Posted by Abdul Adzim Irsad On Januari - 22 - 2014 0 Comment

KUBAHAllah SWT mengutus Nabi SAW sebagai panutan, sekalgus pemberi kabar gembira bagi setiap umat islam dimana saja berada. Nabi Muhammad tidak di utus, kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta. Kehadiran Nabi SAW dibumi ini sebagai cahaya bagi setiap orang yang merasa dalam gelap gulita.

Nabi SAW tidak pernah mengajak  umatnya berbecari berai, tetapi menganjurkan dan mengajak umat Islam bersatu, sebagaimana dalam filsafat Bahasa Arab (nahwu), bahwa siapa yang mau bersatu, maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya lebih tinggi (marfu’).

Mengutip pernyataan Imam Jalaludin Al-Suyuti di dalam kitab Husnu Al-Maqsad:’’sesungguhnya merayakan mauled Nabi Muhammad termasuk mewujudkan rasa senang dan gembira atas Rosulullah SAW, dan terkadang orang selain islam bisa mengambil manfaatnya’’.

Sayyid Muhammad Alawai Al-Maliki berpendapat:’’Merayakan kelahiran Nabi SAW merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang agung’’ (Sayid Muhammad Alawi). Bahkan secara khusus, beliau menulis kitab ‘’Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW’’ yang membahas tuntas masalah mauled Nabi SAW.

Wajib bagi setiap umat islam bersyukur atas nikmat ini, dengan berbagai cara, seperti; memperbanyak sholawat, memberi makan kepada fakir miskin, meningkatkan kualitas ibadah, serta mengadakan majilis mauled denga membaca Al-Quran dan syirah (perjalanan hidup Rosulullah SAW).

Syekh Ibn Taimiyah berpendapat di dalam kitabnya yang berjudul ‘’ Iqtidha’ Asshiratil Mustaqim Mukhalafati Ashabil Jahim, beliau berkata:’’terkadang mendapatkan pahala bagi sebagian banyak orang yang melaksanakan Maulid Nabi, begitu juga bagi sebagian manusia mengada-adakannya (maulid nabi) entah itu karena ingin menyaingi orang Nasrani yang merayakan Maulid Isa, entah itu karena mencintai Rosulullah SAW, dan mengagungkan beliau dengan cara memperingati kelahiran Nabi  SAW, Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas rasa cinta dan kesungguhan, bukan masalah bidah (Sayyid Muhammad, hlm: 541)

Semua ulama sepakat bahwa Nabi SAW tidak pernah diperingati kelahiranya sendiri, seperti kebanyakan orang memperingati ulang tahun kelahiran anaknya. Lihat saja, sebagian partai politik, organisasi keagamaan, selalu memperingati miladnya setiap tahunya.

Nabi SAW pernah ditanya oleh para sahabat seputar kegiatan puasa senin kamisnya. Dengan singkat, Nabi SAW menjawab:’’hari itulah aku dilahirkan’’ (HR Muslim). Jawaban ini sekaligus menjadi dalil, bahwa merayakan kelahiran Nabi SAW dengan hal-hal yang positif itu sangat dianjurkan.

Apalagi, cara merayakan kelahiran Nabi SAW dengan cara menghidupkan sunnahsunnah Nabi SAW, seperti berkumpul dengan membaca hadis-hadisnya, bersedekah, membaca Al-Quran, melaksanakan umrah dan berziarah ke Makam Nabi Muhammad SAW di Madinah.

Sipapun yang memperingati kelahiran Rosulullah SAW harus berniat karena rasa Syukur kepada Allah SWT atas kelahiran yang merubah dunia ini gelap gulita menjadi terang benerang. Sayyid Muhammad menjelaskan bahwa masalah Merayakan Maulid Nabi adalah Ijtihadiyah, artinya bisa dilalakukan kapan saja dan di mana saja. Tidak boleh berkeyakinan bahwa merayakan Maulid Nabi itu wajib, atau perintah dari Rosulullah SAW.

Beberapa kitab hadis, seperti; kitab Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Al-Tirmidzi, Abu Dawud, banyak menyinggung seputar kisah menarik sosok wanita yang bernama Tsuwaibah budaknya Abu Lahab Ibn Abdil Mutalib. Ketika Aminah melahirkan Muahmmad, Tsuwaibah bergegas datang memberikan kabar gembira kepada Abu Lahab kelahiran Muhammad.

Luapan kegembiraan diwujudkan dengan mengundang tetangga-tetangga serta kerabat dekatnya, sekaligus bentuk merayakan kelahiran Muhammad sang keponakan tercinta. Sebagaimana luapan kegembiraan masyarakat Makkah pada waktu itu, dan juga masayarakat dunia pada umumnya.

Ketika pada orang dekat dan kerabat berkumpul, Abu Lahab mengatakan:’’ wahai Tsuwaibah, sebagai tanda rasa gembira dan syukur atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-laki ku (Abdullah Ibn Abdul Muttalib). Maka, aku merdekakan engkau sejak hari ini’’. Begitulah kira-kira ungkapan Abu Lahab atas luapan rasa suka, cinta, sekaligus bentuk rasa syukur kepada tuhannya.

Di dalam kitab Fathu Al-Bari sarah Sohih Al-Bukhori, Ibn Hajar Al-Askolani menjelaskan bahwa Abu Lahab setiap hari senin mendapatkan keringanan siksa kubur, karena pernah gembira menyambut kelahiran Rosulullah SAW. Meskipun sepanjang masa hidupnya, Abu Lahab tak henti-hentinya memusuhi, mengancam, serta tidak pernah mengakui kenabian Muhammad SAW.

Maulid Nabi SAW yang dirayakan di kampus, sekolah, istansi-instansi pemerintah, rumah sakit, perkantoran, hotel, Bank, bahkan sampai supporter Aremania di Kanjuran merupakan rasa syukur atas kelahiran Muhammad SAW. Jika Abu Lahab, orang kafir mendapatkan keringanan siksa kubur setiap senin karena sukaria saat menyambut kelahiran Nabi SAW. Umat islam lebih berhak menyambut kelahiranya dengan hal-hal yang positif.

Dengan Mualid Nabi SAW, seorang ulama bisa menceritakan sirah (perjalanan hidup Nabi Muhamamd), sehingga bisa memberikan perubahan positif kepada umat islam yang masih atau belum mengenal lebih dalam Rosulullah SAW. Jika Maulid Nabi SAW bisa dilakukan dengan rutin melalui pengajian-pengajian, atau kajian-kajian ilmiyah, bisa jadi mengurangi tindakan-tindak kasar (terorisme) yang kadang salah kaprah memahami islam dan hidup Nabi SAW.

Para teroris biasanya dilakukan orang-orang islam garis yang memahami islam, tetapi salah kaprah. Mereka mengira apa yang dilakukan itu sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Mereka tidak mengerti, kalau mereka ternyata belum memahami islam. Padahal Rosulullah SAW tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi merusak kepentingan umum, lebih-lebih yang dirusak itu sebagian besar milik orang islam.

Bulan Maulid ini, moment paling penting menanamkan budi pekerti Rosulullah SAW, melalui mimbar jumat, tulisan, serta melalui pengajian mauled Nabi Muhammad. Dengan harapan, generasi yang akan datang tidak terjerumus pada prilaku teroris yang bisa merusak waja islam dimata dunia, serta melukai hati Rosulullah SAW.

Syekh Abul Hamid Ali Kudus menjelaskan bahwa setiap sholawat yang dibaca dari mana-pun, baik sendiri, atau berjamaah akan sampai kepada Rosulullah SAW, dan langsung dijawabnya. Dengan bersholawat, berarti telah menyapa Nabi berkali-kali, dan pasti yang bersholwat kelak mendapatkan syafaat Rosulullah SAW.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook