Posted by Abdul Adzim Irsad On Januari - 15 - 2013 0 Comment

Sebagai seorang Nabi SAW, sekaligus utusan Allah SWT, ternyata Nabi SAW tidak pernah bersikpa sombong. Mungkin ini yang membedakan dengan para pengikutnya, dimana sebagian teman, jika sudah meraih gelar dokter, doktor, profesor, P.Hd, serta jabatan-jabatan penting sering lupa dengan sabat, kerabat, dan tetangga. Apalagi jika sudah mencapai derajat Ustad, Kyai, Gus, atau penceramah kondang. Jika sudah hebat dan kondang, gayanya sok hebat dan sibuknya minta ampun.

Derajat Rosulullah SAW begitu tinggi dan mulia, tetapi Nabi SAW begitu bersahaja penampilannya. Nabi SAW tidak sok hebat, walaupun dunia mengakui kehebatanya. Nabi SAW tetap menganggab orang-orang yang lebih rendah pengetahuannya, dan posisinya sebagai sahabatnya. Sahabat itu meliputi, lelaki, wanita, anak-anak, remaja, tua, muda. Bahkan dari kalangan jin yang beriman kepada Allah SWT dan percaya kenabian Muhammad SAW juga disebut dengan sahabat. Sahabat ialah orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW, beriman kepada beliau dan meninggal dalam keadaan Islam.

Lihat saja, Raja Najasi yang tidak pernah berjumpa dengan Nabi-pun, tetap saja disebut dengan sahabat. Terbukti ketika Raja Najazi wafat, Nabi SAW melakukan sholat ghoib bersama sahabatsahabat di Madinah. Begitu setia dan perhatian Rosulullah SAW terhadap sahabat-sahabatnya, walaupun jaraknya begitu jauh dan tidak bisa ditempuh.

Nabi termasuk orang yang tulus serta loyal di dalam sebuah persahabatan. Jika Nabi memilih kawan tidak karena materi, jabatan, atau pamrih lainya. Nabi SAW tidak pernah membedakan sahabat-sahabatnya, semua mendapatkan perlakuan yang sama. Pernah suatu ketika Nabi SAW sedang disibukkan dengan para pembesar orang-orang Makkah.Tiba-tiba seorang sahabat Nabi SAW yang bernama Umi Maktum ingin bertemu dengan beliau SAW. Umi Maktum miskin dan buta. Karena Nabi SAW sibuk dengan para pembesar, dan tidak menghiraukan Umi Maktum yang sedang membutuhkan dirinya.

Ahirnya Allah SWT menegur Rosulullah SAW karena telah bermuka masam atas kehadiran Abdullah Ibn Umi Maktum, sebagaimana penjelasan QS Abasa (80:1-4) yang artinya:’’ Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya.Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).Atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?.

Dalam kehidupan sehari-hari, sudah pasti ada hal-hal yang kurang berkenan, akan tetapi Nabi SAW tetap menjaga ketulusan persahabatan tersebut. Jika Nabi tidak berkenan dengan rekan-rekanya, Nabi tidak lansung mengatakan dengan nada kasar, kemudian membuat rekan tersinggung atau menusuk hatinya. Beliau juga tidak tunjuk hidung langsung, tetapi menyampaikan dengan mengunakan redaksi yang halus dan lembut agar yang bersangkutan tidak tersinggung.

Sang istri Aisyah r.a pernah menuturkan: ”Setiap kali disampaikan sesuatu yang kurang berkenan dari seseorang, beliau tidak mengatakan: ”Apa maunya si ’Fulan’ berkata demikian!’’Namun beliau mengatakan: ”Apa maunya ‘mereka’ berkata demikian!’’ (HR. At-Tirmidzi). Begitu indah ahlak Rosulullah SAW, yang selalu menjaga perasaan orang lain, sehingga persahabatannya tertap terjalin dengan baik.

Tidak hanya sang istri, pelayaan Nabi SAW yang bernama Anas bin Malik r.a menceritakan:”Pernah suatu kali seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW dengan bekas celupan berwarna kuning pada pakaiannya (bekas za’faran). Biasanya Rasulullah SAW sangat jarang menegur sesuatu yang dibencinya pada seseorang di hadapannya langsung. Setelah lelaki itu pergi, beliau pun berkata: ”Alangkah bagusnya bila kalian perintahkan lelaki itu untuk menghilangkan bekas za’faran itu dari bajunya.” (HR. Abu Daud & Ahmad).

Ketika salah satu sahabat Nabi SAW melakukan kesalahan, justru harus ditutupi dan tidak boleh di publikasikan, karena yang demikian ini termasuk dosa. Nabi-pun menjelaskan:’’ barang siapa menutupi aib sesama muslim, maka kelak Allah SWT akan menutup aibnya’’. Ini sebuah isarat, betapa Nabi SAW melindungi sahabat-sahabatnya, agar celanya tidak diketahui orang lain dan konsusmi secara umum.

Begitu banyak pelajaran yang bisa di dapatkan dari Muhammad SAW sang Nabi SAW. Tidak sombong dengan posisnya sebagai seorang utusan Allah SWT. Setiap kata yang terucap begitu indah nan menyenangkan. Semua orang yang dikenal yang beriman kepada Allah SWT dan percaya pada kenabiannya di sebut dengan sabahat-sahabat. Sebutan itu membuat hubungan semakin dekat dan tidak ada sekat. Wajar saja, setiap masalah yang menimpa sahabatnya, Nabi SAW langsung mendatanginya, begitu juga sebaliknya. Adakah persahabatan setulus dengan persahabatan Nabi SAW dengan sahabat-sahabatnya?

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook