Posted by Abdul Adzim Irsad On Februari - 1 - 2016 0 Comment

Cover Hajar Aswad Ibnu Abbas berwasiat kepada orang dekatnya agar kelak kalau dirinya wafat tidak di makamkan di tanah suci Makkah. Alasanya ialah, karena dirinnya merasa tidak pantas di kebumikan di tanah, karena dirinya merasa kotor. Terbukti, ketika beliau wafat, jenazahnya di makamkan di kota Thoif. Begitulah etika seorang sahabat sejati Rosulullah SAW yang mengerti hadis Rosulullah SAW dan memahami kandungan kitab suci Al-Quran dengan baik dan sempurna.

            Begitulah seharusnya setiap orang yang datang dan bermukim di kota suci Makkah. Memiliki etika yang tinggi, baik dalam busana, bertutur, bertetangga, bertamu di tanah suci haram. Bukan hanya Ibn Abbas ulamaulama sufi senantiasa menjaga kesucian kota ini, sebagimana Nabi SAW dan para sahabat menjaga dan mensucikan kota Makkah.

Orang Jahiliyah kuno, walaupun mereka tidak mengenal agama, mereka tidak mau membangun baitullah dengan harta haram, karena mereka yakin bahwa Baitullah itu tempat paling suci di dunia. Tradisitradisi Jahiliyah lainnya ialah, mereka senantiasa memulyakan tamu-tamu yang tinggal dan bermukim di tanah haram, dengan cara menyediakan makan dan minuman.

Yang tidak boleh dilakukan dari prilaku Jahiliyah, bahkan harus dijauhi selamanya. Para wanita di era Jahiliyah primitive, ketika sedang thowaf mengelilingi Baitullah, tidak mengenakan busana alias (telanjang). Kemudian berlomba-lomba membuat patung-patung, kemudian disembahnya. Mereaka berkeyakinan patung itu bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Semua sahabat Nabi SAW, Salafusholih, serta ulama dari waktu-kewaktu benar-benar menjaga etika dan sopan santun terhadap Baitullah. Memulyakan dan menghormati Rumah Allah, berarti meng-agungkan Allah SWT. Sebaliknya, jika meremehkan Baitullah sama dengan melecehkan Allah SWT dan Rosulullah SAW. Ibn Abbas ra selalu menempelkan tubuhnya di Ka’bah setiap beliau berada di Makkah, karena yang demikian juga dilakukan oleh Rosulullah SAW.

Rupaya, di era modernisasi, dimana tuntutan ekonomi semakin tinggi yang ditandai dengan hotel-hotel mewah nan megah yang dilengkapi dengan gemerlap duniawi, seperti; pertokoan baju-baju mewah, busana-busana wanita yang serba wah, intan dan emas permata,. Membuat para pemukim, penziarah haji dan umrah tidak lagi meng-agungkan rumah Allah SAW sebagaimana Nabi ajarkan. Mereka terlihat lebih enjoy dan betah di hotel dan tempat belanja dari pada berlama-lama di Masjidilharam.

Itulah realitas yang terjadi yang tidak bisa dibantah lagi, kecuali orang-orang tertentu yang hatinya selalu tergantung di masjid, sebagaimana pesan Rosulullah SAW yang artinya:’’ tujuh orang yang akan mendapatkan perlindungan Allah SWT, ketika tidak ada perlindungan apa-pun, imam yang adil, dua pemudaha yang bersahabat karena Allah SWT, dan laki-laki yang hatinya selalu tergantung di Masjid… (HR Muslim).

Tidak perduli dimana, orang yang mencintai dan memulyakan Allah SWT, akan selau memulyakan dan mengagungkan Baitullah ( masjid) dimana saja berada. Sebaliknya, banyak sekali orang yang kelihatan masuk masjid, tetapi justru menodahinya dengan prilaku, kata-kata yang tidak patut di lakukan seorang muslim.

Ketika saya menunaikan ibadah umrah, biasanya setiap hari melakukan thowaf sunnah sebagai bentuk meng-agungkan Baitullah. Secara tidak disengaja, kudapatkan wanita Indonesia yang usianya kira-kita 23-30 tahun bergerombol antara rukun Shami dan Yamani sedang berbisik-bisik. Dari segi kecantikan, mereka tergolong nayamul (lumayan). Tidak kuduga dan tidak pernah terbesit dalam benakku, jika ternyata wanita-wanita itu adalah tim marketing mencium Hajar Aswad.

Ketika kakiku sampai di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad, kutemukan grombolan pemuda Indonesia menyapa:’’ Pak Haji sudah mencium Hajar Aswad ya? Saya jawab:”saya penduduk tinggal di Makkah, ngak perlu dibantu’’. Mendengar jawabanku, mereka merasa kaget. Ahirnya saya mencuri gambar mereka melalui ponsel BB-ku yang sudah mulai kuno. Rupanya, para pemuda yang menawarkan Jasa ngecup Hajar Aswad itu sudah rapid an teratur. Buktinya, mereka tidak merasa berdosa, malu, ketika menawari, dan mengantar orang dengan sikut sana dan sini pada sesame pencium Hajar Aswad.

Dan yang lebih menarik lagi, seiring dengan ketatnya persaingan ekonomi, jasa mencium Hajar Aswad juga ikutan naik, seperti ributnya masyarakat Indonesia terhadap naiknya BBM. Sekali mencium, ada yang mentaget 100-200 SR, bahkan ada yang memaksa seperti maling dengan mematok 500 SR. Bukankah ini prilaku Jahiliyah Modern yang tidak pantas mengaju sebagai umat Rosulullah SAW.

Bukan hanya tariff mencium Hajar Aswad yang naik, tariff jasa mendorong Thowaf juga naik drastic, 300-400 SR, tergantung masa kesulitan. Begitu juga dengan tariff mendorong sai, bisa mencapai 100-250, tergantung kesepakatan. Saya sempat bertanya kepada para pendorong itu, berapakah hasilnya kerja dorong setiap hari? Mereka menjawab realtif, tergantung dengan rejeki. Kadang dalam sehari bisa mendorong 3-4 kali, bahkan lebih.

Para marketing dari kalangan wanita yang bergerombol di area mathof (tempat thowaf), serta para pemuda yang menjual jasa mencium Hajar Aswad saya analogikan dengan wanita-wanita Jahiliyah yang thowaf dalam kondisi tidak berbusana, walaupun tidak persis. Yang membedakannya, antara mereka ialah, para wanita dan pemuda di atas adalah orang islam yang tahu, bahwa itu bukanlan ajaran islam, tetapi tetap saja melakukanya, tanpa meresa berdosa sedikit-pun. Sementara wanita Jahiliyah yang telanjang itu benar-benar belum mendapat hidayah dari Allah SWT.

Terlepas dari semua informasi dan realitas yang terjadi dilapangan. Dapat disimpulkan bahwa tidak semua orang yang bermukim di Makkah itu berniat berniat beribadah kepada Allah SWT. Ternyata, banyak maling, copet, serta peminta-minta yang memperdayai setiap jamaah haji dan umrah. Dan, tidak semua orang yang datang menunaikan ibadah haji dan umrah di makkah itu semata-mata karena Allah SWT. Nabi SAW pernah memperdiksi ada empat tujuan, seperti; popularitas, status, picnic, meminta-minta. Semua itu sudah nyata dan terbukti.

Pantas saja jika Rosulullah SAW mengatakan:’’sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat (HR Bukhori dan Muslim). Imam Muslim, Bukhori, Ibn Rajab Al-Hambali, Imam Nawawi meletakkan hadis ini paling depan karena betapa pentingnya niat. Imam Nawawi mengingatkan di dalam catatanya:’’aku selalu awali setiap karya tulisku dengan hadis ini, dengan tujuan mengingatkan kepada setiap pencari ilmu menata kembali niatnya karena Allah SWT’’. Semua amal yang baik harus diniati karena Allah SWT, agar menjadi amal ibadah, sehingga kelak menjadi bekal perjalanan abadi menghadap Allah SWT.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook