Posted by admin On August - 5 - 2011 1 Comment
alqur'an kitab suci

kitab suci

Ketika memasuki bulan Ramadhan, tidak sedikit dari para ulama’ membuat kurikulum pribadi selama satu bulan penuh. Tujuannya, agar supaya bisa maksimal menjalankan ibadah selama sebulan penuh tanpa terganggu urusan duniawi. Sebagian lagi, juga sibuk menyiapkan materi untuk ceramah kesana kemari, sehingga lupa kalau dirinya kadang jarang membaca kitab sucinya. Bagi kalangan pedagang dan pegawai, bulan ini merupakan satu-satunya bulan keberuntungan. Sebab, sebagian besar umat islam memang sangat membutuhkan keperluan dapur, busana, serta kebutuhan rumah lainnya. Dan, para pegwai lagi antre menanti THR-an tahunan.

Bagi pada penggusaha, tidak aneh, jika lebih banyak menghabiskan waktunya di pasar selama bulan Ramadhan. Sebab, bulan inilah yang membawa berkah urusan duniawi. Ini sangat kontras dengan kehidupan ulama sejati’, karena bulan inilah waktu paling tepat membangun interaksi khusus dengan tuhannya, agar supaya mampu menyapa tuhan setiap saat dan waktu. Wajah-wajah mereka berseri-seri, penuh dengan aura yang menyejukkan setiap mata yang memandang. Dosa dan noda yang melekat, sedikit demi sedikit terbilas bersih oleh busa puasa yang dilakukan setiap hari.

Kurikulum bulan Ramadhan hendaknya memang harus sesuai dengan kurikulum Nabi Muhammad Saw. Dimana beliau senantiasa menghidupkan al-Qur’an siang dan malam tak mengenal lelah. Bahkan, beliau Saw mampu membumikan al-Qur’an secara sempurna dalam semua aspek kehidupannya. Nabi Saw bersikap proposional, beliau mampu mengatur waktunya dengan sebaik-baiknya. Mulai urusan keluarga, masyarakat, sampai interkasi dengan penciptanya berjalan dengan baik. Bahkan, Nabi Saw mampu memberikan solusi terbaik bagi warganya yang sedang menghadapi persoalan dunia.

Tidaklah berlebihan, jika sejak awal mempersiapkan bulan ini dengan mengedepankan salah satu amalan sunnah yang ada bulan suci. Seperti; membaca al-Qur’an, Qiyam Ramadhan (tarawih), atau meningkatkan kuantitas sedekah. Sudah menjadi rahasia umum, jika sebagian para ulama’ mampu mengatamkan al-Qur’an setiap tiga hari sekali. Ada juga yang hatam setiap minggu sekali. Mereka berpendapat bahwa bahwa setiap satu huruf (Alif Lam Miim) dilipatgandakan menjadi sepuluh.

Artinya ‘’Alif’= 10, Lam =10 dan Miim = 10. Jadi, semakin banyak akan semakin baik, dan itulah yang dilakukan oleh para ulama terdahulu. Wajar, jika merela melakukan tarawih 20 rakaat, dan setiap malam menghabiskan 1 Juzz al-Qur’an. Sedangkan, mereka-pun mampu merenungi makna yang terkandung di dalam al-Qur’an, sehingga disela-sela bacaan al-Qur’an, kadang mereka meneteskan air mata karena sentuhan mu’jizat al-Qur’an itu.

Ada juga yang berpendapat, bahwa membaca al-Qur’an itu tidak perlu cepat-cepat dan banyak. Yang terpenting, mampu memahami isinya. Dalam dunia filsafat, ini yang disebut dengan aliran essensional. Apa artinya banyak, tetapi tidak memahami isi dan kandunganya, yang paling penting sedikit, tetapi berkualitas, sehingga bisa dirasakan hasilnya.

Akan lebih baik, jika membaca al-Qur’an banyak, cepat, serta memahami maknanya. Tetapi, ini sangat sulit, karena kemampuan masing-masing berbeda. Oleh karena itu, lakukanlah ibadah sunnah yang bisa dilaksanakan secara maksimal. Jika tidak bisa membaca al-Qur’an, maka dia bisa melakukan tarawih secara rutin  dan istiqomah. Jika terbentur dengan pekerjaan, maka Allah Swt masih memberikan kesempatan, yaitu meningkatkan kuantitas dan kualitas yang sedekah.

Al-Qur’an mengajarkan agar supaya memeberikan sesuatu yang amat kita cintai kepada orang yang membutuhkan. QS Ali Imran (3:92) yang artinya:’’Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. dan apa saja yang kamu nafkahkan Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk berbagi dengan kaum duafa’, dengan memberikan yang terbaik bagi mereka. Jangan sampai, memberikan sesuatu (sedekah) kepada orang lain, justru barang tersebut bukan barang yang terbaik. Atau bersedekah kepada orang-orang yang berkecukupan, karena sesungguhnya adalah kualitas barangnya dan tepat sasarananya, dan bersih niatnya karena Allah Swt.

One Response so far.

  1. I simply want to tell you that I am newbie to blogging and site-building and absolutely enjoyed you’re web-site. Likely I’m likely to bookmark your site . You really come with really good articles and reviews. Appreciate it for sharing with us your website.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook