Posted by Abdul Adzim Irsad On April - 21 - 2017 0 Comment

Disetiap gedung perkantoran di jakarta,  selalu ada masjidnya. Setiap partai politik, dikantornya juga ada masjidnya. Maka, masjidnya-pun warna warni, Golkar, masjidnya cenderung kuning, PDI merah, PKB hijau, PAN biru, PKS putih. Semua digunakan untuk sholat berjamaah.

IMG-20170421-WA0045

Bahkan setiap etnis, selalu memiliki corak masjid yang berbeda, sebut saja masjid Sunan Kudus, bentuknya mirip pura. Sementara masjidnya orang china mirip kleneteng, bahkan masjid di Turkey itu bekas gereja. Tida dirubah, hanya fungsinya saja yang dirubah.

Sementara masjid-masjid di Eropa, sebagian besar bentuknya seperti Gereja, karena memang bekasnya gereja. Kalau sholat di situ tetap sah, karena syarat sholat itu tidak harus dimasjid berbentuk seperti masjid di Arab.
Yang menarik lagi, sebagian para pekerja di MNCTV melaksanakan sholat lima waktu di musolla yang dibangun di dalamnya.

Bahkan, ada masjid di dalam gedung-gedung itu. Menariknya, masjid-masjid itu yang bangun bukan orang islam, tetapi para pemilik perusahaan tersebut.

Masjid KH Hasyim Asaary Jakarta.

Ada segelintir orang yang kurang kerjaan. Ngangab, bahwa masjid KH Hasyim Asaay itu bentuknya seperti salib. Menariknya lagi, yang berpendapat itu banyak orang islam. Bisa jadi, karena kurang picnic, atau kurang ngerti peradapan, atau karena kebencian yang mendalam terhadap NU. Banyak fakotor yang menyebabkan kebencian terhadap NU. Karena yang bangun pemerintahan DKI, maka menganggab masjid dhirar. Tentu saja ini sangat mengelikan, luci dan lebay. Orang jawa bilang “ngilani”. Masak orang islam isinya hatinya kok iri dan dengki kepada sesama muslim. Padahal pesan Nabi Itu “jadilah kalian hamba yang saling bersaudara”.

Sholat Jumat Perdana di Masjid KH Hasyim Asaary Jakarta

Salah satu kewajiban setiap muslim itu adalah memakmurkan masjid, muali jamaahnya, ekonomi dan peribadanya. Masjid itu bukan saja tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagaamaan, sebagaimana pada masa Rosulullah SAW. Masjid itu menjadi pusat kajian agama, bukan pusat provokasi. Nabi SAW mengingatkan, jangan sampai menjadi “khutobau Al-Fitnah” penebar fitnah melaluu mimbar. Jadilah penebar perdamaian dan kesejukan melalu mimbar-mimbar masjid.

masjid kyai hasim

Hari jumat, akhir bulan Rajab (21 April, 2017), Masjid Raya KH Hasyim Asaary Jakarta digunakan shalat Jumat Perdana. Bulan ini sangat istimewa, karena umat islam sekitarnya menunaikan sholat jumat. Barangkali, orang yang berpendapat bahwa masjid raya KH Hasyim Asaary itu dhirar, akan semakin sakit hatinya. Bisa jadi, orang yang berpendapat begitu, menganggab bahwa jamaah yang sholat di situ di sah. Maka, orang tersebut perlu diperiksakan kemampuan agama dan fikihnya.

Masjid KH Hasyim Asaary yang diresmikan oleh Presiden Jokowi, Sabtu 15 April 2017 dihadiri sekitar 6000 jamaah. Ini baru keren, sekaligus menjawab atas tuduhan bahwa masjid itu masjid dhirar. Salah satu masjid yang dikatakan masjid berkah, banyak di datangi jamaahnya, serta betah shloat dan I’tikaf di dalamnya. Salah satu ciri khas khotib yang sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW, selalu menebarkan salam dan perdamaian, santun, serta mengajak berbuat baik kepada sesama.

Sebaliknya, salah satu ciri khas khotib yang dikatakan Khutobau Al-Fitnah, melalu mimbar masjid, menebarkan benih-benih kebencian, permusuhan sesama pemeluk agama, dan sesalam anak bangsa. Islam Indonesia, yang dikenal dengan “wasatiyah” moderat selalu mengajak umat agar bersikap modert, menjaga hati dari prilaku-prilaku yang tidak selaras dengan ajaran Al-Quran dan bertentangan dengan sunnah Rosulullah SAW pada sahabatnya.

Berlaku sebagai Khathib sekaligus Imam, KH Zuhri Ya’qub, Wakil Rois Syuriah PWNU DKI dan Ketua DKM Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jakarta. Dalam khutbahnya, KH Zuhri Ya’qub mengingatkan soal pentingnya bersihnya hati dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, ujub, angkara, marah, hasud dan penyakit-penyakit hati lainnya. Karena, sesuai Sabda Nabi Muhammad SAW, apabila hati baik maka seluruh kebaikan akan meliputi seorang hamba, namun sebaliknya, segala keburukan merupakan hasil dari hati yang buruk.

Sebelumnya pada Hari Senin, 17 April 2017, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersama Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat mengunjungi Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari menghadiri acara Tasyakuran peresmian.
Dalam kesempatan itu, KH Said Aqil Siroj juga mengukuhkan Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari sebagai masjid yang sesuai dengan Islam Ahlus Sunnah Waljamaah An Nahdliyah dalam penandatanganan sebuah prasasti.
Dalam kesempatan itu pula, KH Said Aqil Siroj mendoakan semoga Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari menjadi benteng Islam yang toleran, Islam Nusantara.

HUMAS DKM
Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari Jakarta


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook