Posted by Abdul Adzim Irsad On November - 15 - 2012 0 Comment

1 MuharramTahun telah berganti, berarti bertambah pula usia manusia. Dengan begitu, jatah hidup tiap-tiap manusia berkurang. Seiring dengan tambahnya usia, berarti usia dunia semakin mendekati hari penentuan (qiamat). Oleh karena itu, manusia harus semakin tahu diri, merunduk, serta mempersiapkan diri menyambut ajalnya.

Manusia harus menyadari kalau usianya semakin berkurang, berarti harus semakin rajin mendekatkan diri kepada Allah Swt. Untuk itu, setiap awal tahun hijriyah, hendaknya menjadi moment paling tepat untuk merenungi sisa usia yang yang telah tersedia.

Syeh Abdul Hamid Qudus Imam Masjidilharam yang berasal dari (Semarang) menulis kitab yang berjudul  ‘’Kanju Al-Najah wa Al-Surur fi Adiyati Alati Tasruhu Al-Sudur’’. Kitab menjelaskan apa saja yang mesti dibaca oleh umat islam setiap saat dan waktu. Khususnya, terkait dengan bulan-bulan istimewa dan mulia di sisi Allah Swt. Kitab ini juga menjadi pedoman bagi setiap mukmin, seputar tata cara bedo’a menjelang pergantian tahun.

Dalam tradisi orang islam Indonesia, sebelum magrib selalu (tidak wajib), biasanya berkumpul dan berdoa bersama. Dengan tujuan, agar supaya menghadapi tahun baru dengan optimis, sehingga setiap langkah yang akan ditempuh selalu mendapat kemudahan-kemudahan. Sesungguhnya doa itu adalah senjata utama umat islam, dan menjadi pokoknya ibadah.

Ada sebagian orang terang-terangan menghukumi bidah dan haram terhadap orang menyambut tahun hijriyah dengan berdoa bersama. Bahkan, ulamaulama klasik yang kemampuan ilmu dan kedalaman spiritual dianggap salah dan tersesat. Imam Al-Ghozali, Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani, Syek Abdul Hamid Qudus (Imam Masjidilharam). Seolah-olah kelompok ini pemegang kunci surga dan neraka. Ada pertanyaan, sejauh mana ilmu mereka sehingga memanggap paling benar dan paling berhak masuk surga?

Doa yang biasa dibaca beragama redaksinya. Syekh Abdul Hamid Qudus menukil dari Ibn Qudamah, Al-Muqdasi, Syekh Jamaludin cucu Ibn Jauzi terkait dengan do’a awal tahun sebagai berikut:

?1Muharram

Doa itu tidak harus dibaca berjamaah, bisa dibaca sendiri dirumah, dan yang tidak membacappun juga tidak apa-apa. Yang menjadi masalah ialah, ketika tidak mau membaca, tetapi justru menyesatkan terhadap orang yang membaca. Lebih-lebih menfonis menjadi penghuni neraka. Bukankah orang yang suka menyesatkan termasuk orang-orang tersesat? Mestinya, orang itu menggunakan filsafat ‘’padi’, semakin tua semakin merunduk, semakin matang dan siap di panen. Semakin tua usianya, mestinya semakin bijaksana dan semakin matang berfikirnya, serta semakin dekat dengan tuhannya. Dan tahun baru adalah moment paling penting untuk melakukan yang demikan.

Usia bertambah, hendaknya semakin memperbanyak ibadah, pola hidup berubah menjadi lebih terarah dan ramah. Jangan sampai menjadi’’ tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi’’. Lupa diri, kalau dirinya sebentar lagi akan mati, serta meninggalkan anak dan istri. Sungguh merugi orang yang seperti ini, seorang ulama’ menilai  bahwa orang yang demikian ini tergolong orang rugi di dunia dan juga kelak di akhirat.

Ketika melihat banyak artikel seputar penyeatan terhadap tawassul, maulidan, serta menyambut tahun baru dengan doa bersama, teringat pernyataan Syekh Abdul Wahab. Beliau dalam tulisanya mengatakan:’’telah berbuat bohong dengan mentasnamakan diriku, yaitu Sulaiman bin Suhaim bahwasanya saya telah mengharamkan tawassul, mengharamkan dalail khoirat, serta mengharamkan ziarah Nabi Saw, saya katakana”’ ini adalah kebohongan yang sangat besar’’.

Pernyataan melalui tulisan-tulisan, BBM, seputar larangan tentang menyambut tahun baru hijriyah dengan berdoa bersama adalah bidah bukan tuntunan Nabi Saw. Memang benar, sebab tahun hijriyah sendiri memang bidah. Sebab, yang mengusulkan awal tahun hijriyah adalah Umar Ibn Al-Khattab tokoh perintis bidah hasanah, seperti; tarawih, menuliskan Alquran.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook