Posted by Abdul Adzim Irsad On April - 9 - 2012 3 Comments

Di Masjidilharam terdapat dua model pendidikan. Pertama yaitu pendidikan model halakoh, dimana semua santri mengelilingi gurunya. Masing-masing santri mendengarkan apa yang disampaikan oleh sang Guru (Syeh). Adapapun materinya, seperti; tafsir, hadis (bukhori, muslim, sunan tirmidzi), fikih usul fikih. Sebagian santri membawa kitab, dan sebagian lagi hanya pendengar setia. Biasanya, santri-santri yang belajar pada masayih di Masjidilharam berasal dari berbagai Negara, seperti; Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, Afrika, dan sebagian lagi daratan Jazirah Arabiyah.

Ma'had Haram

            Pengajian model halakoh ini biasanya dilakukan setelah sholat Magrib, Ashar, dan Subuh. Sebagian ulamaulama Indonesia yang terkenal dan besar di tanah suci melakukan cara seperti ini. Imam Nawawi al-Bantani, Syeh Muhammad Mahfud al-Turmusi, Syeh Muhammad Yasin Al-Fadani, Syeh Abdul Karim al-Banjari, Syeh Abdul Qodir Al-Mandili. Kendati mereka belajar dengan cara klasik, mereka juga belajar model pendidikan clasikal (Formal Education). Di Makkah, ada beberapa sekolah, seperti; Madrasah Darul Ulum al-Diniyah (didirikan oleh Syeh Mohammad Yasin al-Fadani), Madrasah Soulatiyah, Madrasal Al-Falah.

Beberapa halakoh yang masih berlangsung saat ialah, Halakoh yang di asuh langsung oleh Syeh Makky Al-Bakistani (di belakang Hijir Ismail). Setiap lepas sholat subuh, beliau mengajarkan dan menularkan ilmunya kepada santri-santr hingga waktu dhuha. Ada putranya Syeh Abdul Kadir Al-Mandili (Mandailing), Syeh Wasiuallah. Semua mengjarkan ilmu-ilmu agama, sebagaimana yang dilakukan pendahulunya.

Ma’had al-Haram dan Halakoh Masjidilharam.

Sebagian santri yang mengikuti halakoh, ternyata banyak juga yang ikut serta dalam pendidikan formal, di Ma’had Al-Haram. Ma’had ini termasuk pendidikan formal, letaknya di pintu Malik Fahad bin Abdul Aziz. Pelajar-pelajar dari berbagai negara seperi; Indonesia, Afrika, India, Pakistan, Thailand, Malaysia diterima belajar di sana. Bahkan, tidak sedikit dari warga Negara Arab Saudi sendiri yang ikut belajar di Ma’had al-Haram. Tentunya setelah melalui seleksi yang ketat serta mengikuti aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh kerajaan. Pelajar-pelajarnya juga mendapat bantuan (beasiswa) setiap bulan dari pemerintah. Materi yang di ajarkan adalah ilmu hadis, seperti; Bukhori, Muslim agama, karena tujuan utamanya ialah melestarikan nilai al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad Saw serta kitab-kitab klasik (turost).

Pada setiap pintu utama Masjidilharam, seperti; Abdul Aziz, Malik Fahad, Babu al-Salam, Bab al-Fattah, Bab al-Umrah. Di pelataran Masjidilharam, seperti; lurusnya Hijir Ismail, Rukun Yamani, biasanya menjadi tempat halakoh (pengajian rutin) setiap lepas sholat magrib dan subuh. Jadi, hampir semua kegiatan pengajian di Masjidilharam terus menerus. Pada abad 16-17 hingga abad 20-an, masih banyak ulama keturunan Indonesua yang mengajar di Masjidilharam. Tetapi, saat ini sudah langka. Kendati keturunan Indonesia sudah langka, tetapi kegiatan melestarikan al-Qur’an dan sunnah Nabi Saw melalui pengajian-pengajian masih berjalan dengan baik dan lancar. Ini juga menjadi bukti nyata, bahwa Makkah menjadi pusat kajian ilmu agama dari masa kemasa.

3 Responses so far.

  1. Charlene mengatakan:

    doing a great job, keep up the work going.http://www.bancodonordeste.net

  2. Waldo Biddick mengatakan:

    I just want to mention I am new to blogging and honestly liked you’re blog. Most likely I’m planning to bookmark your blog . You definitely have superb stories. Thank you for sharing your website.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook