Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 6 - 2013 1 Comment

BAKSOSetiap orang yang belum pernah datang ke kota kelahiran Nabi Muhammad ini, seringkali membayangkan kalau gersang, tandus, tidak ada sayur-sayuran. Ketika sampai ditanah suci Makkah, semua terbelalak, ternyata apa yang dibayangkan dalam benak mereka selama ini. Seiring dengan perkembangan waktu, Makkah sudah menjadi pusat belanja, kuliner, busana, bahkan tehnologi, mulai paling klasik sampai paling canggih.

Tidak dipungkiri memang, kalau suhu udara Makkah kering panas membuat masyarakat Makkah mengalami keterbatasan variasi makanan. Karena tanah Makkah kering, maka tidak semua jenis tumbuh-tumbuhan bisa hidup, apalagi sayur dan buah-buahan, kecuali kurma yang menjadi ciri khas buah Arab. Namun, seiring dengan perkembangan waktu, dimana Makkah menjadi pusat pertemuan umat islam setiap tahun, bahkan setiap waktu. Maka, secara bertahap, perlahan tapi pasti, Makkah berubah drastis.Masing-masing etnis (Negara/bangsa) memperkenalkan makanan tradisional mereka masing-masing.

Berbagai suku bangsa dan negara, mulai dari Afrika dan Asia, Eropa, Amerika, yang datang menunaikan ibadah haji dan umrah mengenalkan makanan tradisionalnya. Bahkan, seiring dengan kemajuan tehnologi, Makkah semakin megah, maka semakin menarik orang untuk tinggal dan bekerja di dalamnya. Semakin banyaknya warga asing yang bekerja di Makkah, semakin membuka peluang bagi pengusaha kuliner untuk membuka rumah makan (restaurant), baik yang elit maupun yang biasa. Tujuanya untuk mememenuhi selera kuliner masyarakat Makkah yang hiterogen. Pada umumnya, sebagian besar hidangan khas Arab  mengandung daging, beras, gandum, sayuran, dan rempah-rempah dengan resep dan cita-rasa khusus. Tetapi saat ini, semua restaurant sudah tersedia.

Sate, Pecel, Rawon, Gule, Rendang, Gudeg, Bakso,  bahkan semua jenis masakan khas Indonesia bisa diperoleh di Makkah dan Madinah, Jeddah. Bahkan, masing-masing daerah nenampakkan diri, seperti; sate lomobok, masakan padang, sotor Madura, Bakso Cak Dul, Restaurant Sumatra. Semua  itu bisa bisa diperoleh di Makkah dan Madinah dengan mudah. Masakan khas Arab, seperti Sambousek (sejenis kue yang digoreng),  Nasi Al-Mandi (domba panggang), Shawarma, dan Soubiya (minuman dari gandum yang dicampur gula, susu, dan kayu manis), merupakan beberapa contoh menu favorit di Makkah. Al-Baik, KFC, MC, Tom Yum, Chinas Food, dll. Makkah menjadi pusat kuliner halal terbesar dunia.

Salah satu ciri khas masyarakat Makkah yang tidak dimilili masyarakat lain ialah,  hampir semua masyarakat Makkah memberikan jamuan Gahwah (kopi Arab), atau the kepada setiap tamu yang berkunjung ke kediaman mereka. Karena ini menjadi ciri khas, maka setiap restourat selalu menyediakan teh atau ghohwah. Bagi jamaah haji dan umrah yang sudah terbiasa dengan makanan-makanan Arab (Makkah), sekarang sudah bisa dengan mudah diperoleh di Indonesia, karena jaman sudah menyatu menjadi satu.BAKSO

One Response so far.

  1. aktivis mengatakan:

    Insya Allah Indonesia Berikutnya


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook