Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 11 - 2013 0 Comment

1- MADINAH Kota Sunnah Nabawiyah

            Madinah bukan hanya tempat turunya wahyu ilahi.  Nabi SAW adalah sosok penerima dan pelaksana wahyu pada    semua aspek kehidupan. Tutur, tindakan, sikap Nabi SAW adalah cerminan al-Qur’an yang disebut dengan’’Sunnah’’.

Para ulama’ bahasa sepakat bahwa sunnah ialah ‘’cara’’ atau jalan. Sedangkan pengertian sunnah secara istilah yaitu semua yang di ucapkan, lakukan, serta persetujuan Nabi SAW.  menurut pakar fikih, pengertian sunnah yaitu jika dilaksankan memperoleh pahala, sedangkan jika ditinggalkan tidak berdosa.

Kendati demikian, sunnah Nabi SAW mesti kita lestarikan dan diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari, baik pribadi, kelurga, masyarakat, bahkan bernegara. Sebagaiman Nabi mengaplikasikan al-Qur’an pada kehidupanya sehari-hari.

Melakasankan sunnah adalah bukti cinta kepada Nabi SAW. Madinah sebagai tempat mulia, di mana Nabi SAW dan sahabat-sahabtnya benar-benar menjaga  dengan sebaik-baiknya. Lihatlah para sahabat Nabi,    mereka sangat setia, tidak pernah melakukan perbuatan yang tidak pernah Nabi SAW lakukan, mereka juga menjaga  prilaku, tindakan serta ucapan.

Di dalam pelaksanaanya, para sahabat sebagai generasi terabik menjadi penerus risalah Nabi SAW. Mereka adalah orang-orang yang cukup ilmunya. Sebagian lagi menjadi ahli ibadah, karena dari segi pengetahuan dan inteletualnya terbatas. Yang berikutnya yaitu mereka yang zuhud, mereka tidak senantiasa interaksi dengan Allah SWT setiap saat dan waktu

2- Madinah Kota Rekreasi Hati.

Madinah yang artinya terang benerang membuat setiap orang ingin mengujunginya.  Jutaan manusia datang setiap musim haji dan ramadhan, mereka  mengunjungi Nabi sekaligus rekreasi ruhani. Semua orang mengakui bahwa Nabi SAW adalah manusia yang        sangat sempurna, baik fisik dan pekertinya. Rumah   tempat kediamanya begitu sempit, tetapi hati Nabi SAW begitu lapang menerima semua tamunya yang datang           dari penjuru dunia.

Para tamu-tamu merasa sejuk ketika berada di kota Nabi SAW. Mereka datang dengan beraneka ragam budaya, bahasa, serta warna kulitnya. Tetapi tidak pernah membedakan setiap tamu yang datang. Sholawat dan salam semuanya di jawab tanpa melihat dari mana asal usulnya. Seandainya Nabi SAW bisa dan diperkenankan bangkit kembali, pasti beliau menyambut setiap tamu yang datang menziarahinya dan mempersilahkan memasuki kediamannya.

Tapi sayang, beliau sudah tiada, sehingga setiap tamunya tidak bisa memasuki kediamanya. Tapi, Nabi SAW tetap mempersilahkan setiap tamu-tamu dari pengikutnya memasuki masjid dan menauniakan sholat serta membaca sholawat kepada beliau SAW. Nabi SAW berjanji setiap sholawat yang diucapkan akan dijawab langsung. Nabi SAW juga berjanji kepada semua pengikutnya, barang siapa yang pernah berziarah akan memperoleh pertolongan (syafaatnya). Nabi SAWakan menjadi saksi setiap orang yang pernah datang mengunjunginya.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook