Posted by Abdul Adzim Irsad On Oktober - 26 - 2013 0 Comment

Orang sering bilang, kalau bersuci tidak boleh menggunakan air teh, pasti tidak sah. Karena air the itu walapun tidak najis, tetapi tidak mencukupi syarat sebagai air suci yang mensucikan. Atau, jangan bersuci dengan air kencing, pasti tidak akan suci. Dengan kata lain, jangan menunaikan ibadah haji, jika dana yang digunakan adalah uang korupsi, atau kurang riba. Dana untuk haji harus bersumber dari hasil yang bersih dan halal. Rosulullah SAW mengatakan:’’ sesungguhnya Allah itu baik, tidak kan menerima kecuali yang baik’’ (HR Baihaqi).

Wajib bagi setiap orang islam yang sudah mampu secara materi, dengan  kondisi sehat jasmani dan ruhani, serta sudah cukup umur (balig) untuk menunaikan ibadah haji. Pada dasarnya hukum ibadah haji itu fardhu ‘ain. Wajibnya seumur hidup hanya sekali. Haji yang kedua hukumnya sunnah. Nabi SAW hanya menunaikan haji hanya sekali, dan empat kali umrah. Jika ingin mengikuti Nabi SAW, mestinya hajinya hanya sekali dan umrahnya berkali-kali.  

Adapun syarat wajib haji yang bersumber dari Al-Quran dan hadis, sebagaimana dijelaskan oleh ulama-ulama fikih sebagai berikut:

  1. Islam. Tidak sah bagi orang Kristen, Nasrani, Yahudi, Hindu, Buhda menunaikan ibadah haji. Orang dikatakan muslim jika bersyadahat, sholat, puasa ramadhan, dan zakat. Orang murtad (keluar dari islam), tidak sah menunaikan ibadah haji.
  2. Berakal yaitu dalam kondisi sehat ruhani (waras), tidak dalam kondisi gila, atau dalam kondisi sakau  (mabuk), atau mugma alaih (koma/pingsan).
  3. Balig, yaitu usia sudah mencukupi. Bagi wanita ditandai dengan datang bulan (mesntruasi), atau sudah memasuki usia sembilan tahun walaupun belum datang bulan (haid). Sedangkan bagi pria, ditandai dengan bermimpi basah (keluar sperma), atau sudah memasuki usia 15 tahun.
  4. Merdeka. Yaitu tidak adalam kondisi menjadi budak.
  5. Mampu, yaitu memiliki kemampuan materi (bekal) selama dalam perjalanan serta yang ditinggal juga cukup. Mampu fisiknya sehingga bisa melakukan sebuah perjalanan panjang sampai ke tanah suci Makkah.

Semua ulama hadis, fikih sepakat dengan syarat-syarat di atas. Jika syarat-syarat sudah cukup, kemudian pelaksanaan haji berjalan dengan baik, sesuai dengan manasik Rosulullah SAW, maka hajinya sah menurut fikih. Namun, seringkali ditemui anak-anak kecil menunaikan ibadah haji, maka hajinya sah tetapi bukan haji wajib. Orangtuanya yang mendapatkan pahalanya. Jika sudah baligh, kemudian sudah mampu secara finansial, wajib baginya menunaikan ibadah haji.

Untuk menuju haji mabrur, tidak cukup dengan hanya syarat wajibnya haji. Tetapi ada syarat sahnya haji yang harus dilaksanakan sebagai berikut:

1-      Islam.

2-      Berakal

3-      Miqot zamani dan makani. Artinya haji dilakukan di waktu tertentu (pada bulan-bulan haji), yaitu dimulai pada bulan Syawwal, Dzulqo’dah, dan sepuluh hari (pertama) dari bulan Dzulhijjah. Selanjutnya yaitu miqot makani (tempat), yaitu  dilakukan dari tempat yang telah ditentukan oleh Rosulullah SAW, Yalamlam, Dzatu Irqin, Qorn Al-Manazil, Biir Ali.

Adapun rukun haji itu ada enam perkaras, sebagaimana penjelasan ulama-ulama fikih. Siapapun orangnya yang akan menunaikan ibadah haji, harus menjalankan dengan sebaik-baiknya.

1-      Ihram haji disertai dengan niat memulai Ibadah Haji.

2-      Wukuf di Arafa dimulai dari tergelincirnya matahari hingga menjelang magrib (terbenamnya matahari). Sah hajinya, walaupun hanya melewati Arafah. Adapapun batasan waktunya hingga fajar.Rosulullah SAW pernah bersabda:’’Menunaikan haji itu ialah di Arafah’’. Jika tidak bisa wukuf, dengan alasan apa-pun, maka hajinya tidak sah. Harus di qodho (ulang) pada tahun berikutnya. Secara otomatis hajinya berubah menjadi umrah.

 

3-      Thawaf ifadhah, bisa dilaksanakan setiap saat. Bisa langsung dilaksanakan setelah mabit di Mudzdalifah atau usai melontar jumrah aqobah. Jika sudah thowaf ifadah dan sai akan tetapi belum melontar jumrah aqobah, diperbolehkan tahallul awal yang ditandai dengan mencukur rambut. Jika melontar jumrah terlebih dahulu, maka boleh tahallul awal yang ditandai mencukur rambut. Dalam kondisi belum tahallul awal (belum thowaf ifadah), semua yang dilarang diperbolehkan, kecuali berhubungan suami istri.

4-      Sa’i antara shafa dan marwah tujuh kali.

5-      Tahalllul yang ditandai dengan memotong rambut dengan dicukur atau digunting. Minimal mencukur 3 helai rambut.

6-      Tertib, semua rukun haji dilaksankan sesuai dengan urutan. Karena ini rukun, harus dilaksankan, bisa di ganti dengan dam.

Jika semua dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, bisa dikatakan SAH Ibadah hajinya. Kendati sah, belum tentu diterima oleh Allah SWT. Sebagai muslim yang baik, hendaknya syarat, dan rukun harus dipenuhi. Adapaun masalah diterima atau tidaknya, itu adalah urusan Allah SWT. Yang terpenting ialah, sebelum haji memperiapkan diri dengan sebaik-baiknya, selama pelaksanaan haji menjauhi larang-larangan Allah SWT. Dan usai menunaikan ibadah haji, tetap menjaga dan melestarikan ibadahnya. Menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga, dan masyarakatnya.

 

..


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook