Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 11 - 2013 0 Comment

Mihrab NabiKarakteristik kota Nabi SAW adalah wujudnya makam Rosulullah SAW di dalam masjid Nabawi. Nabi-pun mengatakan:’’tidak diperkenankan melakukan sebuah perjalanan, kecuali ketiga masjid, masjidku (masjid Nabawi), Masjidilharam dan Masjid Al-Aqsa (HR Muslim). Dalam hadis lain, Nabi SAW mengatakan:’’ siapa yang berziarah ke makamku (kuburanku), wajib baginya mendapat syafaatku (HR- At-Tabrani).

Kota Madinah menyimpan jutaan cerita indah, menyenangkan, sedih dan heroic, terkait langsung dengan pribadi Rosulullah SAW. Nabi SAW tidak meninggalkan apa-apa, hanya kitab suci Al-Quran serta sunnahnya. Kendati demikian, semua petilasan, jejak, serta semua tempat yang pernah digunakan oleh Rosulullah SAW sangat istimewa serta memiliki miracle. Apalagi, tempat itu secara khusus disampaikan oleh Nabi SAW, seperti; Roudhah Al-Syarifah, mirab Nabi SAW (tempat Nabi menjadi Imam Sholat). Tempat itulah yang menyimpan sejuta misteri yang sampai kini menjadi rebutan setiap umat islam dimana saja berada.

Di bawah ini karakteristik kota suci Nabi Muhammad SAW:

            1. Kota Pendidikan.

Nabi adalah seorang pendidik sejati, para tetangga, kerabat dan sahabat dekat adalah murid-murid sejati. Methode Nabi di dalam proses belajar dan mengajar adalah wahyu ilahi, yang artinya disesuaikan dengan kecerdasan dan kemampuan murid-muridnya. Sedangkan tempatnya bukan di gedung mewah dan bertingkat, sebagaimana lembaga pendidikan sekarang. Masjid adalah tempat istimewa santri-santri Nabi, mereka belajar menghafal al-Qur’an dan tafsir serta tajwidnya langsung dari baginda Nabi. Hadis Nabi juga di hafal kuat nan tersimpan oleh santri-santri Nabi. Lantas, para santri yang datang dari penjuru Arab, kembali untuk mengembangkan ilmu yang telah diperoleh dari sang Maha guru Nabi Muhammad SAW.

Seringkali datang pertanyaan, siapa sang guru baginda Nabi, kenapa beliau mampu mendidik santri-santrinya dengan baik dan sempurna, sehingga mereka menjadi generasi terbaik sepanjang jaman dalam peradaban sejarah islam. Allah SWT, Dialah (al-Muallim) gurunya sang Nabi (pendidik para santri). Nabi menuturkan kepada kita bahwa Allah-lah yang mendidiknya secara khusus, sebagaimana keterangan hadisnya yang berbunyi:’’ sesungguhnya Allah telah mendidikku’’.

Santri-santri Nabi kita kenal dengan’’sahabat’’, generasi terbaik, yang loyalitasnya tidak perlu diragukan lagi. Orang kafir pernah mengatakan’’Aku tidak pernah melihat kesetiaan seseorang, sebagaimana kesetiaan pengikutnya Muhammad’’. Satri-santri Nabi banyak yang menjadi intelektual muslim, pemimpin, konglomerat, pejabat, ilmuwan yang menyebar keseluru penjuru jazirah Arab. Mereka juga menjadi hamba Allah SWT yang taat kepada-Nya, setia kepada Nabinya fakih (ahli fikih) dan sholih (orang sholih[1]) yang menjunjung nilai-nilai luhur penerus Nabi. Sampai saat ini, kota Nabi masih menjadi rujukan utama bagi setiap generasi (santri) untuk menuntut ilmu agama.

  1. 2.                  Kota al-Qur’ an

Membaca al-Qur’an juga salah satu amal ibadah mulia yang dianjurkan di mana saja dan kapan saja. Namun, kota suci Madinah sebagai turunya wahyu, lebih istimewa karena menjadi pilihan Allah dan Rasul-Nya. Sehinga nilainya lebih banyak dan tinggi di sisi-Nya, sehingga membaca al-Qur’an di Madinah mendapat pahala yang sangat besar. Nilai membaca al-Qur’an sama dengan ibadah sholat, yaitu seribu. Ibrahim al-Nukhfi mengatakan’’ sangat istimewa jika memasuki kota Makkah, tidak akan kemabli  kembali sampai merampungkan (menghatamkan) al-Qur’an[2]”. Madinah juga tempat turunya wahyu, sangat disayangkan bagi para pemukim, peziarah Haji atau umrah ke kota Madinah, tetapi tidak bisa mengatamkan al-Qur’an.

Ada sebagian ulama’ yang senantiasa menghatamkan al-Qur’an ketika sedang selama di Madinah. Oleh karena itu, banyak dari ulama‘ yang memberikan perhatian khusus terhadap al-Qur’an. Banyak tempat halaqoh[3] menghafal al-Qur’an di dalam masjid al-Nabawi. Menginggat Madinah kota suci Nabi tempat turunya wahyu.

Dalam ilmu al-Qur’an kita kenal dengan surat makkiyah (surat yang turun di Makkah) dan Madaniyah (ayat yang turut di Madinah). Madinah adalah tempat uturunya wahyu ilahi, serta aplikasi dari kadnungan al-Qur’an, khususnya masalah hokum-hukum islam. Jika Allah setiap hari menurukan 120 rahmat di sekitar Baitullah (Makkah)[4]. Tentunya keberkahan juga tidak lepas dari kota suci Nabi, sebagai tempat wahyu dan sunnah. Bagi mereka yang selalu rajin sholat di Masjid Nabawi, mereka akan memperoleh pahala seribu. Dan bagi mereka yang tidak pernah putus melaksanakan sholat fardu’ empat puluh sholatan tanpa terputus, maka Allah akan membebaskan dari sifat munafik serta bebas dari api Neraka.

Apalagi setiap orang bisa menghatamkan al-Qur’an, serta melaksanakan sunnahsunnah Nabi, pastilah Nabi akan merasa bangga dengan mereka. Menurut keterangan para ulama’ setiap amal kebajikan, seperti; shalat, sedekah, membaca al-Qur’an, oleh Allah SWT akan dilipatgandakan. Ini merupakan karakteristik umat Rosulullah SAW yang beribadah di kota suci Nabi Muhammad SAW.



[1] . Menurut keterangan

[2] .Al Maliki, Sayed, Muhammad, Al Haj Fadoil wa Ahkam 176.

[3] . Kelompok-kelompok yang dipimpin oleh seorang ustad, mereka terdiri dari santri dan pelajar yang sedang mengikuti hafalan Al Qur’an. Setiap bulan para pelajar atau santri mendapat uang transport yang bervariatif jumlahnya.

[4] . Al Naisaburi, As’ad, Muhammad bin Al Husain, Al Furuq,  1/96- Departemen Wakaf dan Urusan Islam-Kuwait


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook