Posted by Abdul Adzim Irsad On Maret - 27 - 2014 0 Comment

Setiap orang mukmin yang datang di Makkah, sudah pasti merasakan kalau kesakralan kota suci itu sudah hambar. Bangunan-bangunan megah mengelilingi Baitullah, mall di mana-mana, membuat kesakralan Baitullah terusik dengan bangunan hotel-hotel mewah. Apalagi di dalam bangunan hotel itu juga di jual produk-produk baju wanita yang memamerkan aurat (walupaun boneka), tetapi itu tidak pantas, dan menodahi kesucian kota ini.

Sungguh memprihatinkan. Tidak satu-pun kekuatan yang mampu menolong kota suci Makkah ini dari modernisasi. Kecuali tangan Allah SWT dengan kekusaannya yang tiada terbatas. Bisa jadi, kondisi seperti ini akan menjadi puncak kapitalisme Makkah, sehingga ahirnya Allah SWT kekal mengembalikan kesakralan rumah-Nya dengan kekusaan yang maha mutlak.

Dalam sebuak pernyataan atau tulisan-tulisan ada sebuah keluh kesah yang bunyinya “‘Sekarang kita sudah terlambat menolong Makkah, namun kita belum telat mencegah bencana serupa terjadi di Madinah.

Makkah tidak lagi sakral untuk beribadah. Demikian diungkapkan sejarawan Makkah dan Madinah, Dr. Irfan al-Alawi, yang juga sekaligus menjabat sebagai Direktur Eksekutif the Islamic Heritage Research Foundation dalam suatu wawancara, seperti dikutip dari Merdeka.com, Jum’at (21/03).

Menurutnya, Makkah kini sudah menjelma menjadi kota metropolitan dengan berbagai fasilitas modern dan nyaman. Pusat sejarah Islam itu, kini disulap seperti Manhattan dan Las Vegas.

Akibatnya, lanjut Dr. Irfan, dalam 50 atau 60 tahun terakhir, kita telah kehilangan hampir 4.500 situs Islam bersejarah semasa hidup Nabi Muhammad, ahlul bait, dan para sahabat.

Semua itu musnah dan digantikan dengan gedung besar menghadap ke arah Ka’bah. Bangunan ini berdiri dengan meratakan sejumlah tempat bersejarah, termasuk rumah Abu Bakar sekarang menjadi Hotel Hilton.

Bahkan, dalam perkembangan terbaru, modernisasi di Makkah bakal menggusur rumah kelahiran Nabi, diganti dengan perpustakaan dan istana imam Masjid Al-Haram.

Tak hanya itu, Rezim Wahabi juga telah menghilangkan kediaman Khadijah dan diganti dengan toilet dan kamar mandi terbesar di Masjid Al-Haram. Dr. Irfan mengaku prihatin ketika proses penggalian di rumah Khadijah sedang berlangsung. Sebab di sana, menurutnya terdapat ruangan tempat Fathimah dilahirkan dan Malaikat Jibril juga pernah bertamu ke sana. Perpustakaan yang sekarang berdiri di dekat Masjid Al-Haram pun dulunya merupakan rumah Aminah.

“Ini sangat penting bagi kaum muslim dari seluruh dunia untuk menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Sayangnya, umat Islam kadang lebih emosional terhadap apa menimpa Masjid Al-Aqsa ketimbang bencana dialami Makkah dan Madinah. Kita mesti lebih mengkhawatirkan apa yang terjadi Makkah dan Madinah di bawah kontrol Bani Saud menyebut mereka sebagai Islam sejati,” kata Dr. Irfan, dalam wawancara tersebut.

“Ketika tempat-tempat bersejarah di Makkah dan Madinah hilang, tidak ada yang protes. Ada begitu banyak petisi di Internet menentang rezim Wahabi di Saudi untuk melanjutkan kebijakan mengikis tempat-tempat bersejarah. Kita harus sadar soal apa yang telah terjadi di Makkah dan Madinah sejak 1924 sampai sekarang dan apa yang bakal terjadi di masa depan,” lanjutnya.

“Pelbagai gedung besar dan megah sudah banyak bermunculan di hadapan Kabah. Karena Makkah sudah tidak bisa lagi ditolong, kita masih bisa mencegah agar musibah serupa tidak menimpa Madinah. Apalagi Saudi sudah menyiapkan rencana memodernisasi Madinah seperti di Makkah. Kita harus menghentikan rencana itu sebelum terlambat. Sekarang kita sudah terlambat menolong Makkah, namun kita belum telat mencegah bencana serupa terjadi di Madinah.” Ujar sejarawan itu.

See more at: http://islamindonesia.co.id/detail/1598-Sejarawan-Makkah-Tidak-Lagi-Sakral-untuk-beribadah#sthash.h5GYbjOv.xleSsF7G.dpuf


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook