Posted by Abdul Adzim Irsad On Oktober - 2 - 2011 1 Comment

Biasanya, menjelang musim haji tiba dan setelah rampung ibadah haji, Makkah selalu mendapatkan kiriman air dari langit (hujan) deras, sebagai bentuk sambutan terhadap hamba-Nya. Memang Makkah gersang nan tandurs, tetapi walaupun kondisinya Arab Saudi (Makkah) bebatuan dan padang pasir, ternyata sering juga turun hujan.  Bahkan, tidak jarang hujan deras itu menjadikan Makkah banjir, sehingga membuat masyarakat Makkah panic.

Kepanikan itu diakibatkan karena jarangnya hujan deras yang berakibat pada banjir. Kepanikan yang berikutnya, karena jarangnya hujan, pemerintah-pun tidak menyediakan saluran air yang mapan, wajar jika kemudian dihantam hujan bertubi-tubi itu menjadikan banjir. Dan kondisi banjir itu sudah sering terjadi, sejak dulu.  Namun, ada sebagian orang yang berfikir negative terhadap Makkah, bahwa banjir itu terjadi karena masyarakat Makkah sudah banyak yang melakukan maksiat, dan tidak memperdulikan lagi terhadap ajaran al-Qur’an.

Opini ini tidak benar sepenuhnya. Sebab, di jaman Kholifah Umar Ibn al-Khatab ra, juga pernah terjadi banjir bandang. Saking hebatnya banjir itu, Makom Ibrahim pernah terbawa air (kenyot) hingga ke-Misfalah. Jadi, banjir yang terjadi di Makkah itu memang sering terjadi, bukan Sesutu yang aneh. Tetapi bukan karena semata-mata masyarakatnya banyak melakukan pelanggaran Allah Swt. Walaupun tidak dinafikan, bahwa tidak sedikit orang-orang Arab Saudi yang bermukim di tanah suci Makkah, telah menodainya ke-sucian tanah suci ini dengan beraneka ragam maksiat dan pelanggaran hak-hak asasi manusia, seperti; kedzoliman terhadap tenaga kerja Indonesia.

Terlepas dari itu semua, yang jelas hujan di awal musim haji ini termasuk rahmat dari Allah Swt bagi jamaah haji Indonesia. Hujan deras yang dibarengi dengan es itu biasanya menjadi awal masuknya musim dingin.  Dengan ditanadi hujan, jamaah haji tahun ini tidak akan merasakan kepanasan yang hebat. Seperti bulan puasa kemarin, suhunya sangat tinggi (8/2011), karena begitu panasnya, sampai-sampi udara (angin) di (Makkah) begitu panas terasa, konon suhunya mencapai hingga 40-45 Derajat Celsius. Dengan suhu tinggi seperti itu, bisa dipastikan masyarakat Indonesia yang mayoritas bermukim di daerah tropis akan sulit beradaptasi. Apalagi, mereka akan berlama-lama di kota suci Makkah dan Madinah.

Hujan deras pada bulan ini (Oktober, 2001/Syawal), termasuk hujan di bulan haji. QS al-Baqarah (2:197) yang artinya:’’(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi’’. Yang di maksut bulan yang dimaklumi ialah;’’ Syawal, Dzulqo’dah dan Dzulhijjah’’. Jika direnungi dengan seksama, ketika Allah Swt menjelaskan bahwa bulan haji (mikat zamani) itu dimulai pada bulan tersebut. Sudah sayogjanya, setiap calon jamaah haji, baik yang sudah berangkat atau yang masih di Indonesia, harus berhati-hati. Larangan-larangan yang harus dijauhi, seperti; bertengkar (al-Jidal), berbuat maksiat (fusuk) dan bercinta (Rofast) harus dihindari, karena akan menjadikan pahala haji tidak sempurna.

Haji deras pada awal musim haji ini, membuat udara panas menjadi lebih sejuk sangat pas dengan udara Indonesia pada umumnya. Debu-debu yang membuat sesak nafas, saat ini sudah tidak terasa lagi. Udara Makkah menjadi bersih dan sehat, seolah-olah Allah Swt tahu, bahwa yang akan datang menghuni tanah suci Makkah adalah orang-orang yang hatinya bersih karena ingin menunaikan rukun islam yang ke-lima. Semoga, kebersihan kota suci makkah, dan kebersihan hati jamaah haji tidak ternoda oleh debu-debu maksiat. Para penyelengara haji juga bisa memberikan pelayanan terhadap tamu-tamu Allah Swt, sebagaimana Allah Swt memperhatikan tamu-tamu-Nya.

One Response so far.

  1. Terrell Estes mengatakan:

    I just want to tell you that I’m very new to weblog and certainly enjoyed your web site. More than likely I’m going to bookmark your blog post . You certainly come with tremendous posts. With thanks for sharing with us your web site.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook