Posted by admin On May - 16 - 2013 0 Comment

PujianSudah menjadi tradisi diberbagai wilayah muslim nusantara, khususnya di pesantren-pesantren berbasih NU melakukan puji-pujian sebelum sholat berjamaah dimulai. Ketika sang Imam (kyai) datang, puji-pujian berhenti dan seorang santri bediri untuk mengumandangkan Iqomat.

Pujia-pujian beragam, mulai asmaul husna, sholawatan, terjemahan hadis Rosulullah SAW (tombo ati), serta sifat-sifat Allah SWT. Tradisi seperti ini ternyata juga berlaku di Universitas Islam Negeri Malang. Ketika orang Arab Saudi yang notabener utusan dai, melihat dan menyaksikan puji-pujian yang dilakukan oleh santr-santri, mereka langsung berkomentar:’’ ini merupakan bid’ah yang tersesat, dan kesesatan itu termasuk menjadi penghuni neraka’’. Realitasnya memang tidak ada dalil yang sorih jelas memerintahkan puji-pujian sebelum sholat. Juga, tidak diketemukan larangan, baik dari Al-Quran dan hadis Nabi SAW membaca puji-pujian sebelum sholat dilansgungkan.

Dalam beberapa literature hadis, Rosulullah SAW pernah mengatakan:’’ tidak akan ditolak sebuah permintaan (doa) antara adzan dan iqomat (HR Baihaqi). Puji-pujian yang yang dilakukan oleh para santri dan masyarakat muslim nusantara sebelum sholat dilaksanakan adalah sholawat kepada Rosulullah SAW dan asmaul khusna. Nabi SAW pernah mengatakan:’’ sesungguhnya sholawat kalian kelak ditampakkan kepadaku. Lantas para sahabat menjawab:’’ bagaimana bisa, sedangkan engkau sudah tiada? Nabi SAW menjawab lagi:’’ sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bumi (tanah) memakan jasad para nabi (HR. Abu Dawud)

Karena tidak ada larangan, selama puji-pujian itu mengagungkan Allah SWT, dan memulyakan Rosulullah SAW maka puji-pujian itu harus dilestarikan. Jadi, pujian berupa yang berupa dzikir, bacaan dari Al-Quran, sholawat Nabi SAW, Asmaul Khusna, yang dilakukan sebelum sholat berjama’ah hukumnya sunnah. Apalagi, dzikir dan puji-pujian itu memberikan pendidikan terhadap anak-anak, sehingga dengan mudahnya mereka menghafal sifat-sifat Allah SWT.  Adapun cara membacanya, bisa dibaca dengan keras, apabila tidak mengganggu orang yang sedang mengerjakan shalat atau sedang tidur atau riya’. Tetapi, jika dengan suara keras itu menganggu, lebih baik dengan cara lirih (tidak keras).

Di dalam penjelasan kitan Al-Buhyah Al-Mustarsyidin, hlm 48) sebagai berikut:’’ Dzikir sebagaimana membaca al-Qur’an dianjurkan dengan dasar ayat Qur’an dan riwayat hadits yang jelas. Dan mengeraskan dzikir/pujian sekira tidak takut riya dan tidak mengganggu kepada orang yang shalat adalah lebih utama, karena orang yang melakukan puji-pujian tersebut lebih banyak memberikan fadilahnya kepada pendengar dan bisa membangkitkan hati orang yang membacanya untuk berfikir dan bisa mengilangkan rasa ngantuk pembacanya.

Pujian yang sudah menjadi tradisi nusantara harus dilestarikan, segaligus menjadi tanda karakteristik islam nusantara. Sebuah ungkapan mengelitik seputar puji-pujian datang dari orang yang tidak suka. Ia mengatakan:’’ seandainya Nabi SAW mengetahui bahwa kalian melakukan puji-pujian sebelum sholat berjamaah, dan itu bukan ajaran Rosulullah SAW, pasti Nabi SAW bersedih.

Kemudian rekanku menjawab dengan cerdik dengan mengatakan:’’ seandainya Rosulullah SAW mengetahui bahwa umatnya di nusantara melakukan puji-pujian dengan Asmaul Khusna, dan sholawat kepada Rosulullah SAW, pasti Nabi Muhammad senang dan bergembira, karena ternyata umat islam nusantara kreatis dan inofatif. Sebab, waktu antara dua adzan itu sangat mulia dan termasuk waktu mustajab bagi yang berdoa kepada Allah SWT. Sholawat dan dzikir Asmaul khusna adalah bagian dari ajaran Rosulullah SAW’’.

 

 

..


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook