Posted by Abdul Adzim Irsad On Maret - 24 - 2012 1 Comment

Seringkali al-Qur’an menyebut ‘’Qolam’’ berulang-ulang dengan redaksi yang berbeda-beda. QS al-Qolam yang artinya ‘’pena’’ alat tulis. Konon, pertama kali yang diciptakan sebelum Allah Swt menciptakan alam semesta ini adalah ‘’Qolam’’. Ibnu Abbas mengatakan” sesungguhnya yang pertama kali diciptakan adalah ‘’Qolam’’. Secara khusus, di dalam al-Qur’an terdapat surat al-Qolam yang menceritakan seputar taqdir manusia yang telah dicatat sejak jaman azali, QS al-Qolam (69:1) yang artinya:’’ Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis.

maktabah masidilharam

Para ulama tafsir menjelaskan, ketika Allah Swt telah mencipatkan pena (al-Qolam), Allah Swt mengatakan:’’ tulislah”. Lantas pena itu menjawab:’’apakah gerangan yang aku tiliskan? Allah Swt menjawab:’’ tulislah ketentuan Allah Swt (taqdir). Selanjuttnya pena itu mengalir (menulis) tanpa henti sampai datangnya hari kiamat. Begitulah penjelasan para mufassir, sebagaimana tertulis di dalam kitab tafsir al-Tobari, Ibnu Katsir, serta sebagian mufasir lain juga berpendapat sama, karena rujukan hadisnya juga sama.

Masih membicangkan ‘’Qolam’’ sebuah alat tulis untuk proses belajar mengajar. Di dalam redaksi lain, Allah Swt menjelaskan fungsi alat tulis tersebut, sebagaimana penjelasan QS al-Alaq (96:1-5) yang artinya:’’bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan.Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Sebagaimana penjelasan di dalam surat al-Alaq (1-5), bahwa proses belajar mengajar itu tidak lepas dari dua komponen penting, yaitu membaca dan menulis. Perintah pertama kali yang dikemukakan Allah Swt untuk manusia adalah ‘’Iqra’’. Di dalam bahasa Arab, Iqra berarti perintah membaca ‘’bacalah’’. Dan, ternyata, membaca dalam tradisi Arab merupakan pintu pengetahun pertama untuk mendapatkan ilmu dan informasi. Di dalam al-Qur’an, Allah Swt menjelaskan, (QS. Al-Isra’ (17:36)Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Di sini, Allah Saw mendahulukan ‘’telingga’’ sebagai sarana untuk mendengar semua informasi. Berarti di dalam proses belajar mengajar, seorang santri (peserta didik) diharuskan hadir di dalam kelas, memasang telingga lebar-lebar. Agar supaya semua ilmu dan informasi yang di dengar bisa di simpan di dalam otak dengan baik nan sempurna. Selanjutnya, menggunakan ‘’mata’’ untuk melihat melihat dan tangan untuk mencatat setiap apa yang disampaikan oleh guru.

Di dalam filsafat nawhu, khobar itu di baca rofa yang artinya ‘’tinggi’’. Dan derajat manusia akan terangkat lebih tinggi jika memiliki banyak pengetahuan dan ilmu, sebagaimana penjelasan QS Al-Mujadalah (56:11) yang artinya:’’Allah akan meninggikan (mengangkat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Jadi, orang-orang yang memiliki derajat tinggi, posisi bagus, mulia, adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan atau skill (ketrampilan). Dan, khobar ibarat orang-orang yang memiliki segudang ilmu dan pengetahuan, sehingga menjadi rujukan setiap orang dimana saja.

Untuk menjadi orang yang ber-ilmu, tentunya harus belajar dengan baik. Allah Swt telah menyedikan manusia alat mendengar, membaca yang kedua-duanya untuk mengumpulkan informasi dan ilmu sebanyak-banyaknya. Ilmu dan informasi akan melekat kuat, dan bermanfaat jika di tulis dengan baik, dan alat tulis itulah yang disebut oleh Allah Swt dengan ‘’al-Qolam’’. Allah Swt menambahkan bahwa proses belajar dan mengajar itu tidak akan berhasil kecuali di awali dengan menyebut Allah Swt. Dengan begitu, ilmu yang di dapat akan memberikan manfaat bagi dirinya sendiri dan juga orang lain, dan kelak akan mendapat balasan setimpal di ahirat. Nabi Saw pernah menyampaikan:’’sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermmanfaat bagi manusia’’.

Di dalam tradisi pendidikan pesantren, model pendidikan berdasarkan QS al-Qolam, dan al-Alaq masih sangat relevan. Dimana seorang murid (peserta didik), membaca kitab (buku) dan pena, dengan duduk bersila di depan guru (kyainya). Santri (peserta didik) hadir fisik dan pkirannya, mata dan telinganya di pasang dengan baik-sebaiknya. Setiap kalimat yang keluar dari lisan gurunya ditulis dengan pena (Qolam) yang sudah disediakan. Kemudian, gurunya meminta mengulangi berkali-kali kepada santrinya untuk membaca dan menghafal. Wajar, jika kemudian santri-santri (peserta didik), mendapatkan ilmu dan pengetahuan cukup banyak.

Semakin rajin dan tekun mendengar, membaca, dan menulis, akan semakin banyak ilmu yang di dapatkan, sebagaimana pepatah orang Arab’’ Man Jadda wa Jadda’’ artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Ilmu dan pengetahuan itu tidak ada artinya, jika tidak di awali dengan niat yang baik dan benar karena Allah Swt, sebagaimana pernyataan Nabi Saw:’’ sesungguhnya segala sesuatu itu di awali dengan niat.’ Walaupun niatnya benar, tetapi jika tidak di awali dengan menyebut nama Allah Swt, maka ilmu itu tidak akan bermanfaat. QS al-Alaq (1-5) mengingatkan kepada manusia agar supaya belajar itu benar-benar ihlas karena Allah Swt sehingga membawa kebaikan di dunia dan ahirat.

 

One Response so far.

  1. Mathew Cypher mengatakan:

    I just want to tell you that I’m very new to weblog and really liked this web page. Almost certainly I’m planning to bookmark your blog post . You really have beneficial stories. Thanks a lot for sharing your blog site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook