Posted by Abdul Adzim Irsad On November - 17 - 2013 0 Comment

KhodijahKhodijah seorang wanita yang cerdas serta berwibawa, serta cukup harta. Di kalangan masyarakat Makkah, Khojidah dipandang sebagai wanita yang memiliki dedikasi yang sangat tinggi di masyarakat Makkah dan sekitaranya. Banyak lelaki ingin melamar dan menjadikan istrinya, tetapi Khodijah tidak pernah merespon, karena tidak ada satu-pun lelaki yang datang kepadanya menarik untuk menjadi pendamping hidupnya.

Ketika Muhammad menjadi bagian dari bisnisnya, Khodijah r.a telah memerhatikan Muhammad, mulai tuturnya, budi pekertinya, keturunan, sampai sifat-sifatnya juga menjadi perhatian khusus. Khodijah r.a juga memperhatikan secara seksama sifat-sifat Nabi Saw., seperti; kejujuran (al-Sidqu), amanah (al-Amanah), kecerdasan (al-Fatonah).  Sifat-sifat yang dimiliki Muhammad kala itu tidak di miliki oleh orang lain. Budi perkeri Nabi serta kejujuran Nabi Saw. menjadi daya tarik sendiri bagi Khodijah, umumnya bagi masyarakat Arab Makkah.

Perhatian Khodijah semakin khusus, ketika Muhammad mendapatkan tugas untuk membawa komoditas dagangan ke-Syam. Sekembalinya dari Syam ke Makkah dengan membawa keuntungan yang melimpah. Khodijah merasakan ada yang aneh pada diri Muhammad, sebab apa yang terjadi pada Muhammad belum pernah terjadi sebelumnya.

Perhatian Khodijah ra semakin dalam terhadap Muhammad. Kekaguman terhadap Muhammad semakin hari semakin bertambah, sampai suatu ketika beliau memutuskan diri untuk melamar Muhammad untuk menjadi pendamping setianya.  Nabi-pun tidak menolak lamaran Khodijah. Melalui sang paman, akhirnya Nabi SAW bertekad bulat menentukan pasangan hidupnya. Akhirnya keduanya menikah, dan mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh kasih.

Sebelum menentukan Muhammad sebagai pendamping hidupnya, Khodijah sudah mempelajari secara mendalam kepribadian dan sifat-sifat Muhammad. Khodijah tidak inging gagal, Muhammad dilihat sangat tepat menjadi suami penuntun hidup meraih kebahagiaan hidupnya. Begitu juga dengan Muhammad, beliau sudah benar-benar selektif di dalam menerima wanita sebagai pasangannya di dunia mapun ahirat. Dalam sebuah pernikahansalah menentukan pasangan separuh usia akan menjadi taruhanya.

Khodijah r.a. adalah wanita pilihan-Nya sebagai pendamping manusia pilihan. Sebelum menjadi istri Nabi SAW., Khodijah r.a terkenal sangat istimewa, beliau dijuluki dengan predikat ” Wanita Suci” atau putri Quraisy. Orang Arab Qurais menyebutnya ” The Princess of Makka”. Penjagaan Allah SWT terhadap Khodijah r.a sangat sempurna. Seolah-olah Allah SWT telah mempersiapkan Khodijah r.a secara khusus untuk sang kekasih-Nya Muhammad Rosulullah SAW.

Khodijah ternyata berkeyakinan monoteisme (satu tuhan). Beliau tidak pernah menyembah berhala seperti warga Qurais umumnya. Padahal kala itu masih jahiliyah, dimana berhala, patung, serta beragam benda-benda masih jadi sesembahan. Bahkan sekitar Ka’bah terdapat 165 berhala, dan yang paling besar ada di dalam Ka’bah. Setiap orang memiliki sesembahan, sesuai dengan kualitas ekonominya masing-masing. Orang miskin patungnya terbuat dari kayu, batu, sementara orang kaya dan bangsawan sesembannya terbuat dari perunggu, perak, bahkan ada yang emas.

Jaman itu, wanita masih menjadi obyek lelaki, model pernikahan masih jahiliyah, dimana wanita dukumpuli banyak lelaki. Ketika wanita itu melahirkan, semua lelaki dipanggilnya, lantas wanita menentukan siapa yang akan menjadi anaknya. Lelaki itu tidak boleh menolaknya. Wanita dan lelaki bisa melakukan apa saja, sesuai dengan keinginan masing-masing. Itulah jaman jahiliyah klasik.

Sedangkan, dari segi aqidah (keyakinan), komunitas Qurais Makkah masih berkeyakinan ” polyteisme  (berkeyakinan banyak tuhan) dengan kata lain; mereka masih menyekutukan Allah SWT, walaupun mereka yakin kalau Allah SWT ada.

Begitulah, kehendak Allah SWT atas Rosulullah manusia pilihan. Tidak mungkin seorang Nabi SAW mendapatkan pasangan yang tidak sepadan. Sifat dan karakteristik, serta keyakinan memiliki kesamaan dengan Muhamamd SAW. Kesamaan itulah yang kemudian menjadi modal utama di dalam mengarungi bahtera rumahtangga, sehingga pernikahanya  berjalan dengan sempurna. Keduanya saling melengkapi, saling memahami dan pengertian. Segala persoalan mampu dijalaninya dengan baik, tanpa ada masalah yang berarti.

Selama mengarungi bahtera rumah tangga, Khodijah ra benar-benar istimewa sebagai wanita salihah. Kasih sayangnya serta kesetianya, tercurah kepada sang suami. Perjuangan terhadap risalah islamiyah, tidak diragukan lagi. Sungguh sempurna figur siti Khodijah ra, beliau wanita yang berharta, cantik rupa serta indah budi pekertinya. Tidak pernah sedikitpun merasa lebih, apalagi meremehkan sang suami, walaupun ia lebih kaya.

Wanita ini lebih mendahulukan kepentingan sang suami di dalam membawa risalah islamiyah, dari pada kepentingan dirinya sendiri. Ia rela hidup sederhana, ia rela membekali suaminya setiap kali pergi kegunung Nur (jabal Nur) tempat menyepi untuk memperoleh petunjuk Allah SWT. Iapun setia menyelimuti tatkala sang suami merasa ketakutan dan kedinginan, sepulang dari Jabal Nur ketika mendapatkan wahyu pertama kali.

Dengan kelembutanya jari jemarinya, Khodijah ra menyelimuti tubuh sang suami yang sedang mengigil kedinginan. Perhatian terhadap Muhammad begitu mengesankan. Melihat Suami tergopoh-gopoh ketakutan dengan kondisi ketakutan, keringat dingin bercucuran dari sekujur tubuhnya. Khodijah langsung menyelimutinya. Ketika Muhammad sudah membaik, Khodijah ra membawanya suaminya menghadap pamannya yang bernama ” Waraqoh bin Naufal” untuk menanyakan perihal yang terjadi pada suaminya. Adakah wanita suci, sepertinya?

Pernikahan Nabi SAW dengan Khodijah menurunkan empat putri dan tiga putra. Nama-nama putri beliau SAW yaitu; Zainah, Umi Kulsum, Ruqoyyah, dan Fatimah Al-Zahra. Sayang sekali Allah SWT hanya menghedaki keturunan dari putri terahirnya yaitu ” Fatimah al-Zahra’. Keindahan bahtera rumah tangga Nabi dengan Siti Khodijah tidak pernah terlupakan sepanjang hidupnya, walaupun beliau telah berhijrah ke Madinah dan telah memiliki istri lagi (poligami).

Menginggat kesetiaan serta perjuanganya yang begitu besar. Rosulullah SAW selalu mengingatnya. Khodijah sudah wafat, tetapi Khodijah ra tidak pernah hilang dari benak Rosulullah SAW sepanjang hidupnya. Kesan Nabi SAW terhadap wanita suci dari Makkah di selama mendampingi perjuangannya begitu mendalam.

Suatu ketika, nama Khodijah disebut berulang-ulang oleh Rosulullah SAW:” Khodijah…Khodijah, …!kalimat ini yang muncul dari bibir sang Nabi SAW saat mengenang menerobos masa silam yang indah bersama Khodijah. Mendengar Rosulullah SAW menyebut nama Khodijah berulang-ulang, Aisah ra. Istri muda Nabi SAW terbakar api cemburu, resah dan gelisah menyelimutinya tatkala mendengar nama Khadijah disebut-sebut oleh Rosulullah’’.

Aisyah berfikir, bagaimana mungkin Rosulullah SAW terus menerus mengingat Khodijah yang sudah tiada, sementara dirinya selalu ada disampingnya. Seolah-olah Rosulullah SAW tidak pernah melupakan masa indahnya ketika hidup bersama sang wanita suci Khodijah binti Khuwailid. Kepribadian, kesetiaan, pengorbanan serta keikutsertaan dalam memperjuangkan risalah islamiyah membuat siti Khodijah tak pernah hilang dalam kehidupan Nabi SAW, walaupun Aiysah, Hafsah serta istri lainya mendampinginya.

Khodijah tetap istri yang pertama serta paling istimewa bagi kehidupan sang Nabi SAW. Sejauh mana cinta Nabi terhadap Khodijah dan bagaimana Nabi dan Khodijah r.a. membina rumah tangganya? Kita bisa merasakan betapa agungnya kisah asmara, cinta, kasih sayang dua makhluk suci. Sebuah keluarga yang lansgung di bawah bimbingan Allah SWT. Begitulah kemesraan sepasang suami istri dunia akhirat.

Kemesraan Nabi dengan Khodijah r.a. benar-benar indah, karena pernikahan ini atas dasar cinta yang dilandasi agama. Bukan sekedar memenuhi libido, sebagaiamana kebanyakan orang.

Kesan keindahan cinta dan kasih sayang Nabi terhadap Khodijah terungkap oleh Ayisah yang kala itu menyaksikan sendiri, serta terbakar cemburu. Sebab, ternyata Aisyah benar-benar mencintai Nabi SAW


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook