Posted by Abdul Adzim Irsad On April - 19 - 2012 1 Comment

Istri SholihahBanyak sudah ayat al-Qur’an dan hadis Nabi Saw menginformasikan tentang perintah membentuk keluarga, sebagaimana Nabi contohkan. Sudah jelas dan gamblang, tujuan utama membina keluarga ialah hidup rukun, tentram, damai, bahagia nan sejahtera, tercukupi kebutuhan lahir dan batin. Para ulama‘ salaf  juga telah banyak memberikan tuntunan (cara) tentang cara membentuk keluarga sakinah dan mawaddah. Syeh Muhammad Ali Al-Shobuni menulis buku khusus seputar penikahan. Buku menceritakan panjang lebar bagiamana memposisikan diri sebagai seorang suami atau istri secara proposional, sesuai aturan dan tuntunan agama Islam.

 

Makna keluarga adalah sebuah komunitas terkecil dalam kelompok masyarakat yang terdiri bapak, ibu, dan anak atau disebut juga  dalam bahasa latinnya” (Pure family syistem). Jadi bukan yang terdiri dari  bapak Ibu kakek, cucu dan keponakan, atau disebut juga dengan  (Extended family syistem). Untuk terbentuknya sebuah keluarga yang bahagia, harmonis penuh pengertian diperlukan tahapan-tahapan yang harus ditempuh, seperti (al-Taaruf), khitbah (tunangan), Nikah.

Setelah melalui tahapan-tahapan di atas, maka resmikah menjadi suami istri. Ketika Nabi Saw menjadi pegawai tetap Khodijah r.a, tahapan-tahapan ini juga dilalui. Dan, inilah yang membedakan antara manusia dan dengan binatang dalam memenuhi kebutuhan instingnya. Dengan kalimat Allah semuanya menjadi halal serta pernikahannya menjadi berkah, isteri sholehah, dan anak-anaknya  sholeh dan sholehah.

Melihat Lebih Lebih dekat Keluarga Nabi Saw.

Setelah menikah, maka terbentukah yang namanya keluarga. Tujuan berkeluarga sangat mulia dan luhur, disamping memenuhi kebutuhan jasmaninya. Isteri adalah sosok yang paling menentukan untuk tercapainya sebuah tujuan bahtera rumah tangga. Istri adalah seorang ibu yang sekaligus pendidik sejati dan membentuk kepribadian seorang anak sholeh yang bisa mendo’akan orang tuanya dikemudian hari.

Syeh Ali Tantowi mengatakan kesuksesan suatu bangsa atau  masyarakat ditentukan oleh baik tidaknya seorang wanita. Jika seorang wanita itu rusak maka akan menjadi mala petaka bagi masyarakat serta bangsa dan Negara. Sudah banyak contohnya, bagaimana masyarakat yang hancur disebabkan oleh kaum wanita yang keluar dari kodratanya.

Al-Ghozali dalam bukunya “Assunah An abawiyah baina Ahlil Fiqh wal Hadist ” mengatakan bahwa  isteri adalah  “ruh’’ dalam suatu rumah tangga”.Jadi rumah tangga tidak akan bisa hidup dengan harmonis, bahagia, tenang jika kehilangan ruh (ibu). Semua yang ada dalam rumah adalah tanggung jawab seorang isteri. Seorang istri juga diperbolehkan untuk keluar rumah selama bisa menjamin keluarga dan bisa menjaga masa depan keluarga.

Ketika Nabi hidup bersama dengan istrinya Khadijah ra. Lisan Nabi Saw tidak pernah menyakiti Khodijah dengan kata-kata kotor nan menyakitkan. Tangan beliau Saw juga tidak pernah berbuat kasar, terhadap pasangan hidupnya. Nabi Saw menyadari bahwa Khodijah adalah mitra hiudpnya di dalam menjalani semua aktifitas sehari-hari. Nabi Saw merasa tenang dan damai ketika berada di sisi sang istri. Khodijah-pun mampu menjadi istri yang sempurna. Masing-masing menemukan cinta dan kasih sayang, dibawah naungan al-Qur’an.

(QS Al-Rum:21) yang artinya:’’ Dan dari tanda-tanda kebesaran  Allah  adalah  telah di jadikan dirikamu dari jenismu sendiri  berpasang-pasangan  untuk  tinggal kepadanya, dan di jadikan di antara kamu sekalian  kecintaan dan kasih sayang, dan ini adalah tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.

Baru setelah menikah, dimana usianya telah benar-benar matang, Allah Swt percaya, bahwa Khodijah ra akan memberikan segalanya untuk Nabi Saw. QS Al-Arum (21) begitu indah, di dalam mengambarkan sosok laki-laki (suami) sebagai seorang pengembara yang membutuhkan kedamaian (rumah) serta pendamping (istri). Ketika Nabi Saw binggung didatangi Jibril, sang istri memberikan dorongan, nasehat dan menyelimuti, serta mencari tahu apa yang sedang terjadi. Begitulah istri solehah yang sebenarnya.

Ketika Nabi Saw menghadapi kecaman, cacian, serta ancaman orang-orang dari orang kafir Makkah. Disampingnya berdiri seorang wanita cantik, cerdas, kaya, serta penuh dengan cinta. Khodijah ra menjadi tempat berteduh, setiap ucapanya menyejukan hati. Khadijah selalu seiap setiap saat dan waktu mendampingi suaminya kapan saja dan dimana saja berada. Nabi Saw benar-benar memperoleh ketenangan batin, serta semangat di dalam berjuang menegakkan agama Allah Swt. Semua kesedihan, kesusahan, duka, tidak dirasakan sendiri, tetapi ada seorang wanita setia menjalani roda kehidupan, dibawah bimbingan-Nya.

Begitulah hakekat sosok pendaping hidup yang sebenarnya. Pasangan hidup (istri) adalah bagian dari sel suami, sudah barang tentu memiliki kesamaan di dalam menjalani bahtera rumah tangga. Jika saat ini banyak wanita (istri) yang tidak setia, banyak menuntut terhadap suami, bahkan ada yang minta diceraikan karena sang suami kurang memberikan kebutuhan financial, yang kadang berlebihan. Hal ini tidak pernah terjadi pada sosok wanita kelahiran Makkah yang bernama Khodijah r.a. Justru Khodijah itu memberikan segalanya untuk masa depan agama Allah Swt. Visi dan misi Khadijah sama dengan Nabi Saw. Nyaris, tidak pernah ada pertengkaran ketika Nabi Saw membina keluarga dengan Khadijar ra, begitulah profil keluarga sakinah di bawah naungan Allah Swt.

One Response so far.

  1. Delpha Fridley mengatakan:

    I simply want to tell you that I’m beginner to blogs and truly enjoyed your website. More than likely I’m likely to bookmark your website . You absolutely have outstanding well written articles. Thanks for sharing with us your blog.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook