Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 7 - 2011 2 Comments

arafah, sekolah, makkah, madinah,Haji merupakan rukun islam yang terahir, ternyata menyimpan sejuta cerita dan keajaiban. Umrah ialah sebuah ritual ibadah yang menjadi pelengkap ibadah haji. Di dalam sebuah ayat Allah Swt berfirman yang artinya:’’ Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah’’.[1] Ayat ini seolah-oleh mengatakan, bahwa haji itu tidaklah sempurna jika tidak diikuti pelaksanaan umrah. Dengan kata lain, haji dan umrah merupakan satu paket yang saling melengkapi.

Wajarlah kiranya jika orang desa yang telah menunaikan Ibadah haji ke kota suci Makkah benar-benar teperanjat ketika melihat ke-agungan, kemegahan, serta ke-indahan Baitullah. Tetangga, teman dan kerabat berdatangan silih berganti untuk mengharap berkah do’anya. Walaupun, tuan rumah yang baru datang dari Makkah itu, kadang harus kesulitan, bahkan tidak bisa sama sekali mengucapkan do’a. Tetapi, dengan PD-nya, tetap bero’a dengan harapan berkahnya mengalir kepada setiap orang yang meng-amini do’a itu.

Yang lebih menarik lagi, ternyata cerita-demi cerita seputar tanah suci, ka’bah, Makam Ibrahim, Hajar Aswad, air Zam-zam disampaikan dengan antusias. Cerita itulah yang membuat tamu-tamu semakin merindukan kota Makkah.  Megahnya kota Makkah, menyimpan kekuatan, sehigga ribuan manusia mampu menceritakan pengalaman-pengalaman pribadinya kepada tamunya dengan redaksi dan stile (gaya) masing-masing. Rupanya, jama’ah haji itu seolah-olah menyampaikan pesan RUMAH ALLAH kepada para tamu, agar dikunjungi juga oleh mereka.

Haji berasal dari bahasa Arab, menurut pengertian sederhanya ialah”menuju kota Makkah”. Sedangkan secara istilah (etismologis), haji berarti pergi menuju tempat yang diagungkan (Makkah). Sedangkan menurut istilah fikih, para ulama’ sepakat bahwa pengertian Haji menurut (terminologis), berangkat menuju Makkah dengan tujuan melakukan ritual ibadah tertentu dengan melaksanakan manasik haji, pada waktu (start zamani)[2] dan (start Makani), tertentu dengan cara yang tertentu pula.  Imam al-Jurjani mengatakan:’’ Haji ialah niat menuju baitullah dengan sifat-sifat tertentu, waktu tertentu serta syarat-syarat tertentu.[3]

Nabi sudah bisa membaca apa yang akan dialami oleh pengikutnya, bahwa sutau ketika pelaksanaan haji pasti akan banyak perbedaan. Oleh karena itu, beliau mewanti-wanti kepada semua pengikut setianya, agar supaya meneladani manasik beliau Saw secara utuh. Ketika Nabi Saw sedang berada di Mina (mabit), setelah merampungkan jumrah akobah,Saw menuturkan:

”Ambilalah kalian semua dariku, tata cara melaksanakan manasik haji, sesungguhnya aku tidak mengerti, barangkali aku tidak bisa menunaikan haji setelah haji sekarang ini (H.R Ahmad).

Kendati demikian, realitas dan fenomena yang berkembang dimasyarakat masih banyak perbedaan tata cara pelaksanaan ibadah haji, seperti mikot haji dan umrah di Jeddah. Hadis ini menjadi rujukan utama, di dalam melaksanakan manasik haji, hendaknya sesuai dengan tuntunan Nabi Saw. Yang jelas, hadis ini menjadi motifasi bagi setiap ulama’ serta jama’ah haji dan umrah agar supaya menyempurnakan ibadah sesuai dengan sunnah (tuntunan) Nabi Saw.

Sedangkan Haji jika dilihat dari segi filsafat, sebuah ritual kegamaan yang mana pelaksanaannya mesti diawali dengan niat yang suci, menuju tempat yang suci. Oleh karena itu, seorang jama’ah haji disunnahkan mengenakan pakain serba putih bersih, yang mencerminkan kebersihan dan ketulusnan hatinya. Dan, ketika sedang berada di Arafah, semua melakukan ritual wukuf, lisan mereka tak henti-hentinya mengucapkan :’’Ya Allah, aku penuhi panggilanmu’’ Labbaik Allahuma Labaik’’.

Selama pelaksanaan manasik haji, semua orang dilarang mengenakan pakain berjahit atau yang berwarna warni serta wewangian. Seolah-olah Allah ingin mengatakan:’’ wahai hambaku, sejauh mana ketundukan kalian kepadaku (Allah). Pada saat itulah, manusia benar-benar dituntut patuh nan tunduk terhadap-Nya, semua apa yang diperbolehkan menjadi larangan hingga usai pelaksanaan ibadah haji (umrah). Jika seorang haji memulai dengan niat bersih, tulus, serta biayanya bersih dari barang-barang terlarang, maka ia akan bersih dari segala dosa-dosa, bagaikan bayi yang baru dilahirkan ibunya.

Setelah melaksanakan ritual haji dan umrah di Makkah. Jangan lupa menyempurnakan dengan mengunjungi Nabi Saw di Madinah. Mereka-pun pulang ke-negerinya masing-masing. Proses ibadah yang melelahkan itu seolah-olah menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Ibarat anak sedang menempuh ujian, jika lulus dengan nilai baik, maka ia berhak mendapat nilai the best. Dan, nilai yang tepat bagi mereka ialah’’Gelar Haji Mabrur’’. Gelar inilah yang akan mengantarkan pada sebuah prilaku yang positif, baik tutur, tindakan, dan sikap sehari-sehari ditenggah-tenggah masyarakat. Jika prilaku, tindakan, sikap, ternyata negative, maka tidak pantas menyandang  “GELAR HAJI MABRUR’’, dengan istilah lain selama sekolah di Makkah belum lulus.

 


[1] . Q.S Al-Baqarah (2:196)

[2] . Bulan Syawal, Dzulq’dah dan Dzulhijjah.

[3] .  Al-Zuhaili, Muhammad.Dr. Al-Islam Fi al-Madi wa al-Hadir-Dar al-Qolam-Damaskus. 1993.

2 Responses so far.

  1. Reginald Esponda mengatakan:

    I just want to say I am beginner to blogging and seriously savored this web site. Very likely I’m going to bookmark your blog . You surely have very good articles and reviews. Cheers for sharing your web page.

  2. Denae Horkley mengatakan:

    I simply want to mention I’m new to blogging and site-building and actually savored this page. Almost certainly I’m planning to bookmark your blog post . You absolutely have superb article content. Appreciate it for revealing your blog site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook