Posted by Abdul Adzim Irsad On Januari - 30 - 2016 0 Comment

1929Umrah itu salah ibadah yang sangat menyenangkan, dan penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Tidak kalah menariknya, ibadah umrah itu salah satu perjalanan ruhani yang penuh dengan makna historis. Setiap langkah kaki di Madinah, dan di Makkah memiliki hubungan langsung dengan Rosulullah SAW, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan juga tempat turunya kitab suci Al-Quran. Apalagi, tujuan umrah itu mengunjungi Baitullah SAW, tempat sakral yang usianya ribuan tahun, sekaligus menjadi pusat peradaban manusia, dan juga menjadi pusat kosmis.

Dalam pandangan ulama bahasa, umrah menurut bahasa berarti Ziarah (berkunjung). Sedangkan menurut pengertian etimologis yaitu berziarah mengunjungi kota suci Makkah (baitullah) dengan tujuan khusus ibadah (al-Nusuk) yaitu thowaf dan sai dan tahallul. Berdasarkan pengertian di atas, sudah sayogyanya jika berada di Makkah banyak ber-thowaf, dan bermunjat kepada Allah SWT. Sedangkan saat berada di Madinah, harus banyak ziarah ke Rosulullah SAW (bersholawat), sholat di Raudhah, dan juga ziarah ke Makam Baqi‘.

Umrah itu bisa dilakukan sewaktu-waktu, dan yang paling afdal adalah bulan suci Ramadhan. Rosulullah SAW pernah bersabda:”umrah pada bulan ramadah pahalanya ibarat haji bersamaku” (HR Bukhori dan Muslim). Atas dasar hadis inilah, umat islam dari belahan dunia berlomba-lomba umrah pada bulan Ramadhan. Di sisi lain, bulan menghabiskan malam ramadhan dengan tarawih (qiyam ramadhan), membaca Al-quran, sangatlah istimewa. Tidak ada ibadah yang lebih istimewa dan mulia, seperti ibadah umrah di bulan suci Ramadhan.

Ibadah umrah itu harus dimulai dari tempat tertentu (mikot makani). Yang di maksud dengan mikot makani adalah sebuah tempat yang memulai mengunakan ihram dan berniat di dalamnya. Miqotnya penduduk Makkah dan sekitarnya, yaitu keluar dari tanah haram, bisa ke Ji’ranah, atau Tanim (Masjid Aisyah).

Sedangkan jamaah umrah Indonesia yang langsung ke Makkah bisa mengambil Miqot di Yalamlam. Ada juga yang berpendapat bisa mengambil Miqot dari Jeddah (Bandara King Abdul Aziz- Jeddah) sesuai dengan fatwa MUI). Hanya saja fatwa MUI sangat lemah, sehingga banyak yang mempesolakan.. Sedangkan yang menuju ke Madinah terlebih dahulu mengambil Miqatnya dari Bir Ali Madinah.

Usai mengambil Miqat, dilanjutkan dengan niat yang dibarengi dengan talbiyah kepada Allah SWT. Selama dalam perjalan menuju Makkah Al-Mukarramh, hendanya memperbanyak talbiyah dan berdzikir kepada Allah SWT. Dalam kondisi ber-ihram, hendaknya menjaga diri dari hal-hal yang bisa menjadikan umrah tidak sempurna, seperti; memakai wewangian, memotong kuku, mencukur kumis dan rambut serta memakai celana dalam hingga rampung melaksankan sa’i. Selanjutnya tahallul.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook