni al-Falanbani (Palembang), Syeh Husain bin Abdullah.

2-      Hijaz, Mesir, dan Syam di antaranya ialah Syeh Muhammad Ali bin Husein al-Maliki, Sayyid Abbas bin Abdul-Aziz al-Maliki, Syeh Muhammad Mukhtar Atorud, Syeh Muhammad Uhid Idris al-Bughurie (Bogor), serta dua orang ahli Hadis (Syeh Umar Hamdan Mahrusi dan Sheikh Abdul Baqi al-Mulla Ali Mohammad al-Anshari) dan Syeh Abdul Qadir al-Shilbi dan Mohammad Zaki Bin Ahmad al-Barzanji al-Madani, Syeh Abdul Sattar al-Dahlawi (India), Syeh Ali Daker al-Dimask, Syeih Ibrahim al-Marowi al-Baghdadi, Syeh Habibullah al-Shinqtie, dan al-Syikhoh Amatillah binti Abdul Ghani al-Dahlawi, Syeh Isa Rawas dan Syekh Abdul Saber Qadir al-Mendili, Syeh Ahmad Sumbawa dan putranya  Syeh Omar, Syeh Abdullah Hadawi, Syeh Omar al-Bali, Syeh Usman Sarwaq, Syeh Abdullah  Husain al- Farisi, Syeh Yousef al-Dajuwi, Sheikh Bakheet al- al-Mutii.

 

Sebagai seorang ulama’ beliau memiliki kewajiban untuk menularkan ilmu dan pengetahuanya kepada santri-santrinya. Oleh karena itu beliau mengajar di Masjidilharam, tepatnya  antara  al-Qutbi Gate dan al-Ziayadah Gate. Di kediamanya, beliau juga membuka pengajian umum bagi santri-santrinya tepatnya di ‘’ al-Hayyi al-Amir al-Falak’’ Makkah al-Mukarramah.

 

Berdasarkan data-data yang terpercaya, beliau memiliki kegiatan mengajar di beberapa tempat, sebagaimana penjelasan berikutnya:

1 – Sebagai pengajar resmi di Masjidilihramm, pada (13/10/1341- 15/1/1347 H).

3-      Mengajar di Masjidilharam pada 6/1/1347 Masjidilharam 1368 H.

4-      Mengajar di Madrasah ditingkat Aliyah dan Tsanawiyah di Madrasah ‘’Darul Ulum al-Diniyah’’ sebuah lembaga pendidikan formal yang dirikan oleh Syeh Yasin al-Fadani dan Sayyid Muhsin Bin Ali al-Masawi.

5-      Di tunjuk sebagai wakil kepada Madrasah Darul Ulum, pada tahun 1357 H.

6-      Seorang guru dalam masa percobaan selama satu tahun (1367 H).

7-       Guru di sekolah, panti asuhan (Daru al-Aitam) pada tahun 1368 – 1371 H.

8-      Mengajar di Madrasah al-Rahmaniya dari tahun 1371/1/7 – 1381/01/08 H.

9-      Menjadi Guru di Madrasah al-Ibtidaiyah (Tingkat Dasar), pada tahun 1381 H- 27/4/1383 H, sampai menjelang pension.

10-   Beliau juga pernah menjadi pengawas ujian lisan dan koreksi, untuk menguji sertifikat utama untuk tahun akademik 1372-1373 di komite e diamati dalam pedoman untuk ujian sertifikasi di 1379 H.

Kontribusi Beliau  Ilmiah

1-      Beliau ikut serta berkontribusi pada pembentukan sekolah Darul Ulum agama (komunitas sekolah swasta Banin Bahasa Indonesia) terpilih sebagai anggota dewan pengelolaan.

2-      Berkontribusi pada pembentukan sekolah dasar perempuan pada tahun 1362 H, dan ditutup pada tahun akademik 1422-1423 H.

3-      Mendirikan Madrasah Swasta Bagi wanita, pada tahun 1367 H.

 

Di antara santri-santri beliau sebagian besar dari Asia Teggara, dan dunia islam pada umumnya. Di antara santri-santri beliau antara lain; Syehh Mohammad Yassin al-Fadani, dan Dr Abdul Wahab, Syeh Sulaiman Abu Nashr al-Din Bille, Syekh Abdul Hamid, Patani, dan lain-lain.

 

Karya Ilmiyah

Ciri khas seorang ulama dan inteletual adalah peninggalan ilmiyah. Habib Sholih al-Idrus pernah mengatakan:’’ keramat hakiki seorang ulama adalah karaya tulis’’. Ulama terdahulu telah membuktikan kehebatan mereka dengan menulis karya ilmiyah, sekaligus peninggalan otentiknya. Dalam dunia akademis, seorang mahasiswa atau dosen tidak dikatakan hebat atau berhasil jika belum menulis sebuah karya ilmiyah. Seorang dosen tidak hanya menulis untuk keperluan kepangkatan, tetapi lebih pada memberikan manfaat kepada banyak orang.

 

Ulama’ yang satu ini memang tidak banyak menulis karya ilmiyah, tetapi gagasan-gagasan beliau begitu cermerlang. Kendati tidak memiliki karya tulis, tetapi beliau menjadi seorang pengajar, sebagaimana Nabi Saw ajarkan:’’ jadilah kalian seorang muallim (pengajar agama).’’ Kelebihan yang beliua miliki ialah, menulis catatan-catatan penting pada buku-buku yang beliau buat ngaji bersama-sama santrinya. Beliau juga ikut serta di dalam men-tashih kitab tajwid  dan Usulu al-Tilwah yang berbahasa Melayu.

Beliau meninggalkan warisan perpustakaan yang cukup besar dan lengkap dengan berbagai ilmu agama dan cabang-cabanganya. Kitab-kitab beliau saat ini masih bagus dan utus di kediaman putranya Dr. Hasan Palembang, dosen Usul Fikih di King Abdul Aziz University- Jeddah. Beliau meninggal dunia pada  hari Sabtu,( 14/7/1399 H), pada usia 80 tahun, dan makamkan di pemakaman Ma’la Makkah al-Mukarramah. Beliau meninggalkan enam putra dan 6 putri.

[1] . Syeh Muhammad al-Ahdal.2003. Al-Ahlaku al-Zakiyah fi Adabi al-Tholib al-Mardiyah(Maktbah al-Malik Fahad al-Wataniyah-Suadi). hlm 117

 

[2] .Mohammas Yunus. Prof.1979. Sejarah Pendidikan Islam (Penerbit Mutiara Jakarta) hlm 34

One Response so far.

  1. Jospeh Midthun mengatakan:

    I just want to say I’m newbie to blogging and truly savored your blog. Almost certainly I’m want to bookmark your blog . You definitely come with exceptional stories. Appreciate it for revealing your web page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook