Posted by Abdul Adzim Irsad On April - 17 - 2016 0 Comment

Al Madinah Al Munawwarah-20130719-02327Tahun ini, bulan dan hari kelahiran Rosulullah SAW bertepatan dengan kelahiran Nabi Isa as. Sangat menarik, sebab umat Islam Nusantara, bergitu gegap gempita menyambut kelahiran Rosulullah SAW dengan sholawatan, baik di masjid, surau (musolla), rumah-rumah, pesantren, sekolah, kampus, bahkan di instansi penting Negara Republik Indonesia.

Sejak ber-abad-abad, umat Islam dunia, seperti; Turkey, Syiria, Irak, Palestina, Yordania, Libanon, Mesir, Tunisia, Maroko, bahkan Rusia, Australia,dan sebagian masyarakat muslim china menyambut hari kelahiran Rosulullah SAW dengan membaca sholawatan dan syair-syair indah seputar pribadi, keluarga Rosulullah SAW. Dari sekian jumlah umat Islam dunia, hanya beberapa kelompok saja yang mengatakan bahwa mMrayakan Maulid Muhammad SAW itu sesat dan tidak sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW.

Salafisme atau yang lebih populer dengan sebutan “wahabisme” adalah kelompak yang paling benci terhada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tidak tanggung-tanggug, mereka menghukumi “sesat dan ahli neraka”. Tidak banyak memang kelompok yang amat bergitu keras menyesatkan peringatan Maulid Nabi Muhammad, tetapi mereka sangat berbahaya bagi kelangsungan peradapan sebuah bangsa dan umat islam dunia. Hampir semua kerusakan, dan kehancuran sebuah peradan, dirusak oleh orang-orang yang anti Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebab, mereka berkeyakinan bahwa memerangi orang yang merayakan Maulid Nabi Muhammad itu mendapatkan pahala. Ironis, dan sangat membahayakan sebuah bangsa dan umat Islam.

Malang, itu kota solawatan, setiap hari selalu ada sholawatan. Puluhan Majlis Taklim dan Maulid Nabi Muhammad SAW bertebaran di bumi Arema. Yang paling besar, dan di ikuti oleh puluhan ribu adalah “Ridadul Jannah, Al-Ridhwan”. Setiap malam, mereka berpindah-pindad, dari satu masjid ke masjid, dari kampus ke kampus, dari pesantren ke pesantren. Inilah uniknya kota Malang, ramah bagi setiap orang yang melaksankan Maulidan, waluapun ada juga segelintir orang yang mencibir, bahwa Maulidan itu tidak ada tuntunan dan sesat.

Sejak Kamis, Masjid Jamik Agung Kota Malang, diramaikan dengan pengajian dan Maulidan, begitu juga di seluruh pelosok Malang raya. Di sisi lain, disamping Masjid Agung, terdapat geraja yang juga sibuk menyambut perayaan natal. Menarik, dan menyenangkan, ternyata umat Rosulullah SAW yang cinta Maulidan, juga menghormati Natalan, walaupun tanpa harus mengucapkan “Selamat Natal”. Umat Islam sudah mengerti bagaimana menghormati agama lain, begitu juga dengan agama Nasrnai juga mengerti bagaimana cara menghormati umat Islam yang sedang meng-agungkan junjunganya, Nabi Muhammad SAW. Menebarkan salam, adalah bagian penting dari ajaran Rosulullah SAW.

Hakekat peringatan Maulidan Nabi Muhammad SAW itu mentelaah kembali “Sirah Nabawiyah” secara utuh, bukan parsial. Semua tahu, seluruh hidup Rosulullah SAW untuk berjuang di jalan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW itu siang dan malam tidak pernah berhenti berjuang menengakkah agama Allah SWT. Modal utama Rosulullah SAW bukan pedang dan senjata tajam untuk melunakkan hati orang Kafir yang keras bagaikan batu. Modal Nabi Muhammad SAW adalah Ahlakul Karimah. Kerasnya penduduk Makkah yang bertahun-tahun menyembah batu, kayu, dan berhala, lunak di tangan Rosulullah SAW.

Tutur Nabi Muhammad SAW begitu lembut dan mampu memebus jantung. Tatapan mata Rosulullah SAW begitu menyejukkan, senyuman dan sapaan Rosulullah SAW begitu santun dan menyenangkan. Itulah pribadi Rosulullah SAW sempurna, yang disebut dengan Al-Quran yang berjalan. Tidak satupun orang yang memusuhinya, kecuali jatuh cinta kepada Rosulullah SAW. Tidak ada satu-pun kalimat atau kata-kata yang kasar keluar dari lisan Rosulullah SAW. Begitu juga dengan prilakunya, sangat agung yang mencerminkan dari isi Al-Quran karim.

Salah besar jika menganggab Rosulullah SAW sosok yang suka kekerasan, dan mudah angkat senjata ketika terjadi perbedaan. Memang, Nabi Muhammad SAW juga

Berjuang (Jihad) itu berjuang menegakkan agama Allah SWT itu wajib bagi setiap umat islam dimana saja berada. Berjuang (jihad) itu tidak harus berperang dengan pedang (senjata).Berjuang (jihad) di jalan Allah SWT bisa melalui pendekatan harta benda serta jiwa dan raga. Nabi SAW berjuang mati-mati mempertahankan agama dan kedaulatan Madinah dari serangan dan ancaman orang-orang Kafir Makkah.

Apa-pun akan dipertaruhkan demi membela agama Allah SWT dan juga kehormatanya. Itulah Rosulullah SAW. Selama Rosulullah SAW di Madinah, cukup banyak ancaman-ancaman, baik dari dalam maupun dari luar. Lagi-lagi, Rosulullah SAW mampu menghadapi dengan baik, bijaksana. Ketika orang Kafir Makkah menggunakan kekerasan senjata. Rosulullah-pun ikut serta angkat senjata.

Dalam dunia globalisasi, internetisasi, juga era modern ini. Khususnya di Indonesia, Jihad itu harus di artikan secara luas dan menyeluruh. Jangan sampai meng-artikan jihad dengan sempit, sehingga bisa melahirkan radikalisme. Sesunguhnya, Rosulullah SAW sosok pejuang sejati, di dalam mempertahankan agama dan menyebarkan dakwah Islamiyahnya. Di dalam mengajak (dakwah), Rosulullah SAW tidak pernah dan tidak suka dengan kekerasan. Karena kekerasan yang dilakukan itu, pasti akan melahirkan kekerasan baru.

Saat ini, banyak sekali generasi muda yang salah kaprah memahami jihad dengan perang suci melawan orang-orang Kafir. Padahal, sesungguhnya Islam itu mengajarkan

Padahal jihad itu bersifat menyeluruh bukan parsial. Salah besar jika mengartikan jihad dengan berperang. Salah kaprah memaknai jihad ahirnya membuat orang berfikir radikal dan membahayakan islam sendiri. Realitasnya, islam itu bersifat “rahmatan lil alamin”. Selama 23 tahun Rosulullah SAW memberikan teladan. Suka-suku Arab di makkah yang saling serang dan perang di damaikan oleh Rosulullah SAW. Suku Aus dan Khajraz, bertahun-tahun perang di Madinah, juga bisa di damaikan oleh Rosulullah SAW.

Tidak benar jika memahami Nabi SAW mengajarkan perang di dalam menyelesaikan masalah. Salah besar jika memamahi Al-Quran itu memerintahkan perang di dalam menyelesaikan masalah. Salah satu sumber radiklisme adalah takfiri (menganggab orang lain kafir), tersesat dan menjadi penduduk neraka. Pemahaman seperti ini, seringkali diboncengi oleh agen-agen barat (zionis), sehingga menimbulkan gejolak dan perpecahan sesama Islam. Realitas membuktikan, gerakan garis keras yang meng-atasnamakan jihad (berjuang) di jalan Allah SWT, justru menghancurkan dan merusak peradapan islam.

Mari belajar toleransi pada masyarakat pencinta Maulid Nabi di kota Malang. Masjid Agung Jamik Kota Malang menjadi contoh, bagaimana umat islam menghormati sesama mahluk Allah SWT yang berbeda agama dan keyakinan. Umat Kristini digereja asik mengajarkan kepada pengikutnya agar makin taat kepada Tuhanya. Sementara Umat Islam mengajarkan bagaimana mengajarkan kepada umatnya agar semakin cinta kepada Allah SWT dan juga kepada Rosulullah SAW. Tanda cinta kepada Rosulullah SAW adalah menghormati pemeluk agama lain, dan tidak memaksakan mereka memeluk agama Islam.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook