Posted by admin On July - 3 - 2013 0 Comment

Syehk Sholih Darat adalah guru sejati Muhammad Darwis. Selama dua tahun Muhamamd Darwis nyantri ilmu agama kepada Syekh Sholih Darat di Semarang. Selama itu pula, berbagai ilmu agama diajarkan, mulai fikih syafii, hadis, tafsir, dan tasawuf. Sebelum Muhammad Darwis berangkat ke tanah suci Makkah, sudah terbiasa dengan tradisi tahlilan, dibaan, sholawatan. Tidak aneh, jika Muhamamd Darwis  melakukannya, karena memang beliau adalah keturunan Maulana Ishak yang ahli tasawuf, serta  membangun budaya Tahlil.

Syekh Hasyim

Sebelum beragkat haji, malam harinya mengadakan tahlinan dan membaca berjani (dibaan), sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT, sekaligus meminta doa kepada saudara-saudara dan tetangga. (Adi Nugroho:2009) Bukan berarti, Muhammad Darwis tersesat dan ahli bidah (mengada-ngada) dengan melakukan tahlilan, dibaan (Al-Barjanji), dan maulidan.

Seusai menunaikan ritual Ibadah haji, Muhammad Darwis dirubah namanya oleh Sayed Abu Bakar Shata, sekaligus mendapatkan sertifikat. Sejak itulah, nama Muhammad Darwis berubah menjadi Ahmad Dahlan. Selama di Makkah, Muhammad Darwis yang namanya berubah menjadi Ahmad Dahlan belajar ilmu qoraat, tafsir, tauhid, fikih, tasawuf, dan ilmu falak (Solihin:1962). Bukan berarti KH Ahmad Dahlan tersesat (dolalah) jika belajar ilmu tasawuf (Sufi),  apalagi dihakimi masuk neraka.

 

Sekilas tentang Sayed Abu Bakar Shata. Tokoh yang nama sebenarnya Abu Bakar bin Muhammad Zainal Abidin Syatha ini lahir di Makkah tahun 1266 H/1849 M. Ia berasal dari keluarga Syatha, yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya. Sayyid Abu Bakar Syatha merupakan seorang ulama’ Syafi’i, mengajar di Masjidil Haram di Makkah al-Mukarramah. Hampir setiap santri yang datang dari nusantara selalu mengambil ilmu dari beliau, termasuk KH Hasyim Asaary pendiri NU.

KH Ahmad Dahlan benar-benar menjadi santri sejati Sayyid Abu Bakar Shata.  Wajar, jika beliau selalu menjalankan madhab Syafii dalam ibadahnya sehar-hari, seperti; qunut subuh, tarawih 20 rakaat, maulidan tahlilan adalah satu di antara tradisi yang sudah dilakukan sebelum  KH Ahmad Dahlan menunaikan Ibadah haji.

Guru-guru KH Ahmad Dahlan cukup banyak, seperti; KH Dahlan Semarang, KH Saleh Darat Semarang, Kyai Termas, Syekh Djamil Dajmbek. Ketika di Makkah, beliau juga rajin membaca buku-buku yang ditulis oleh tokoh pembaharuan, seperti; Muhammad Abduh, Tafsir Al-Manar, Kitab Kanzu Al-Ulum untuk memperkaya pengetahuannya. Kendati beliau telah banyak membaca buku-buku para pemikir islam modern, beliau tetap teguh di dalam menjalankan tata cara Ibadanya sesuai dengan Madhab Syafii. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau mencerminkan seorang zuhud dan sufi sejati.

Ahir-ahir ini beredar kabar seputar issu bahwa Din Samsudi menjadi Imam Tahlil di kediaman Megawati. Secara terang-terangan, Muhammadiyah membantah sebagai berikut;

a-    Pertama, TIDAK BENAR Ketua Umum PP Muhammadiyah memimpin tahlilan tersebut. Selain memang tahlilan bukan tradisi Muhammadiyah, Din Syamsuddin juga tidak bisa memimpin tahlilan.

b-    Kedua, Ketua Umum PP Muhammadiyah diundang Keluarga Besar Hj. Megawati Soekarno Putri pada malam itu, adalah dalam rangka untuk memberikan ceramah takziyah. Bahkan, beliau hadir malam itu, sesudah tahlilan selesai dipimpin oleh Ketua PBNU H. Said Agil Siraj.

Di sisi lain, Prof Dr. Amin Rais Mantan ketua MPR sekaligus sesepuh Muhammadiyah mengajak tahlilan bersama kepada pengikut Muhammadiyah. Hal ini dikatakan, ketika Amin Rais menyampikan tausiyahnya di Tabligh Akbar Muktamar Aisyiyah ke-46 dengan tema Nir Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Salah Satu Kunci Peradaban Bangsa yang diselenggarakan di Graha Wana Bhakti Yasa, Yogyakarta, Sabtu (www.republika.co.id) Bahkan, Amin Rois secara lantang mengatakan:’’ Kalau tidak mau tahlilan keluar dari Muhammadiyah dan Aisyiah’’. 

Ada tiga poin penting yang perlu digaris bawahi (1) KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah adalah ulama melestarikan tahlilan, walaupun mengikuti pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh. Bagi sosok, Muhammad Dahlan yang memahami ilmu agama dengan baik, tidak mudah mengeluarkan istilah-istilah yang membahyakan pada persatuan umat (2) Pernyataan Muhammadiyah di dalam menepis informasi seputar Din Samsudin mengikuti Tahlil bertentangan dengan pendirinya KH Ahmad Dahlan sang Fakih dan Sufi (3) Pernyataan Amin Rais yang mengajak Aisyiah untuk meningkatkan tahlilan bersama, bisa jadi memang memahami apa itu tahlilan yang dilakukan KH Ahmad Dahlan. Bisa jadi, pernyataan Amin Rais itu bernuanas politik, untuk menarik simpati kaum sarungan yang suka tahlilan dan maulidan.

Terlepas dari perbedaan pendapat, bantahan Din Samsudin, Tahlilan yang dilakukan KH Ahmad Dahlan sebagai perintis, dan pernyataan ajakan Amin Rais untuk tahlian bersama. Menunjukkan, bahwa ada perubahan yang sangat mendasar dalam tubuh Muhammadiyah. Jika masih melihat bahwa Tahlilan itu bagian dari Bid’a yang tersesat (bukan sunnah), maka sama dengan telah menyesatkan KH Ahmad Dahlan. Padahal, kualitas KH Ahmad Dalan jauh lebih hebat jika dibandingkan dengan ulama-ulama Muhammadiyah masa kini. Wallau A’lam

.>


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook