Posted by admin On April - 26 - 2011 3 Comments

Makkah merupakan pusat ilmu agama. Semua ilmu agama bersumber dari al-Qur’an dan Hadis. Sedangkan keduanya berasal dari Makkah. Nabi SAW. membangun keyakinan dan ketauhidan di Makkah dalam kurun waktu 13 tahun. Beliau berjuang siang dan malam agar aqidah uluhiyah dan rububiyah tertanam kuat pada sahabatnya. Para ulama Mujtahidin, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Syafi’i dan Ibnu Hanbal, Ibnu Qayyim, Imam Nawawi, Ibnu Hajar al-Haitami, Ibnu Hajar al-Asqalani serta banyak lagi ulamabesar lainnya, pernah mengenyam pendidikan di Makkah dan tabarrukan terhadap Baitullah di Tanah Suci Makkah.

santri

santri makkah

Seiring dengan kemajuan zaman, eksistensi Makkah semakin maju dan berkembang. Baik dalam bidang teknologi, ekonomi atau pendidikan. Pemerintah Arab Saudi menjadikan Makkah seperti dahulu, yaitu menjadi pusat pendidikan agama. Kepedualian pemerintah Saudi bisa dilihat dari aktivitas Masjidil Haram. Setiap sholat ashar, magrib dan shubuh terjadwal rapi. Berbagai bidang ilmu agama, seperti ilmu tafsir dan hadits, dan fiqh diajarkan. Para pengajarnya sangat kompeten dan profesional sesuai dengan bidangnya, termasuk para Imam Masjidil Haram serta ulama’-ulama’ dan doktor-doktor yang tidak diragukan lagi kemampuan pengetahuan agamanya.

Di pintu Malik Fahad bin Abdul Aziz juga terdapat lembaga pendidikan formal yang disebut dengan Ma’had Haram. Pelajar-pelajar dari berbagai negara seperi Indonesia, Afrika, India, Pakistan, diterima belajar di sana. Tentunya setelah melalui seleksi yang ketat serta mengikuti aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati oleh kerajaan. Pelajar-pelajarnya juga mendapat bantuan (beasiswa) setiap bulan dari pemerintah.

Di tempat lain, yaitu di Rusaifah, terdapat lembaga pendidikan non-formal yang didirikan oleh almarhum Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Kebanyakan muridnya berasal dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Sayyid Muhammad terkenal dengan ilmu haditsnya, sehingga banyak dari karya-karyanya mengupas tuntas seputar hadits dan Sirah Nabawiyah, seperti Muhammad Insan Al-Kamil, Khasois Ummat Muhammadiyah, al-Manhal al-Latif.

Murid atau santri-santri Abuya -pangilan akrab Sayyid Muhammad- dibagi dua. Pertama, tinggal di komplek yang telah disediakan. Semua kebutuhan hidupnya dibiayai oleh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliky al-Marhum. Mereka juga seringkali mendapatkan tunjangan berupa uang setiap bulan sekali, kadangkala dua bulan sampai tiga bulan. Kedua, santri yang tinggal di luar komplek. Mereka sebagian besar bermukim di Rubat Jawi Hasyim yang terletak di Misfalah. Sebagian lagi menyebar di sekitar Masjidil Haram. Mereka mengikuti pengajian yang dipimpin langsung oleh Sayid Muhammad Alawi al-Maliki setelah Maghrib. Sedangkan setelah sholat Isya’ dilanjutkan oleh Syeh Jabir, serta para Masayikh yang telah mendapatkan restu dari Sayyid Muhammad.

Setelah sekian lama mengajar dan menjadi rujukan santri, pada tahun 2005 -tepatnya bulan Romadhan, hari Jum’at- beliau wafat. Sepeninggal beliau, putranya Sayyid Ahmad bin Muhammad secara resmi dibai’at menjadi penggantinya. Pengajian yang diasuh oleh Sayyid Muhammad masih berjalan lancar seperti biasa di bawah bimbingan Sayyid Ahmad bin Muhammad Alawi.

Tidak jauh dari tempat beliau, ada ulama yang bernama Syekh Muhammad bin Ismail. Beliau mempunyai halaqah pengajian setiap hari. Muridnya mayoritas berasal dari Indonesia, khususnya dari daerah pulau garam Madura, Lombok serta sebagian Jawa dan luar Jawa. Pada bulan Ramadhan juga membuka pengajian umum. Biasanya mengkaji kitab-kitab klasik, seperti Bahjatun Nufus, Shohih Bukhori dan Shohih Muslim. Para santri tekun mengikuti pengajian yang diasuh langsung oleh Syeh Muhamad Ismail.

Di dekat Masjidil Haram terdapat sekolah yang mengajarkan ilmu-ilmu agama. Sekolah ini bersifat formal, bahkan lulusannya bisa melanjutkan ke Universitas al-Azhar Mesir. Sekolah ini dikenal dengan nama Madrasah Shalatiyah. Murid-muridnya banyak dari muwallad (sebutan orang yang lahir di Makkah). Baik dari Asia, India, Pakistan, Bangladesh, Syiria, Mesir, Sudan atau Afrika. Adapun murid yang berasal dari Indonesia didominasi dari Lombok, Madura, dan Jawa. Madrasah ini memakai bahasa Arab. Staf pengajarannya juga mempunyai kompetensi keilmuan di bidangnya. Mereka banyak dari doktor-doktor Umm al-Qura University, Pakistan dan Mesir.

Di Makkah juga terdapat universitas yang dikenal dengan nama Umm al-Qura. Universitas ini satu-satunya lembaga pendidikan tinggi formal pemerintah. Letaknya di daerah al-Aziziyah. Dan mulai dibuka kampus baru di daerah al-Abidiyah (dekat Arafah). Lembaga ini mengajarkan berbagai macam disiplin ilmu, mulai dari ilmu Ushuludin sampai ilmu eksakta (Kedokteran, Fisika, Biologi). Para pengajar di Universitas Umm al-Qura adalah Imam-imam Masjidil Haram, seperti Syeh Dr. Abdurahman Sudais, Syeh Dr. Ibrahim Suraim, Syeh Subail, dan lain-lain.

Mahasiswa yang menuntut ilmu di Umm al-Qura berasal dari berbagai negara di dunia. Mereka mendapatkan beasiswa, asrama, serta subsidi makan tiga kali sehari. Bagi mahasiswa asing, setiap masa liburan, kampus memberikan visa dan tiket gratis guna liburan di negaranya masing-masing. Setiap tahun Universitas ini menerima mahasiswa baru sekitar 30-70 orang yang berasal dari Asia, Amerika, India, Australia, Afrika. Biasanya Indonesia mendapat empat bagian dari jumlah tersebut. Walaupun ahkir-akhir ini jumlah mahasiswa tidak sebanyak tahun-tahun lalu, namun pemerintah Saudi tetap memberikan kesempatan bagi putra-putri bangsa Indonesia untuk menuntut ilmu.

Dari masa ke masa, mahasiswa mengalami berbagai perubahan. Di era awal, mahasiwa Indonesia sangat aktif dalam memburu ilmu agama, mulai dari belajar di Masjidil haram sampai halaqah-halaqah ulama. Ketika musim haji tiba, mereka ikut serta menjadi pembimbing (mursyid/guide) jama’ah haji. Sebagian besar terjun di ONH khusus. Ada juga yang tidak berkehendak memburu ilmu di halaqah-halaqah di Masjidil Haram. Mereka lebih suka belajar di kampus. Sedangkan pada bulan Ramadhon dan musim haji mereka sempatkan menjadi guide jama’ah umrah dan haji. Ini sudah menjadi fenomena  yang tidak asing lagi. Bahkan ada juga yang memanfaatkan waktunya selama di Makkah hanya untuk menjadi guide.

Selain itu, komunitas orang Indonesia yang tinggal di Makkah juga mempunyai lembaga pendidikan formal yang dikenal dengan Sekolah Indonesia Makkah (SIM). Berdirinya sekolah ini dulunya diawali dengan adanya Yayasan Al-Ma’arif sebagai cikal bakal sekolah. Berdirinya Sekolah Indonesia Makkah tidak luput dari kegigihan almarhum Bapak Baharuddin Lopa,[1] serta Ir. Fuad Abdul Wahab[2], juga perjuangan warga Indonesia yang bermukim di Makkah. Pemukim-pemukim yang memiliki kemampuan mengajar dan berijasah S1 juga ikut mengajar di sekolah ini, sehingga dapat dikatakan sekolah Indonesia Makkah pada saat ini sudah mulai eksis. Seiring dengan berjalannya waktu, sekolah ini mulai banyak dikenal oleh masyarakat luas sehingga tidak menutup kemungkinan sekolah ini akan menjadi sekolah unggulan.

Sistem sekolah yang baru berdiri ini masih merujuk pada pendidikan di Indonesia di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. Proses belajar mengajar juga mengunakan bahasa Indonesia, walaupun setelah maghrib ditambah dengan tahfizhul Qur’an. Sekolah Indonesia Makkah juga mendapat perhatian luas dari masyarakat dan pemerintah Indonesia. Sekolah ini masih terus berbenah untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan. Para pendiri juga berharap sekolah Indonesia ini bisa ikut berpartisipasi pada pendidikan nasional


[1].Saat itu, beliau menjabat sebagai duta Besar RI, beliau tidak hanya menyumbang moral, tetapi beliau juga menyumbang vinansial demi terwujudnya SIM.

[2].Beliau adalah warga Indonesia Asli, ia menekuni usaha pengiriman barang yang terkenal dengan “Amir Cargo”. Beliau juga aktif dalam organisasi sosial kemasyarakatan, seperti; NU, ICMI, FORMIDA (Forum Masyarkat Jeddah). Bahkan beiau menjadi ketua Tanfizdyah NU Cabang Istimewa Arab Saudi. Beliau juga menjadi rujukan warga NU yang bermukim di Arab Saudi. Kontribusi beliau sangat besar terhadap pertumbuhan serta pendidikan yang ada di Makkah dan Jedah, baik yang formal atau Non Formal.

3 Responses so far.

  1. maira says:

    asalammualaikum,
    apakah ada perkumpulan mahsiswa indonesia di kota mekkah, dan madina apa namanya , mohon info email nya juga makasih

  2. I simply want to mention I’m newbie to weblog and honestly loved this blog site. Likely I’m going to bookmark your website . You amazingly come with excellent articles and reviews. Bless you for sharing your blog site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook