Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 30 - 2017 0 Comment

Alifain TanjungSemua yang bersumber dari kitab suci Al-Quran selalu indah dan menyenangkan. Semua yang bersumber dari Rosulullah SAW sudah pasti bersumber dari Al-Quran, karena Rosulullah SAW itu Al-Quran yang berjalan. Semua yang disampaikan oleh para ulama itu selalu merujuk pada Al-Quran dan sunnah Rosulullah SAW, maka siapa yang cinta ulama itu berarti cinta Rosulullah SAW. Orang yang cinta Rosulullah SAW, selalu berusaha mengingutinya, baik dalam busana, sikap atau prilaku, bahkan bagaimana bertutur dengan sesama.

Orang baru dikatakan seorang ulama itu jika mampu menjaga lisan dari kata-kata kasar dan kotor bahkan bisa dikatakan “menjijikkan”, serta tidak menyakiti sesama dengan lisan dan tangan. Ulama itu selalu menjaga prilakunya lho. Juga, busananya selalu rapi nan wangi santun, sebagaimana Rosulullah SAW dan sahabat menjaga prilaku dan busananya.

Tidak ada ceritanya seorang ulama itu kok “misuh-misuh”, teriak-teriak dengan mengeluarkan kata-kata kasar, kotor, menghardik, dan menyakiti sesama dengan kata-kata yang tidak pantas. Disamping tidak pantas, itu tidak sesuai dengan Al-Quran dan tidak pernah di contohkan Baginda Rosulullah SAW.

Ga ada ceritanya, ngaku ulama, ustad, tetapi setiap ceramah selalu menebarkan kebencian dan permusuhan, bahkan tidak segan-segan nuduh sesama muslim dengan kufur, fasik,keturunan pki. Apalagi, tuduhan itu hanya informasinya “konon”, yang tidak dipertaggung jawabkan. Seorang ulam sejati, itu pasti setia dengan sunnah Rosulullah SAW, berpegang teguh pada ajaran Al-Quran.

Paling mendasar saat ini, banyak sekali orang yang gampang percaya kepada media sosial. Kenapa tidak datang kepada Muhammadiyah, waong Muhammadiyah itu dari pusat hingga desa ada ulama’mnya. Kenapa tidak bertanya pada Ulama NU, MUI, atau Muhammadiyah? Kok jutru bertanya pada “Google, Yahoo, Facebook”?. Sekali lagi, jika mendapatkan berita, tabayyunlah terlebih dahulu, karena itu perintah Allah SWT, sebelum menebarkan berita tersebut.

Rosulullah SAW pernah berpesan “barangsiapa yang ber-iman kepada Allah dan hari ahir, maka katakanlah yang baik, atau lebih baik diam (HR Muslim). Seorang ulama itu, kalau mendapatkan informasi, tidak akan menyebarkan kepada siapa-pun, kecuali setelah mengetahui kebenaranya, serta menimbang antar manfaat dan mudaratnya.
Kalau-pun ada yang suka nebarkan kebencian, fitnah, barangkali belum sampai taraf ulama sesungguhnya, tetapi orang itu ber-ilmu. Sebab, ciri khas ulama itu memiliki khosyah (rasa takut yang sangat) kepada Allah SAW. Bukan takut neraka, tetapi takut tidak mendapatkan ridho Allah SWT.

Nah, marilah kita lihat bagaimana Al-Quran mengajarkan kepada manusia, bagaimana caranya mengucapkan “ungkapan” yang sesuai dengan syariah dan sunnah Rosulullah SAW. Jangan melihat jengot panjang, jubbah putih dan imamah, kecuali setelah memahami ungkapan ucapan di dalam Al-Quran, di bawah ini.

Qaulan Karima.

Di dalam Al-Quran terdapat istilah “Qaulan Karima” yang artinya perkataan yang mulia. Sebuah ucapakan yang enak dan renyak di dengar, lemah-lembut, santun dan penuh dengan kesopanan. Jangan sampai seseorang memiliki perkataan yang kasar dan kotor serta menyakitkan orang yang kita cintai, yaitu orang yang melahirkan, atau yang memelihara kita. Dosa besar bagi siapa yang berkata kasar ketika berkomunikasi sehari-hari dengan mereka.
Sebenarnya “Qoulan Karima” itu menjelaskan seputar interakasi seorang anak dan kedua orangtuanya, ketika sudah sepuh (renta). Allah SWT menjelaskan susah payah seorang Ibu yang mengandung selama Sembilan bulan, dan juga menyusui selama dua tahun. Ketika seorang ibu sudah renta, Allah SWT mengingatkan jangan sampai mengucapkan kata-kata kasar, seperil “ah”, tetapi katakana kepada keduanya “qoulan karima”.

Qaulan Baligha
Kata baligh berarti ucapkan yang fasih, dan jelas dan sampai maknanya kepada orang yang di ajak berbincang-bincang (komunikasi). Seseorang bisa dikatakan mengunakan Qaulan Baligha, makakala ucapanya bisa dimengerti, tepat sasaran (interkatif), tentu saja memilih kata-kata atau ungkpan yang sesuai dengan lawan bicaranya, dan yang paling penting tidak menyakiti lawan bicaranya.

Qaulan Maysura
Berkata dengan mudah dimengerti, lugas dan tidak bertele-tele ketika komunikasi dengan sesama. Hanya satu istilah di dalam Al-Quran yang artinya “Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura ucapan yang mudah” (QS. Al-Isra: 28). Dengan kata lain, jika berbicara dengan sesama, jangan sampai bernada sombong, tetapi mudah dimengerti dan bersifat iinteraktif, walaupun dengan orang yang tidak selevel pendidikan dan ekonominya.

Qaulan Layina
Qaulan Layina ucapakan yang sangat lembut, enak di dengar, dengan suara yang lemah lembut pula, penuh dengan makna dan ramah sekali. Ucapan ini paling banyak disukai. Biasanya, para ulama hikmah selalu memerikan nasehat-nasehat yang menyejukkan kepada umat, bukan membuat keruh dan gaduh umat. Allah SWT berfirman yang artinya “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan Qulan Layina yaitu kata-kata yang lemah-lembut…” (QS. Thaha: 44). Waluapun kepada orang yang tidak se-iman, hendaknya tetap tidak kasar, sebagaimana perintah Allah SWT kepada Nabi Musa as dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun dengan “qQaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi)” dengan tujuan agar supaya hati Firaun tersentuh jiwanya dan tergerak, dan menerima kebaikan.

Qaulan Sadida
Alah SWT berfirman “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Qaulan Sadida yaitu perkataan yang benar” (QS. 4:9). Sebuah isarat kepada setiap muslim agar menggunakan ungkapan yang benar dari segi susunan redaksi maupun makna yang tersirat dari redaksi tersebut, mudah dimengerti tujuan ungkapan tersebut.

Qaulan Ma’rufa
Qaulan Ma’rufa artinya ucapan yang sangat baik. Dengan kata lain, ucapan itu harus bagus, sopan, santun, menyidirpun dengan ucapakan yang pantas secara umum (tidak kasar) dan tidak menyakitkan perasaan orang lain, sehingga ucapan tersebut membawa manfaat dan maslahat, bukan justru membawa mafsadat (keburukan kerusakan/kegaduhan). Qaulan ma’rufan disebutkan Allah dalam Al-Quran sebanyak lima kali. (1) terkait dengan pemeliharaan harta anak yatim, jangan sekali-kali kasar dan menyakiti mereka(2) terkait dengan orang miskin dan anak Yatim, juga harus santun. (3) terkait dengan harta yang diinfakkan atau disedekahkan kepada orang lain, juga jangan sampai menyakiti mereka, walaupun dengan kata-kata. (4), terkait dengan dengan ketentuan-ketentuan Allah terhadap istri Nabi. (5), terakit dengan soal pinangan terhadap seorang wanita.

Siapakah orang yang bisa menjaga istilah “qaulan” di dalam Al-Quran? Tentu saja mereka adalah para ulama sebagai pewaris para nabi. Namun, jika ada orang yang berjubah putih, jenggot panjang, jidat hitam, tetapi sering mengatakan “cinta Al-Quran dan sunnah Rosulullah SAW”, tetapi belum bisa menjaga lisan dari kata-kata kasar, kotor, dan menyakiti sesama, maka mereka belum sampai pada tahapan seoang ulama sejati.
Tugas ulama sejati itu, menebarkan salam (perdamaian), meneduhkan umat, bukan mengaduhkan umat. Tidak main-main, Rosulullah SAW menyematkan ulama itu “pewaris para nabi”, tentu saja sifat, sikap, lisan, harus selaras dengan Rosulullah SAW.

Ulama itu mengajak persatuan, bukan perpecahan, ulama itu selalu memberikan teladan, bukan menajak kebencian dan caci maki. Hanya setan dan iblis yang tak hent-hentinya mengajak permusuhan dan kebencian. Iblis dan setan akan merasa bangga, jika melihat seseorang menerbarkan kebencian, permusuhan, dan perpecahan. Itulah misi utama Iblis hingga qiayat.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook