Posted by Abdul Adzim Irsad On Maret - 24 - 2012 1 Comment

PROFIL MUADIN (TUKANG ADZAN) MASJIDIL HARAM

 

muadzin masjidilharamSuara merdu sang muadzin Masjidilharam sangat memikat setiap orang yang mendengarnya. Setiap jamaah haji dan umrah, selalu mendengarkannya. Bahkan, suara muadzin Masjidilharam telah bergema dimana-mana, sampai keseluruh pelosok nusantara, bahkan keseluruh dunia. Masjidmasjid di Asia Tenggara, seperti; Indoensia, Malaysia, Brunai, Singarpura terkesima dengan suara mas sanga Muadin. Seolah-olah suara Muadzin itu seperi suara merdu Bilal Ibn Rabbah ketika Nabi Saw masih sugeng (sehat).

Beliau bernama Syeh Farouk kelahiran Thoif, pada tahun  1365 H. Seorang muazdin bukan hanya sekedar pamer suara emas, lebih dari itu muadzin harus hafal al-Qur’an. Tanggung jawabnya juga begitu besar, karena menjaga waktu sholat lima waktu. Karena begitu besar tanggung jawab seorang Muadzin, tuhan-pun berjanji akan memberikan balasan setimpak kelak di ahirat. Sebagaimana Nabi Saw, sampaikan kelak seorang Muadzin yang semata-mata karena Allah Swt akan memasuk surga-Nya tanpa harus di hisab (dihitung) terlebih dahulu.

Di Masjidilharam terdapat beberapa Muadzin, dan masing-masing memiliki keistimewaan dengan ke-khasan suaranyanya. Pemerintah memberikan perhatian khusus dengan gaji yang cukup tingga, ribuan reyal. Kalau di rupiahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah menjadi seorang Muadzin di Masjidilharam.

Muadzin yang satu ini bernama Farouq Bin Abdurrahman Hadrowi, dimana sejak usia dini beliau hidup di Makkah (Al-Syamiyah). Syeh Faruq sejak kecil belajar di sekolah dasar Al-Aziziyah Makkah, dan mengawali menghafal beberapa Juz al-Qur’an Karim pada seorang ulama besar yang bernama Syeh Muhammad Amin Mirdad pada tahun 1371 H. Selanjutnya, beliau melanjutkan belajar di Madrasah al-Rahamniyah, dimana seorang guru yang terkenal bernama Syeh Mauhammad Dardum Al-Fadani (Indonesia), Syeh Faishol Fathani (Thailand).

Sejak kecil Syeh Faruq sudah terbiasa menjadi muadzin. Guru-gurunya seringkali memintanya untuk menjadi Muadzin. Seringkali beliau menjadi muadzin dibeberapa Masjid, ketika itu usianya baru memasuk tujuh tahun. Kadang-kadang beliau juga menjadi seorang imam pada masjid tertentu. Farouq pernah menjadi muadzin di Masjid Al-Hayyu al-Raudah tempat seorang ulama besar yang bernama Syeh Sholih bin Humaid pengurus inti sekaligus Imam dan Khotib Masjidilharam. Suara Farouq sangat indah dan menyentuh hati setiap pendengarnya. Beliau menjadi seorang muadzin di berbagai masjid di kota suci Makkah.

Secara resmi, beliau di angkat menjadi seorang muadzin di Masjid Tanim (Aisyah (Masjid Umrah), pada 1394 H-1403 tahun H. Selanjutnya di pindahkan ke ibukota Al-Riyad yang di minta oleh pembesar kerjajaan, tepatnya di dewan kementrian, yang sekaligus kmeudian ditetapkan menjadi seorang di masjid Imam Mohammed bin Saud Al Kabeer, sampai 1405 H.

Pada tahu  itu pula beliau pindah ke Makkah dalam rangka cuti. Waktu itu pula beliau menjadi Muadzin di Makah di Masjid Syekh Abdul Qadir Faqih di distrik Al Azizia al-Syamaliyah. Dari situlah kemudian Syeh Abdul Kadir al-Fakih seorang konglomerat Makkah merekomendasikan menjadi Muadzin Masjidilharam Al-Sharif, sampai 1431.
Set iap musim haji beliau menjadi Muadzin khusus, tepatnya pada hari ARMINA (Mina dan Muzdalifah dan Arafah). Karir adzan beliau tida hanya di Makkah, tetapi sampai ke manca Negara, seperti di Inggris selama 2 tahun 1428 H).

 

 

One Response so far.

  1. Logan Reising mengatakan:

    I just want to tell you that I’m all new to blogging and site-building and really liked this web blog. Almost certainly I’m likely to bookmark your website . You definitely come with fantastic articles and reviews. Appreciate it for revealing your website page.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook