Posted by Abdul Adzim Irsad On Oktober - 26 - 2013 0 Comment

Kisah Abdulllah Al-Mubarak dan Tukang Sepatu sering menjadi topic khutbah di masjid, pengajian, kuliah subuh, bahkan menjadi bahan ceramah muballig (dai). Cukup banyak artikel, buku tentang haji, selalu mengutip kisah Abdullah Al-Mubarok dan Tukang Sepatu. Kisah ini mengingatkan kepada kita semua, bahwa seolah-olah Allah SWT kadang lebih mementingkan ibadah social (Ibadah Mutaadiyah). Nabi-pun berpesan bahwa Allah SWT akan selalu membantu seorang hamba, selama hamba selalu membantu sesamanya.

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Al-Mubarak bin Wadhih Al-Hanzhali. Beliau lahir pada tahun 118 Hijriyah, di daerah Khurasan bernama Marwa. Abdullah adalah orang yang banyak berbuat kebaikan. Para sahabat pernah berkumpul untuk menyebutkan keutamaan Abdullah. Mereka berkata, “Ibnu al-Mubarak telah menguasai ilmu Fikih, Sastra, Nahwu, Lughah, Sya’ir dan Fashahah. Sedangkan kebaikan yang telah dilakukannya adalah zuhud, wira’i, adil, rajin qiyamul lail, banyak ibadah haji, gemar berperang, pemberani, pandai berkuda, badan yang kuat, sedikit berbicara dan tidak senang berbeda pendapat (berdebat).”

Betapa agung pribadi Abdullah, sehingga orang-orang yang mengenali beliau atau membaca biografinya akan memuji dan kagum kepadanya. Abdurrahman bin Mahdi pernah berkata, “Aku tidak melihat ada orang seperti Ibnu Al-Mubarak.” Kemudian Yahya bin Said menanggapinya, “Bagaimana dengan Sufyan dan Syu’bah?” Abdurrahman menjawab, “Tidak Sufyan dan tidak pula Syu’bah. Ibnu Al-Mubarak memiliki ilmu yang luas, hafalan yang kuat, zuhud, banyak ibadah, kaya, banyak berhaji, gemar berperang, pandai ilmu Nahwu dan pandai bersya’ir.”

Keluhuran akhlak dan kedalaman ilmu yang dimiliki Ibnul Mubarak adalah hasil jerih payah beliau dalam menuntut ilmu. Ahmad bin Hambal berkata, “Pada zaman Ibnu Al-Mubarak, tidak ada orang yang rajin menuntut ilmu seperti Al-Mubarak. Dia telah pergi ke Yaman, Mesir, Syam, Bashrah dan Kufah. Dia telah mempelajari ilmu dari ulama yang ada di negara-negara tersebut.”

Proses belajarnya membuahkan hasil yang optimal, hingga ia menguasai berbagai macam disiplin ilmu. Ibnul Mubarak juga dikenal memiliki hafalan yang kuat. Pernah suatu ketika dia mendengarkan suatu khutbah yang panjang. Setelah khutbah tersebut selesai, Ibnul Mubarak mengatakan, “aku telah menghafalnya”. Kemudian ia mengulangi kata demi kata apa yang diucapkan dalam khutbah tadi.

 

 Zuhud yang Dermawan

Zuhud mempunyai arti kosongnya hati dari hal-hal duniawi. Adapun tangan-tangan para pedagang tetap memegang harta dan barang dagangan. Begitu juga dengan Ibnul Mubarak. Ia adalah seorang pedagang yang kaya, sehingga bisa menunaikan haji dan jihad berulang kali. Suatu ketika Ibnu Fudhail pernah bertanya kepada Ibnul Mubarak, “Wahai Al-Mubarak, Anda telah memerintahkan kepada kami agar berlaku zuhud, menyedikitkan hal-hal duniawi dan merasa cukup. Namun kami melihat Anda membawa barang-barang dari Khurasan ke tanah Makkah. Bagaimana kamu berbuat demikian?”

Ibnul Mubarak menjawab, “Wahai Abu Ali, sesungguhnya aku melakukan hal itu untuk menjaga diriku, menjaga kehormatanku dan untuk menopangku dalam ketaatan kepada Allah. Aku tidak melihat kebaikan kecuali aku harus melakukannya dengan cepat.”

Dengan hartanya Ibnul Mubarak tidak hanya menolong dirinya sendiri, akan tetapi ia senang menolong orang lain. Ibnul Mubarak melunasi hutang seorang pemuda yang berselisih dengannya tanpa diketahui orang tersebut.

Jika musim haji tiba, Ibnul Mubarak pergi menunaikan ibadah haji bersama rombongan dari penduduk desa Marwa. Rombongan tersebut mendapatkan berbagai fasilitas dari Ibnul Mubarak. Dikatakan kepada mereka, “Apa yang dipesan keluarga kalian dari barang-barang Madinah, hendaklah kalian membelinya.” Kemudian Ibnul Mubarak membayar semuanya. Kemudian ketika sampai di Makah, ia pun mengatakan hal yang sama dan membayar semua pembelian rombongan.

Sifat pemurah Ibnul Mubarak tidak berarti bahwa ia tidak berhati-hati dalam mendapatkan harta. Meskipun hartanya berlimpah, akan tetapi harta tersebut adalah harta yang halal lagi berkah. Ia pernah berkata kepada Ali bin al-Hasan, “Sesungguhnya mengembalikan satu dirham dari sesuatu yang syubhat lebih baik bagiku, daripada aku bershadaqah seratus ribu sampai enam ratus ribu dirham.”

 Jihad dan Keberaniannya.

Tidak banyak orang yang ahli ibadah, ahli sedekah tapi sekaligus ahli berperang. Ibnul Mubarak mengumpulkan semua keutamaan itu. Di samping giat mencari ilmu, ia juga giat berperang di jalan Allah.

Pernah dalam suatu pertempuran orang muslim sempat merasa takut dengan tentara Rum. Saat itu, terjadi duel di antara kedua kelompok yang saling berperang. Tentara muslim berbaris, begitu juga tentara musuh. Seorang tentara kafir Rum maju dan mengajak berduel. Maka di antara kaum muslimin ada yang maju untuk menghadapinya. Lalu ia pun kalah. Muslim yang lain maju, dan orang Rum tersebut tetap memenangkan duel. Hingga enam orang tentara muslim yang terbunuh oleh orang tersebut. Setelah itu, tentara muslim ragu untuk maju menghadapi orang tersebut.

Ibnul Mubarak menoleh ke arah Abdullah bin Sinan dan berkata, “Wahai Abdullah, jika aku mati maka kamu yang maju.” Kemudian dia memacu kudanya dan si kafirpun datang menyambutnya. Hingga beberapa saat kemudian tentara Rum yang kuat itupun terbunuh di tangan Ibnul Mubarak. Lalu, Ibnul Mubarakah mencari lawan lagi hingga ia berhasil menewaskan enam orang kafir. Setelah itu, tidak ada seorangpun tentara Rum yang berani keluar menghadapinya.

Ada sebuah syair terkenal yang ditulis oleh Ibnul Mubarak. Syair ini pernah dibawakan kepada Fudhail bin ‘Iyyadh, hingga ia menangis ketika membacanya. Syair ini juga sering dibawakan oleh para mujahidin pada zaman sekarang, dan menjadi salah satu nasyid yang layak untuk dihafal.

Wahai manusia yang beribadah di Haramain

Andaikan engkau melihat kami

Tentu akan mengerti bahwa engkau bermain-main dalam ibadah

Orang yang pipinya bersimbah air mata

Maka, pangkal leher kami bersimbah darah tertumpah

 Kaum muslimin saat ini sangat membutuhkan orang-orang seperti Abdullah bin Mubarak. Maka, berusahalah untuk meneladaninya. Semoga Allah merahmati Ibnul Mubarak.

 * Disadur dari 60 Biografi Ulama Salaf karya Ahmad Farid


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook