Posted by Abdul Adzim Irsad On Juli - 24 - 2013 0 Comment

Buka PuasaMemasuki Bulan suci Ramadhan tahun ini, suhu dua kota suci Makkah dan Madinah (Al-Haramaian) sangat panas, yaitu mencapai 35?-40? C. Penduduk Madinah menceritakan kalau panas seperti sudah berjalan sekitar tiga tahun. Biasanya, musim panas seperti ini akan berjalan sekitar 20 tahun. Baru kemudian berganti dengan musim dingin. Berarti, setiap tahun suhu kota suci Rosulullah SAW akan terus menerus panas hingga tahun 2030 suhud madinah akan berubah dingin.

Ketika musim panas di Madinah pada bulan suci Ramadhan ini, mengingatkan penulis ketika sedang ngaji di pesantren. Kala itu sang Kyai menjelaskan bahwa pengetian puasa itu dengan menahan diri dari tidak makan dan minum sejak matahari terbit hingga matahari terbenam. Begitulah yang dirasakan penulis selama berpuasa di Madinah, berat menahan lapar dan haus karena suhunya begitu panas.

Sebuah kumyaan bagi yang mendapatkan visa umrah dan bisa berangkat umrah tahun ini harus bersyukur, walaupun suhu dua kota suci panas. Banyak sekali yang mengajukan visa tetapi tidak bisa berangkat karena kuotanya memang terbatas. Itu juga menjadi pertanyaan para pemilik toko disekitar tanah haram (Madinah). Sebagian dari mereka mempertanyakan, kenapa jumlah jamaah  umrah Indonesia pada bulan Ramadhan tahun ini sedikit. Pemiliki toko di Makkah dan Madinah sangat terbantu oleh jamaah haji dan umrah Indonesia, karena jamaah Indonesia paling suka belanja.

Bagi orang tertentu, suhu yang begitu panas sangat menganggu. Malas menjalankan sholat berjamaah di Masjidilharam dan Nabawi, karena lebih betah di dalam kamar hotel yang suhunya begitu sejuk dan menyenangkan. Sedangkan bagi muslim sejati, panas terika matahari tidak akan mengurangi niat mereka di dalam meraih berkah dari duo kota ini.

Karakteristik menarik yang membuat setiap orang kangen untuk menunaikan ibadah di tanah suci adalah sebagai berikut:

Pertama:

Berbuka puasa di Masjidilharam dan Nabawi. Setiap orang kaya di dua tanah suci, bahkan di Negara-negara tetangga, seperti; Oman, Kuwait, Emirat, berlomba-lomba untuk memberikan jamauan ta’jil terbaik kepada setiap orang yang sedang menjalankan puasa Ramadhan. Masing-masing memiliki tempat khusus yang ditandai dengan sufroh (nampan dari plastic yang sudah sedikan kurma, roti, susu (laban), teh, serta buah-buahan. Kadang, ada orang-orang tertentu yang memberi uang kepada orang yang berbuka puasa.

Kondisi seperti ini sangat menyenangkan. Ketika saya baru memasuki Masjid Rosulullah SAW, tiba-tiba datanglah seorang pemuda ganteng menyapa kami:’’ dari Indonesia? Saya menjawab singkat:’iya, kami semua baru datang dari Indonesia, mau ziarah Rosulullah SAW terlebih dahulu.

Tiba-tiba pemuda itu memegang tangan dan merangkulku serta rekan-rekanku menuju tempat yang sudah disedaikan untuk berbuka puasa bersama. Sayang sekali, aku belum berziarah kepada Rosulullah SAW, dengan terpaksa aku meminta maaf kepada mereka. Bagi sebagian ulama berpendapat bahwa makna yang tersirat dalam ziarah ke Madinah adalah menyapa Rosulullah SAW, sebagaimana Nabi SAW katakan:’’barang ziarah kepadaku, wajib baginya mendapatkan pertolonganku’’ (HR Al-Daru Qutni).

Penduduk dan pemukim Madinah memiliki karakteirtik yang menarik, sesuai dengan nama yang kelay pada mereka yaitu Kaum Ansor (komunitas penolong). Ketika musim Ramadhan tiba, sangat terasa sekalih karakteristik pemukim Madinah yang ringan tangan, suka menolong, membantu, memberi serta ramah dan santung terhadap para pendatang.

Disepanjang jalan menuju Masjid Nabawi, bahkan di setiap setiap pintu masuk masjid, banyak sekali para pemuda, anak-anak, orang tua dengan senyuman ramah dan santung mengajak serta merayu para pendatang (penziarah) untuk berbuka puasa bersama. Mengajak berbuka bersama merupakan sebuah kemulyaan, karena telah mengamlan ajaran Rosulullah SAW.

Para penduduk Madinah sangat mengerti dengan tradisi Rosulullah SAW dan para sahabatnya yang gemar memberikan buka puasa (ta’jil) kepada orang-orang yang sedang berpuasa. Rosulullah SAW pernah menyampaikan dalam sebuah pesannya:’’barang siapa yang memberi buka puasa (ta’jilan) orang yang berpuasa, maka ai akan mendapatkan pahala tanpa berkurang sedikitpun, sebagaimana puasanya orang tersebut (HR. Tirmidzi).

Rupanya penduduk Madinah sangat faham di dalam memaknai dan merenungi hadis tersebut. Mereka-pun berlomba-lomba mengamalkan hadis ini dengan cara menyedikan tempat dan ta’jilan agar memperoleh pahala, sekaligus bentuk cinta dan setia kepada Rosulullah SAW.

Yang tidak kalah menariknya, ada orang-orang tertentu yang sengaja menyewa makelar khusus selama bulan Ramadhan. Kerjanya yaitu berdiri di depan Masjid Nabawi  untuk mengajak  para tamu penziarah Rosulullah SAW agar berbuka puasa bersama.  Makelar-makelar sedekah di Masjid Rosulullah SAW cukup banyak dan berseliweran di setiap sudut Masjidilharam dan Nabawi.

2– Tarawih

Kedua adalah nikmatnya tarawih berjamaah 20 rakaat. Kebetulan banyak rekan-rekan yang terbiasa menjalankan sholat tarawih delapan rakaat umrah bersama. Saya mencoba mengajukan pertanyaan:’’ apakah tadi ikutan tarawih yang delapan apa 20?

Rekanku menjawab singkat:’’saya ikutan tarawih yang 20 rakaat dan 3 witir, karena merasa lebih sreg dan nyaman, lagi pula pahalanya berlipat-lipat’’. Mendengar jawaban itu saya hanya tersenyum. Sejak ber-abad-abad, dua kota suci Makkah dan Madinah memiliki tradisi tarawih 20 rakaat, dan 3 witir dua salam.

Tarawih di Madinah begitu menyenangkan, di samping rakaatnya banyak, bacaannya juga enak serta mampu menembus relung hati. Masjid Nabawi benar-benar memberikan nuansa yang berbeda dengan masjid-masjid lain di muka bumi ini. Di tambah lagi, sholat di Masjid yang paling mulia di muka bumi ini pahalanya dilipatgandkan hingga 1000 kebaikan. Dari puluhan ribu jamaah umrah yang memadati kota suci Rosulullah SAW, hampir dipastikan sebagian besar lebih memilih tarawih 20 rakaat dan tiga witir.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook