Posted by Abdul Adzim Irsad On Juni - 18 - 2016 0 Comment

Al-QuranAl-Quran itu kalamullah. Sedangkan tulisan dengan beragam font yang tersusun rapi dalam mushaf itu kreasi manusia.  Al-Quran itu bukan biasa, tetapi langsung dari Allah SWT. Orang yang membaca, membawa, serta simpati terhadap Al-Quran akan mendapatkan pahala. Apalagi sampai menghafalnya dan menjaganya dengan baik, pasti akan mulya hidupnya. Lebih-lebih merenungi (tadabbur) terhadap ayat-ayat Allah SWT, selanjutnya di ampilkasikan dalam kehidupan sehari-hari baik keluarga, masyarakat dan bernegara.

 

Al-Quran itu sempurna, sementara manusia mashluk yang paling mulia tetapi masih penuh dengan kekuarangan. Manusia bisa mulya jika berteman dengan Al-Quran, walaupun hanya sekedara membawanya. Itulah ke-agungan kalamullah. Siapa yang mengagungkan kalamullah, berarti telah meng-agungkan Allah SWT. Siapa yang memulyakan Al-Quran berarti telah memulyakan Rosulullah SAW, karena budi pekerti Nabi itu adalah Al-Quran.

Al-Quran itu diturunkan pada bulan suci Ramadhan, tepatnya pada lailatul kodar yang nilainya lebih baik dari seribu malam. Jika dihitung, kebikan apapun yang dilakukan pada bulan suci Ramadhan itu dilipatganadkan. Di dalam kitab Risalah Al-Muawanah disebutkan amalan sunnah jika dilakukan pada bulan suci Ramadhan itu nilainya seperti wajib. Betapa mulyanya bulan Ramadhan.

Al-Quran itu diturunkan pada tempat yang sangat sacral yaitu Makkah dan Madinah. Ayat yang turun di Makkah disebut “ayat Makkiyah” dan yang turun di Madinah disebut “madaniyah”. Ayat itu diturunkan oleh Allah SWT kepada Mahluk yang paling agung budi pekertinya, paling istimewa bentuk fisik dan pribadinya, beliau  Rosulullah SAW dari suku paling mulia yaitu suku Qurais. Mmentum yang paling tepat saat awal-awal diturnkan ayat Allah SWT yaitu pada bulan suci Ramadhan, pada malam 17 Ramadhan ketika Nabi Muhammad SAW sedang tahannus (bertapa/mengasingkan diri) di Jabal Nur.

Kala itu Rosulullah SAW sedang bermunajat seorang diri setiap malam di Goa Noor, meminta dan bermunajat kepada Allah SWT agar diberikan petunjuk di dalam menghadapi masyarakat Makkkah. Behari-hari Nabi SAW memanjat gunung yang tinggi dan terjal, setiap malam beliau SAW munajat di Goa yang sempit hingga ahirnya Allah SWT turunkan Al-Quran surat Al-Alaq (1-5). Rupanya, jika ingin mendapatkan kemulyaan, maka harus mencontoh Rosulullah SAW, bersihkan hati dan fikiran, agar ayat Allah SWT tembus dan melekat pada jiwa manusia.

Oleh karena itulah para ulama menyarakan kepada orang yang sedang belajar ilmu agama atau belajar Al-Quran agar menjauhi tiga perkara sebagai berikut:

  • Jauhkan diri dari maksiat, khususnya terkait dengan pergaulan laki-laki dan wanita, baik ketika di sekolah maupun dalam pergaulan. Jangan sampai sering-sering gocengan (berduaan naik sepeda motor) atau naik mobil berduaan kecuali ada muhirmnya. Apalagi sampai pacaran. Orang yang sedang study agama atau belajar mendalami Al-Quran, atau sedang proses tahfizdul Al-Quran tetapi pacara maka dijamin ilang hafalanya. Sebab, Al-Quran itu kalamullah yang penuh dengan cahaya dan cahaya itu tidak akan sampai kepada orang-orang yang ahli maksiat.
  • Menjaga limgkungan dengan baik. Jangan bergaul dengan orang-orang yang jauh dari agama Allah SWT. Wali songi menyarakan agar supaya santri (orang yang sedang belajar agama) itu berkumpul dengan orang-orang sholeh. Solih pribadinya, sholih busanya, dan juga sholih piturunya. Itu yang disebut dengan Ahalakul karimah. Sebuah madrasah atau pesantren biasanya mengkondisikan lingkungan dengan lingkungan yang positif, bagus serta mendukung untuk belajar Al-Quran atau belajar Agama/
  • Menjaga makanan. Al-Quran menganjurkan agar supaya orang-orang mukmin itu makan dan minum yang baik. Artinya, makanan yang dikosumsi itu dipastikan halal 100%, baik proesing, jenis atau asal-usulnya. Orang yang ingin otaknya cerdas, hatinya tetap sebening salju, biasanya benar-benar menjaga makanan dan minuman yang akan dikonsumsi. Makanan yang tidak baik (subhat), jika dikosumsi terus meneurus akan mempengaruhi kecerdasan seseorang. Bahkan akan mempengaruhi semangat ibadah, seperti; malas sholat berjamaah, malas puasa, malas belajar dll. Apalagi makanan yang jelas-jelas haram, baik jenis maupun asal usulnya.

Kembali pada Al-Qura yang agung dan bersih. Siapa yang ingin mendapatkan ilmu Al-Quran dengan baik, maka tiga hal di atas harus benar-benar dihindari. Selanjutnya, ketika sedang belajara harus benar-benar karena Allah SWT(ihlas). Sebab, banyak sekali orang yang belajar tetapi tidak karena Alllah SWT, justru tidak akan mendapatkan baunya surga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  ((مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لَيُصِيبَ بِهِ غَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الحاكم وابن داود)

Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yg seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat.  

 

Yang terpenting di dalam belajar ilmu Agama itu nitanya harus benar, semnagatnya harus kuat, dan etika belajar harus benar-benar susui dengan seornag santri, dan yang terahir itu ihlas karena Allah SWT. Imam Bukhori dan Muslim mengalawai penulisan kitab shahihnya dengan hadis “إنما الأعمال بالنية “. Kemudian Imam Nawawi di dalam kitab “Arbain Nawawiyah” mengemukakan alasanya, yaitu “mengingatkan kepada setiap orang sedang menuntut ilmu agar memperbaiki niatnya”.

 

Kembali pada keistimewaan Al-Quran. Setiap amalan kebaikan yang dilakukan pada bulan Ramadhan, khususnya pada malam lalatu qodar itu nilainya lebih baik dari seribu bulan. Secara khusus Rosulullah SAW mengatakan “barang siapa melaksanakan “qiyam ramadhan” atas dasar iman dan semata-mata mengharap rahmat-Nya, maka Allah SWT mengampuni dosa-dosa yang telah lalu (HR. Bukhori). Tentu saja orang yang melakukan qiyam ramahdan itu puasa disiang harinya dan juga menghidupkan bulan Ramadhan dengan Al-Quran, sedekah dan amalan baik lainnya.

Nah, seribu bulan itu sama dengan 88 tahun. Sedangkan manusia itu usianya tidak diperkirakan 60-80 tahun. Walaupun ada juga yang usianya lebih dari 80 tahun, tetapi itu sangat langka. Kehadiran Lailatul Qodar itu sebagai wujud kemulyaan dan kasih sayang Allah SWT terhadap umat Rosulullah SAW. Bagaimana mungkin ibadah sekali tetapi nilainya seperti 88 tahun.  Manusia mulya karena Al-Quran, dan manusia runtuh martabatnya karena Al-Quran. Karena secara awam, tidak mungkin seseorang hamba melakukan ibadah dengan rajin, juga tidak mungkin manusia tanpa dosa. Maka, Lailatul Qodar itu sebagai solusi terbaik untuk meraih kebaikan sebanyak-banyaknya. Selaligus menjadi sebuah tanda, bahwa Al-Quran itu sangat agung dan istimewa.

Begitu agunnya Al-Quran, sampai semua orang yang terlibat pada Al-Quran, baik pencetak dengan catatan pemiliknya orang mukmin, membawa, merawat, pembaca, penghafal, qurro’, pendengar, partisipasi (muhibban), atau orang yang menyediakan tempat untuk membaca Al-Quran (semaan). Juga orang yang menyiakan makan dan minum untuk kegiatan Al-Quran membaca Al-Quran. Semua akan memiliki pahala yang agung di sisi Allah SWT. Bahkan, orang yang terbata-bata ketika membaca Al-Quran juga ganjaranya begitu agung.

 

Belum lagi, pahala membaca Al-Quran yang sangat besar. Sebagaimana pernyataan Rosulullah SAW sebagai berikut:

عن عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الْم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْف (رواه الترمذي).

Rosulullah SAW mengatakan “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an) maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan akan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan “Alif lam mim” itu satu huruf, tetapi “Alif” itu satu huruf, “Lam” itu satu huruf dan “Mim” itu satu huruf” (HR At Tirmidzi).

Ibn Qoyyim dalam kitab “Zadal Maad” menceritakan, orang yang membaca Al-Quran jika dikaji ada dua (1) membaca Al-Quran berbasis hadis Rosulullah SAW, yaitu membaca Al-Quran dengan cara cepat, banyak, bahkan setiap hari bisa khatam, atau tiga hari sekali, seminggu sekali, sepuluh hari sekali, setenggah bulan sekali, atau sebulan sekali. Karena setiap huruf Al-Quran nilainya bisa sepuluh kali.

Masih dalam kitab yang sama, Ibn Qoyim juga menjelaskan bahwa yang kedua membaca Al-Quran berdasarkan kualitas. Dalam hal ini, berarti tidak perlu membaca Al-Quran dengan cepat dan banyak. Tetapi, setiap kalimat di renungi maknanya, dan berusaha bisa mengamalkanya. Biasanya cara sepeti ini tidak segera hatam, karena memang niatnya bertadabbur.

Dan yang sangat istimewa itu orang yang membaca Al-Quran rutin, cepat, benar, merenungi maknanya serta bisa hatam berkali-kali. Sebut saja Imam Al-Syafii yang khatam Al-Quran selama bulan Ramadhan 60 kali. Berarti beliau membaca Al-Quran sehari khatam dua sekali, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Nawawi di dalam Kitab Al-Majmu Syarah Al-Muhaddab. Seorang tabiin yang bernama Al-Aswad  bin Yazid mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap dua malam. Seorang sahabat Rosulullah SAW yang bernama “ Qotadah” menghatamkan Al-Quran setiap seminggu sekali. Merekah orang-orang yang dikaruni Allah SWT pikiran yang cerdas, hati yang bening, serta kekuatan di dalam membaca dan memahami Al-Quran.

Seorang ulama do era modern, seperti; Syekh Muhammad Ali Al-Shobuni penulitas tafsir al-Quran “Tafsir Al-Muyaassar” serta “Rawaiul Bayan” dan “Mukhtashor Ibn Katsir” menghatamkan Al-Quran setiap tiga hari sekali. Pada tahun 2000 M, setiap hari beliau thowaf dan tedengar bacaan-bacaan Al-Quran ketika sedang mengelilingi Batullah. Dan masih banyak lagi dari kalangan ulama yang sangat cinta terhadap Al-Quran dan menjaganya dengan baik dan benar.

Namun demikian tidak semua orang bisa melakukan. Tetapi, setidaknya pada bulan Ramadhan momentum sangat tepat untuk menghidupkan Al-Quran, walaupun tidak harus khatam dalam sebulam. Jika tidak bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar, minimal bisa mendengarkan dan suka terhadap orang-orang yang sedang belajar ilmu agama dan al-Quran. Sebab, manusia kelak akan dikumpukan dengan orang-orang yang dusukainya.

Sebuah pesan indah dari Rosulullah SAW terhadap pencinta Al-Quran serta orang yang mengajarkan “sebaik-baik kalian adalah orang belajar Al-Quran dan mengajarkanya”. Hiasi rumah, sekolah, kampus, tempat kerja dengan Al-Quran agar makin berkah. Kelak, Al-Quran itu akan menjadi saksi sekaligus memberikan safaat kepada orang-orang yang membaca dan merawat Al-Quran dengan baik dan ihlas karena Allah SWT.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook