Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 4 - 2017 0 Comment

cropped-Mbah-Maemun-Zubair.jpgIlmu itu menurut jowo, angel golekane tetapi iso ketemu. Para ulama mengatakan “ilmu itu tidak bisa diperoleh dengan rohattul jasad”, tetapi dengan sungguh-sungguh. Biasanya, orang Arab sering memotivasi dengan syair-syair atau kata-kata mutiara, seperti “barang sapa yang bersungguh-sungguh, pasti sukses”. Tidak cupup, ulama tasawuf mengajarkan “barangsiapa yang sering bangun malam (pateng moco wirid lan tahajud), maka uripe mulia”.

Ilmu itu ternyata tidak sekedar modal otak encer, tetapi harus dapat restu orangtua dan juga restu guru (pembimbing) yang bisa di anut dan diturut. Mencari itu juga harus jelas sumbernya, bukan menurut terjemahan atau google, tetapi ilmu itu separauh dari agama. Maka, salah mencari Ilmu itu, maka akan tersesat. Dalam bahasa akademis itu, ilmu itu harus linier, kalau bahasa hadisnya itu harus muttasil (nyambung).

Agar semakin tajam, maka ilmu itu harus di asah, caranya bukan banyak diskusi atau mengajarkan. Lebih dari itu, cara merawat ilmu agar supaya ilmu itu semakin bercahaya, harus kuat tirakat (rajin puasa) dan sholat sunnah, seperti; sunnah rowatib, membaca Al-Quran, sholat malam. Jangan lupa, rajin menjaga panca indra dari hal-hal yang dilarang Allah SWT. Pastikan, makanan dan minuman yang dikonsumsi itu harus halal 1000 %, karena itu juga akan memberikan penggaruh yang signifikan terhadap kecerdasan intelektual dan spiritual seseorang.

Nah, kali ini, akan menceritakan sesok ulama yang sangat hebat, yaitu Imam Al-Syafii. Suatu ketika, Imam Syafii merasakan kejanggalan terhadap kecerdasanya. Biasanya, mampu menghafal banyak rupanya, kemampuan hafalanya menurun.

Sebagai murid yang baik dan taat terhadap gurunya, Imam Syafii segera datang kepada gurunya. Konsultasi masalah ruhani dan spritulanya yang terganggu kepada Syekh Waki’.
Cerita itu di tulis dalam sebuah syair pendek yang artinya “aku mengeluhkan seputar lemahnya kemampuan hafalanku. Kemudian Syekh Waki’ menganjurkan diriku agar menjauhi maksiat. Syekh Waki mengabarkan bahwa ilmu itu adalah cahaya Allah SWT, dan cahaya Allah itu tidak akan masuk pada orang yang bermaksiat. Makanya, banyak sekali orang yang buta, tetapi mata batinnya sangat tajam, karena memang tidak pernah bermaksiat mata kepada Allah SWT.

Rupanya, Syekh Waki’ merasakah kesedihan muridnya yang sedang gundah gulana karena kemampuan hafalannya menurun. Syekh Waki sudah mengerti obat mujarabnya. Rupanya, penyebab terjadinya turunnya hafalanya, karena Imam Syafii itu pernah melihat betis seorang wanita. Inilah yang menjadi penyebab utamanya.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook