Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 29 - 2013 0 Comment

 Semua yang terjadi pada diri Nabi Muhammad SAW adalah wahyu Allah SWT. QS Al-Najm (53:2-3) yang artinya:’’Dan Tiadalah yang diucapkan Rosulullah SAW itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan Muhammad SAW itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).  Apa yang datang dari Rosulullah SAW, baik itu ucapan, tindakan dan keputusannya adalah wahyu Allah SWT.  Dengan kata lain, Rosulullah SAW itu adalah Al-Quran yang berjalan.

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW selama di Makkah dan Madinah semua diterangkan di dalam hadis (sunnah). Orang-orang yang menerangkan apa yang dilakukan, diucapkan, serta kejadian yang dihadapi oleh Rosulullah SAW adalah para sahabat. Kedudukan sahabat begitu agung dan mulia, sampai-sampai Rosulullah SAW mengatakan:’’sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in)’’ (HR Bukhori dan Muslim).

 Saking cinta dan sayangnya Rosulullah SAW kepada umatnya. Khususnya cinta Nabi SAW terhadap para sahabat yang membela islam dan kejayaan islam. Sampai-sampai Rosulullah SAW mengatakan:’’Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku. Karena sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang bisa berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Begitu juga dengan cinta para sahabat terhadap Rosulullah SAW. Tidak rasa cinta yang lebih dsayat dan hebat melebihi cintanya sahabat kepada Rosulullah SAW. Sampai suatu ketika, saat Umar Ibn Al-Khattab ra mengusulkan agar Al-Quran ditulis  di dalam satu mushaf. Abu Bakar ra sebagai Khalifah penganti Rosulullah SAW mengatakan:’’ bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rosulullah SAW’’.

Bahkan penulis Nabi SAW, yaitu sahabat Zaid Ibn Tsabit mengatakan:’’ saya lebih baik disuruh memindahkan gunung uhud, dari pada menulis Al-Quran’’. Apa yang dikemukakan oleh Abu Bakar Al-Siddiq maupun Zaid Ibn Tsabit bukti kecintaan terhadap Rosulullah SAW. Mereka tidak ingin melakukan apa yang belum pernah dilakukan Rosulullah SAW, karena khawatir hal itu disebuat mengada-ngada (bidah). Toh, pada ahirnya Abu Bakar kemudian menerima saran Umar Ibn Al-Khattab ra. Apa yang dilakukan Abu Bakar demi kemaslatan umat islam. Dan apa yang dilakukan oleh para sahabat, khususnya khulafaur Al-Rosyidin bisa dikatakan sunnah juga.  Rosulullah SAW hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih (HR Tirmidzi)

Tidaklah berlebihan kiranya, jika sebagian dari para sahabat menyaksikan dan menyatakan bahwa benda-benda, pepohonon yang berada di sekitar Baitullah dan Makkah pada umumnya mengucapkan salam kepada Rosulullah SAW. Semua mahluk yang berada antara langit dan bumi selalu bertasbih kepada Allah SWT QS Al-Hadid (57:1) Allah SWT berfirman:’’ semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Para mufasir berpendapat, selain Allah SWT, yaitu semua mahluk Allah SWT bertasbih mensucikan dan mengagungkan Allah SWT.

Jika dilihat dari ayat di atas, tidaklah berlebihan jika pepphononan dan bebatuan menyapa Rosulullah SAW, karena ini bagian dari mu’jizat Rosulullah SAW. Banyak kitab-kitab Syirah Nabawiyah mengkisahkan tentang Batu dan Pohon mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW.

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdul Malik bin Ubaidillah bin Abu Sufyan bin Al-Ala’ bin Jariyah Ats-Tsaqafi berkata kepadaku dan ia mendengar dari beberapa orang berilmu:’’ Jika Rasulullah SAW ketika Allah berkehendak memuliakannya dan memberikan kenabian kepadanya- ingin keluar untuk buang hajat, beliau pergi ke tempat yang jauh hingga rumah-rumah tidak terlihat olehnya dan berhenti di syi’ab (jalan di antara dua bukit) Makkah, dan lembah-lembahnya.

Setiap kali beliau berjalan melewati batu dan pohon, pasti keduanya berkata:’’Assalamualaikualaika ya Rasulullah.  Kemudian Rasulullah SAW menoleh ke sekitarnya; kanan, kiri, dan belakang, namun tidak melihat apa-apa kecuali pohon dan batu. Konon salah satu batu yang menyapa Nabi SAW sampai sekarang masih berada di di atas toilet wanita arah syib amir.

Mu’jizat tentang batu dan pohon yang menyapa Rosulullah SAW, terjadi pada malam bi’tsah (diutusnya) Muhammad menjadi Nabi SAW, dimana batu dan pohon mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum, ya Rasulullah!” Mengenai hal itu beliau SAW mengatakan, “Aku tahu bahwa ada batu di Makkah yang mengucapkan salam kepadaku beberapa saat sebelum aku diangkat menjadi Nabi dan Rasul.” Ada pula sebatang pohon yang bergerak mendekati beliau, dan batu yang digenggamnya bertasbih (mengagungkan kesucian Allah).

Itulah yang terjadi pada Rasulullah SAW dalam jangka waktu tertentu; bermimpi dan mendengar salam hingga Jibril datang kepada beliau dengan membawa kemuliaan dari Allah ketika beliau berada di Gua Hira’ pada bulan Ramadhan untuk menyapaikan wahyu pertama, QS Al-Alaq (1-5).

Masih banyak mu’jizat yang terjadi pada Rosulullah SAW, sekaligus membuktikan bahwa Muhammad itu adalah utusan-Nya. Dalam perang Badar misalnya, Seorang sahabat yang bernama‘Ukasyah pedangnya patah. Kemudian Rasulullah  SAW mengantinya sebatang kayu. Seketika itu, sebatang kayu di tangan ‘Ukasyah berubah menjadi pedang. Sahabat Ukasyah berperang melawan pasukan orang-orang Kafir dengan Kayu pemberian Rosulullah SAW yang berubah menjadi Pedang.

.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook