Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 2 - 2013 0 Comment

Sudut BaitullahSuatu ketika, saat aku mengajar disebuah masjid (Darul Jami Muhtahin-Malang). Aku membahas bab ibadah haji. Dimana Allah Swt akan membalas ibadah haji dengan pahala yang berlipat, jika ibadah tersebut dilakukan semata-mata karena Allah Swt. Kami juga jelaskan kepada jamaah atas kewajiban bagi setiap orang islam yang sudah cukup mampu agar segera berangkat haji. Dengan catatan, harta yang digunakan itu harus halal seratus persen. Jika harta yang digunakan dari sumber yang subhat (remang-remang), seperti; hasil utang, arisan, MLM, akan mengurangi keutamaan ibadah haji dan umrahnya, bahkasa bisa dikatakan haram. Ibarat bersuci (wudhu) dengan air kencing, kelihatanya benar tetapi tidak sah hukumnya. Apalagi, harta yang digunakan itu jelas-jelas dari keringat rakyat (korupsi), ini sama dengan menodahi kesucian rumah Allah Swt.

Kasturi Mabrur Sebelum Haji.

Seusai pengajian, seorang jamaah mendekatiku, kemudian dia berbisik kepadaku :’’ustad…! saya ini pingin sekali berangkat haji, berhubung ngak punya uang, maka saya menunda keinginan naik haji.

Lebih lanjut lagi, lelaki itu menceritakan:’’ begini Pak..!saya sebenarnya pernah memiliki cukup uang untuk naik haji dan umrah, tetapi diutang oleh teman saya untuk menunaikan ibadah haji. Sepulang dari haji, ternyata ia tidak mau mengembalikan, padahal uang tersebut akan saya gunakan untuk ibadah haji. Tetapi, mau bagaimana lagi, dia ngak mau mengembalikan….! Trus gimana enaknya ya? Terang lelaki itu.

Dengan sedikit menghibur saya mencoba menjawab:’’ berarti, teman bapak yang mengejarkan ibadah haji, sementara yang mendapatkan pahalanya sampeyan (kamu).

Lelaki itu menjawab lagi:”’ jawaban sampeyan (Bapak) sama dengan Jawaban Habi Sholil Al-Idrus, dimana beliau menjelaskan bahwa sayalah yang mendapatkan pahala hajinya’’ terang lelaki itu.

 Lebih lanjut lagi saya jelaskan:’’ Persyaratan utama ibadah haji, sebagaimana penjelasan Allah Swt di dalam al-Qur’an adalah mampu. Mampu di sini lebih pada kepemilikan materi. Jadi, jika nyata-nyata tidak mampu, jangan memaksakan naik haji. Tidaklah berlebihan kiranya, jika arisan haji, MLM haji banyak ditengtang oleh banyak ulama’, karena orang yang ikut arisan dan ikut MLM itu nyata-nyata belum mampu secara financial. Begitulah penjelasan singkat saya kepada jamaah pengajian.

Jika orang yang diutangi itu ihlas, maka kelak ia akan mendapatkan pahala haji yang dilakukan oleh rekannya. Sedangkan, orang yang utang tersebut hajinya tidak diterima oleh Allah Swt, karena menggunakan harta orang lain. Begitu juga dengan MLM haji, orang-orang yang dibawah berusaha sekuat tenaga mengumpulkan dana. Dana tersebut untuk mendongkrak anggota yang di atas agar bisa menunaikan ibadah haji. Sementara, jika orang yang dibawahnya tidak bisa mengumpulkan nasabah, maka ia-pun tidak bisa berangkat. Logikanya, orang yang telebih dahulu berangkat, berarti menggunakan uang orang yang dibawahnya. Oleh karena itu, haji MLM itu lebih murah bayarnya dari pada haji pada umumnya. Karena jamaah haji setornya kepada biro perjalanan, baru kemudian di setorkan kepada Depag.

Kembali pada ajaran Nabi Muhammad Saw, untuk memenuhi panggilan Allah Swt (Haji), tidak boleh memaksakan diri, diluar kemampuannya. Pemerintah melalui bank-bank Syariah memberikan kemudahan, seperti; Tabungan haji, dana talangan haji, dengan tujuan agar supaya memudahakan kepada setiap calon jamaah haji. Walaupun ahir-ahir ini mulai dipesoalkan banyak orang karena menjadi pemicu antrean haji semakin panjang.

sesuai dengan ketentuan pemerintah (Depag). Jika sudah benar, sesuai dengan ajaran Nabi Saw baik proses pembiyaan dan praktek hajinya, insaAllah akan menjadi haji Mabrur. Nabi-pun berjanji bahwa haji mabrur itu akan mendapat balasan surga AllahSwt kelak

 

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook