Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 18 - 2011 1 Comment

keluargaDi dalam banyak tulisan, baik itu artikel, buku, serta jurnal dan bulletin. Sering kita temukan bagaimana caranya mencari dan menentukan pasangan yang sholih atau sholihah. Biasanya, criteria mencari pasangan hidup berdasarkan empat perkara. (1) Karena kecantikan (penampilan performanya), (2) karena materinya (3) karena nasab dan keturunanya (4) karena agamanya (ahlak).

Di dalam sebuah pertemuan, pernah saya tanyakan kepada kaum lelaki. Jika kalian menikah, kira-kira criteria wanita yang engkau dambakan seperti apa? Ada sekitar 50 lelaki yang usianya masih relative muda (20-24). Mereka serempak menjawab’’ karena kecantikan fisikknya’’. Sedangkan yang menjawab nasab, agama, dan kaya tidak lebih dari 5 orang. Selebihnya menjawab ‘’ karena kecantikannya’’.

Sementara itu, ada sekitar lima puluh wanita yang berusia sekitar 20-23 tahun (semester 2-4) tidak menjawab dengan tegas. Yang jelas, jawaban mereka berbeda dengan lelaki yang serempak memilih wanita karena cantik.

Setelah ditelusuri, ternyata kebanyakan dari  wanita (mahasiswa) itu ingin dinikahi oleh seorang lelaki yang bisa memberikan kecukupan materi dan bisa membahagiakan dirinya. Ini adalah jawaban obyektif dari kaum wanita pada umumnya. Walaupun kebenarannya tidak mutlak. Namun, ini menjadi gambaran umum tentang kaum lelaki dan wanita di dalam menentukan pasangan hidupnya.

Banyak ditemukan di dalam realitas, bahwa wanita yang berusia muda dinikahi oleh lelaki yang usianya senja. Bahkan ada wanita yang rela dipoligami, asalkan semua kebutuhan  hidupnya tercukupi, baik materi atau instingnya (biologisnya). Dan ini masih banyak kita temukan di masyarakat Indonesia, mulai Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatra. Memnag ini tidak perlu dibahas panjang lebar, karena memang begitulah realitas yang terjadi.

Di dalam tulisan ini, sekali lagi mengajak pembaca untuk meneladani Nabi ketika memilih mertua, yang sekaligus menentukan pasangan hidupnya.

Kriteria Mertua Yang baik.

Bagi lak-laki dan perempuan, apabila usia sudah cukup matang, dan hendak menikah. Sayogyanya mencari pasangan hidup dilihat dari segi keluarganya. Karena, orangtua adalah cermin dari kepribadian anak. Lihat saja Nabi, beliau memilih istri-istrinya, seperti; Hafsah r.a, karena melihat orangtuanya (Umar Ibn al-Khattab) yang gagah perkasa, loyal terhadap islam dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran. Dari situ bisa ditangkap, bahwa sifat-sifat jujur, adil, tegas dan berani melekat kuat pada diri Hafsah binti Umar Ibn al-Khattab.

Ketika memilih Aisyah r.a, beliau juga melihat sosok Abu Bakar r.a. yang jujur dan lembut hatinya, tegas nan sabar, serta cerdas. Lihat saja, di antara sahabat yang terlihat menonjol dari segi ilmu agama, seperti hadis dan fikih, faroid adalah Aiysah binti Abu Bakar al-Sidiq. Hampir semua watak, sifat dan karakter Abu Bakar melekat kuat pada diri Aisyar r.a.

Dan ternyata, sebagian besar istri Nabi berasal dari keluarga yang baik. Dan, sebagian dari mereka adalah pemimpin masyarakat, seperti Abu Sofyan, Abu Bakar, Umar, Zam’ah, al-Khuwailid, Bani Mustoliq, al-Jahes. Mereka adalah tokoh dan pemimpin yang tidak diragukan lagi.

Dari sini, kita bisa belajar, bahwa menikah itu tidak hanya modal cinta tanpa mengetahui siapa orangtuanya (keturunanya). Menurut Dr. Abdullah, dosen Sastra Universitas Umm al-Qura Makkah, ketika menjelaskan masalah ini, beliau menuturkan:’’ Jika kalian ingin memiliki istri yang sangat mencintaimu, dan menyenangkan, serta menjadi ibu yang baik, maka lihatlah kedua orangtuanya’’. Karena orang tua adalah cermin kepribadian anaknya.

Memang ini bukan sebuah kemutlakan, akan tetapi menjadi rujukan, bahwa menikah itu juga harus memperhatikan seluk-beluk, sifat dan karakter calon mertuanya. Memang, ini bukanlah tuntunan yang mesti diikuti, akan tetapi apa yang dilakukan Nabi mesti dilestarikan, karena memiliki nilai yang sangat luhur.

Masih terakit dengan memilih mertua. Secara tidak lagsung, hadis Nabi mengatakan ‘’ nikahilah wanita itu karena nasab’’. Makna yang terkandung di dalam hadis itu adalah orangtua. Jangan sampai, menikahi seorang wanita (lelaki) yang nasabnya tidak jelas. Di dalam istilah akademik nasab itu disebut dengan’’ tidak linier’’ sejalur. Jika demikian, keturunan berikutnya juga akan baik, bahkan ada yang lebih baik.

Melestarikan tradisi Nabi berupa memilih menikah dengan menulusuri karakter sang Ayah dan Ibunya adalah sunnah. Jadi, jika niatnya karena ingin mengikuti Nabi, tentunya akan bernilai pahala. Bisa jadi tidak bernilai sunnah, jika semata-mata menikahi wanita karena hartanya, dan kecantikan belaka. Mertua yang baik adalah mitra untuk membangun sebuah rumah tangga yang baik, sejahtera dan membawa ketentraman jiwa, yang akhirnya memperoleh rahmat dari yang maha kuasa.

 

One Response so far.

  1. Linwood Marti mengatakan:

    I simply want to mention I am just new to blogging and site-building and definitely liked your web-site. Very likely I’m want to bookmark your blog . You amazingly come with beneficial article content. Thanks a lot for sharing your webpage.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook