Posted by Abdul Adzim Irsad On November - 9 - 2015 0 Comment

zakatIbadah itu dibagi menjadi dua, ibadah qoshirah dan ibadah mutaadiyah. Ibadah qoshirah jenis ibadah yang terkait langsung dengan kepuasaan ruhani setiap pribadi masing-masing, seperti; sholat, puasa, dan haji.  Allah SWT memberikan balasan surga kepada orang yang menunaikan ibadah haji mabrur. Rosulullah SAW bersabada “tidak ada balasan yang tepat bagi ibadah haji mabrur, kecuali surga (HR.Bukhori).

Sementara ibadah muattadiyah sebuah proses ibadah yang terkait dengan kemaslahan social (umat). Artinya, orang melaksanakan ibadah semata-mata karena Allah SWT, tetapi yang merasa nikmat dan puasa adalah orang lain, seperti; zakat, infak dan sedekah, menyantuni anak Yatim. Rosulullah SAW pernah bersabda” saya dan penyantun Anak Yatim di surga begini (mengisaratkan dua jarinya)” (HR Bukhori). Di samping masuk surga, Rosulullah SAW menemaninya.

 

Zakat itu salah satu jenis ibadah maliyah yang menjadi sarana penting untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Syekh Dr. Muhammad Bakr Ismail mengatakan “zakat merupakan ibadah maliyah yang dapat dijadikan oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Sang Kholiq. Jika seorang hamba menunaikannya dengan sempurna, sesuai dengan aturan yang benar, ikhlas, hanya mencari ridho Allah SWT, tidak ada maksud ingin dipuji orang, maka akan menjadi sebab terbebasnya dari adzab api Neraka, dan masuk kedalam Surga, sebagaimana telah ditegaskan di dalam Al-Quran dan hadis”.[1]

Syekh Al-Dahlawi mengatakan bahwa ada dua kemaslahatan (1) Kemaslahatan untuk melatih diri sendiri, karena harta berpotensi menyebabkan kekikiran. Barang siapa yang  membiasakan berbagi, berarti telah berusaha menghilakan sifit kikirnya (2) Kemaslahatan yang dirasakan oleh masyarakat (Negara), karena banyak masyarakat dalam suatu Negara yang amat membutuhkan. Orang islam mengeluarkan zakat itu karena perintah Allah SWT dan ajaran Rosulullah SAW.

Zakat juga satu rukun islam yang mendorong seseorang menjadi orang kaya adalah zakat. Orang diwajibkan mengeluarkan zakat dari sebagian harti dan penghasilanya. Dengan catatan sudah cukup mampu secara finansialnya (nisabnya). Untuk mencapi nisab (batasan mampu), seseorang harus mengerahkan semua kemampuannya, mulai tenaga dan fikiran. Ketika sudah cukup, maka wajib banginya untuk mengeluarkan sebagian dari penghasilanya yaitu 2.5 %.

Barangkali tidak ada ibadah yang lebih berat melebihi ibadah yang namanya zakat. Dan tidak ada balasan yang lebih berat melebihi orang yang tidak mengeluarkan zakat. Untuk itulah Rosulullah SAW berjanji kepada orang-orang yang rajin, tepat waktu, dan ihlas di dalam mengelola hartanya dengan baik, sesuai dengan aturan dan tuntunan Rosulullah SAW, maka hartanya semakin bertambah dan berkah.

Rosulullah SAW pernah bersabda “jagalah harta kalian dengan zakat “(HR Muslim). Dengan zakat, harta semakin berlimpah, berkah, dan dijaga oleh Allah SWT. Para penghuni neraka pernah ditanya,apa penyebab kalian masuk neraka? Mereka-pun menjawab “kami tidak menjalankan sholat dan tidak berbagi (berzakat) kepada orang-orang miskin”. Ayat ini mengisaratkan bahwa hubungan dengan Allah SWT bisa melalu sholat, sementara hubungan dengan sesama melalu ibadah social yang disebut dengan “mutaadiyah”.

Cukup banyak redaksi Al-Quran dan hadis Rosulullah SAW, seputar pentingnya zakat dan sholat, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya “laksanakan sholat dan tunaikan zakat”.  Hampir setiap ayat Allah SWT ketika menerangkan sholat, selalu dibarengi dengan masalah zakat. Seolah-olah Allah SWT ingin menjelaskan bahwa orang belum dikatakan sempurna ibadahnya kepada Allah SWT, jika belum memberikan sebagian dari apa yang Allah SWT berikan kepadanya untuk berzakat. Dengan demikian, zakat itu sebuah kewajiban bersama untuk mesejahterkan umat agar mereka makin kuat iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Pengertian Zakat.

Zakat berasal dari bahasa Arab yang artinya “membersihkan diri atau mensucikan diri”. Sedangkan menurut ulama fikih, zakat di artikan dengan kadar harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh muzakki (wajib zakat) kepada orang-orang yang membutuhkan (berhak menerima zakat) dengan syarat-syarat yang telah ditentukan dan disepakati sesuai dengan aturan syariat islam. Adapan jenis zakat itu meliputi “Zakat Mal dan Zakat Fitrah”.

Kriteria orang-orang yang mustahiq zakat (berhak menerima zakat) telah ditentukan oleh Alllah SWT sesuai dengan firman-Nya yang artinya “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS Al-Taubah (9:60).

Kriteria ini sekaligus menjadi rujukan utama, bahwa selain delapan orang di atas tidak diperkenakan menerima zakat. Dosa besar hukumnya, jika seseorang memiliki kemampuan yang cukup, kemudian memiskinkin diri agar bisa menerima zakat. Padahal, Rosulullah SAW berkata “tangan di atas itu jauh lebih baik dari pada tangan dibawah”. Dan orang muslim yang terhormat ialah, orang yang senantias berusaha dari tangan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bukan dari jerih payah orang lain.



[1] . Al-Fiqhi Al-Wadih min Al-Kitab wa Al-Sunnah, juz 1/464

.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook