Posted by Abdul Adzim Irsad On Oktober - 26 - 2013 0 Comment

Haji MabrurSetiap orang yang pergi haji, dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, pengetahuan agama yang cukup dan profesi yang beragam, selalu berharap hajinya diterima Allah SWT. Tetapi, tidak semua orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah ke Makkah itu memperoleh predikat haji mabrur. Harapan itu tidaklah berlebihan, karena memang Rosulullah SAW pernah mengatakan:’’tidak balasan yang tepat bagi haji mabrur, kecuali surga (HR Muslim).

 

Surga itu bisa menjadi isarat kebahagiaan dunia dan ahirat. Artiya, orang yang memperoleh haji mabrur biasanya urusan di dunia selalu mendapatkan bimbingan dari Allah SWT. Setiap masalah dan persoalan yang dihadapi, mulai masalah ekonomi, pendidikan, serta keluarga selalu mendapatkan kemudahan dan jalan keluar dari Allah SWT. Dengan begitu, orang yang hajinya mabrur merasakan kebahagiaan hidupnya, walaupun kadang secara ekonomi dan pendidikan biasa-biasa saja. Karena sesungguhnya kebahagiaan itu bersumber dari hati, bukan pada sesuatu yang terlihat.

Sedangkan kelak di ahirat, orang yang hajinya mabrur (diterima) akan mendapatkan surga yang sesungguhya. Dimana para ulama ketika mensifati surga Allah itu dengan berbagai keindahan, kenikmatan, kelezatan. Surga Allah SWT dihuni oleh para bidadari yang selalu muda, dengan keindahan dan penuh pesona. Al-Quran juga mengambarkan bahwa wanita-wanita surga itu selalu perawan (tidak pernah tersentuh siapapun). Tidak ada keindahan, kecantikan, kenikmatan, kelezatan duniawi, melebihi surga Allah SWT.

Untuk itulah sebelum berangkat haji, ketika sedang melaksanakan haji (berada di MakkahMadinah), harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Di bawah ini beberapa langkah untuk menuju haji mabrur. Dengan harapan, Allah SWT mencatat ibadah hajinya menjadi penyempurna rukun islam, sekaligus menjadi pelebur dosa dan menjadi amalan yang bisa menjadi bekal menujur surga Allah SWT.

Pertama,  niat dengan tekad kuat dan bulat mendapatkan predikat mabrur. Bukankan niat itu menjadi syarat utama, sebagaimana Nabi SAW sampaikan dalam hadisnya:’’sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat’’. Tekad yang begitu kuat, melekat dalam hati, harus dibarengi dengan keyakinan, bahwa Allah SWT memberikan kekuatan. Dengan begitu, maka rasa syukur, sabar, itu muncul. Ketika mendapati apa yang tidak sesuai dengan keingingannya, harus yakin bahwa itu semua dari Allah SWT.  Allah SWT dzat yang memaafkan segala dosa dan salah manusia. Seringkali, Allah SWT memberikan ujian, cobaan, dengan tujuan itu semua untuk melebur dosa-dosa yang selama ini dilakukan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Allah SWT akan mengampuni kesalahan dan kelemahan manusia. Membalas setiap amal kebaikan walaupun sangat kecil, dan memberi pahala pada setiap langkah kaki baik hamba-Nya. Menolong setiap hamba yang menolongan agama-Nya, serta memberikan kemudahan kepada orang yang menolong (memudahankan) kesulitan sesama hamba yang beriman. Begitulah pesan Rosulullah SAW, memudahkan kesulitan orang, melarang menyulitkan orang lain. Menyutitkan orang lain, sama dengan menyutitkan dirinya sendiri.

Kedua, merasa semua ibadanya selalu di awasi Allah SWT (muroqobah). Dalam istilah lain, sikap “ihsan” , sebagiaman pernyataan Rosulullah SAW yang artinya:’’ melihat Allah SWT saat beribadah kepada-Nya, jika tidak mampu melihat-Nya, merasakan bahwa Allah SWT selalu melihat. Menghadirkan Allah SWT saat dan waktu. Dengan demikian, tidak ada kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dilarang Allah SWT. Sebelum berangkat haji, ketika sedang berada di Makkah, Arafah, Mina, Muzdalifah, Thowaf, Sai, Tahallul, bahkan saat di hotel, tempat makan, selalu merasakan bahwa Allah SWT melihat. Usai menunaikan ibadah haji-pun, semua kegiatan ibadah yang selama itu dilakukan, tetap dilestarikan di rumahnya masing-masing.

Ketiga, berbuat baik kepada siapa saja, termasuk kepada orang yang pernah menyakiti. Dengan meminjam istilah Al-Quran ‘’wal Afina Aninnas’’. Suka memberikan maaf, walaupun orang yang dimaafkan itu berkali-kali menyakiti. Itu adalah sifat Rosulullah SAW. Hilanglan sifat-sifat negatif seperti; iri, dengki, riya’, takabur, hasud, namimah, sumah. Sebaliknya, selama pelaksanaan haji harus berbekal sabar dan syukur. Selanjutnya, tidak boleh pelit. Pemurah sebagaimana Rosulullah SAW, karena haji itu berkumpul dengan banyak orang, dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda, maka jamaah haji harus suka berbagi. Ringan tangan, suka memberi, mudah menolong sesama jamaah, serta  korban persaan demi demi kepentingan orang lain banyak orang. Jangan sekali-kali mengeluh, karena Allah SWT tidak suka terhadap orang yang mengeluh.
Keempat,  menjadi orang sabar (Abdan Sabura) dan Abdan Syakura (banyak bersyukur). Nabi SAW saja memohon kepada Allah SWT agar dijadikan orang yang benar-benar banyak syukur dan sabar. Padahal semua orang tahu, Nabi SAW tidak pernah menyakiti orang lain, walaupun Nabi SAW berkali-kali disakiti.Nabi SAW juga sering berpuasa, disebabkan karena kadang tidak memiliki makanan yang yang harus dikonsumsi. Padahal, Nabi SAW bisa mencari dan berdoa agar menjadi cukup dan kaya. Tetapi, Nabi SAW ingin mengajarkan kepada umatnya menjadi hamba yang besyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya. Ketika pergi haji, kadang tempat (hotel/maktab) tidak sesuai dengan yang digambarkan dan diharapkan. Kadang jsutru sebaliknya, maktabnya jauh, kumuh, airnya tidak lancar, pengab. Kadang, transportasinya juga macet dan telat. Ditambah lagi, pembimbing haji, dan dokternya ternyata ogah-ogahan. Jika tidak sabar maka, hajinya akan sulit mencapai derajat mabrur. Sebaliknya, sekecil apapun nikmat yang diperoleh harus disukuri. Syukur yang sesungguhnya ialah diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan sehari-hari, seperti; ibadah, berdzikir, sedekah, rajin sholat berjamaah di Makkah dan Madinah. Jika benar-benar bisa besyukur, maka Allah SWT akan menambah nikmat dan karunia-Nya.
Kelima, ibadah hajinya itu harus sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW.Nabi SAW pernah berpesan agar supaya mengambil manasik dari beliau SAW. Artinya, tata caranya ibadahnya harus sesuai dengan penjelasan Nabi SAW, sebagaimana diterangkan di dalam beberap kitab-kitab fikih haji dan umrah. Memanfaatkan wakatu yang begitu singkat dengan sebaik-baiknya. Kebiasaan-kebiasaan Nabi SAW dan sahabat seyakjanya dapat dilaksanakan dengan baik. Seperti, thowaf, umrah sunnah, menghatamkan Al-Quran, memperbanyak dzikir, membaca sholawat Nabi SAW, ziarah ke Makam Rosulullah SAW, sholat di masjid kuba’. Ziarah ke Suhada’ Uhud, ziarah ke Baqi. Mumpung berada ditempat paling suci, kesempatan mensucikan diri dengan bertaubat kepada Allah SWT.

Masih banyak lagi langkah menuju haji mabrur. Jika setiap jamaah haji bisa mejalankan dengan baik, insaAllah akan mendapatkan gelar haji mabrur. Haji mabrur itu ditandai dengan bagus tutur katanya (sopan santun).  Bahkan cara berbusana-pun juga lebih baik, memperhatikan batas-batasan aurat. Secara sosial, memiliki kepekaan dan keperdulian yang luar biasa terhadap sesama. Selanjutnya, secara otomatis, semua kebiasaan positif, seperti; semangat beribadah tetap kuat, tidak luntur walaupun sudah kembali ke rumahnya masing-masing.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook