Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 10 - 2016 0 Comment

SyakbanSayyid Muhammad Alawi Al-Maliki menulis kitab khusus yang berjudul “Ada apa dengan Sya’ban?. Walaupun tidak terlalu tebal, tetapi kitab ini sangatlah bermanfaat, sekaligus memberikan informasi sebanyak-banyaknya seputar ke-utamaan bulan Sya’ban. Ternyata, kitab ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas Nusantara yang selama ini kadang kurang mengetahui fadilah bulan Sya’ban. Tulisan ini sebagian mengutib dari kitab Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.

 Sya’ban Bulan Sholawat Nabi Muhammad SAW.

Bersholawat kepada Rosulullah SAW tidak mengenal waktu dan tempat. Setiap ucapan sholawat kepada Nabi SAW senantiasa di jawab, walaupun itu disampaikan dari jarak yang amat Jauh. Sedangkan sholawat yang di ucapkan saat di Madinah (dekat Makam Rosulullah SAW), langsung di jawab. Para ulama mengatakan:’’minimal membaca sholawat setiap hari itu antara 300-400’’. Bagaimana mengatakan cinta kepada Nabi SAW, sementara lisanya jarang menyebut nama Rosulullah SAW. Tanda sebuah cinta seseorang kepada kekasihnya itu ialah banyak menyebut namanya.

 

Bulan Sya’ban juga disebut juga dengan bulan Sholawat. Dan tepat pada mala mini (12 Juni 2014) akan memasuki malam separuh bulan Sya’ban ( Malam Nisfu Sya’ban).  Penjelasan seputar perintah (anjuran) untuk memperbanyak sholawat pada bulan ini, diambil dari salah satu ayat QS Al Ahzab ayat 56 yang artinya:’’ Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bersholawat pada nabi ( nabi Muhammad, Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah padanya( Nabi Muhammad ) dan ucapkanlah penghormatan padanya”. ( Al Ahzab 56 )

Penegasan ini juga disampaikan oleh Imam Sihabudin Al Qostolani dalam kitab Al-Mawahib, karena ayat ini diturunkan bertepatan dengan bulan Sya’ban. Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika umat islam berbdondong-bong bersholawat kepada Rosulullah SAW, baik secara individu maupun secara berjamaah. Jika ada yang mengatakan:’’ ini tidak ada tuntunan dari Rosulullah SAW alias bidah’’. Maka jawaban yang paling tepat ialah:’’tidak satupun ayat atau hadis Nabi SAW yang melarang membaca sholawat baik secara pribadi maupun pada bulan Sya’ban atau malam Nisfu Sya’ban. Yang ada ialah, Nabi SAW memerintahkan bersholawat kepadanya kapan saja, sebanyak-banyaknya. Semakin banyak bersholawat kepada Nabi SAW, semakin menunjukkan cintanya kepada baginda Rosulullah SAW.

 Sya’ban Bulan  Al-Qur’an

Dalam beberapa kteranganlain, Sya’ban disebut juga dengan Sahrul Qur’an (bulan Al-Quran). Penegasan ini  juga disampaikan oleh seorang ulama yang bernama Habib bin Tsbit.

Seorang Ulama besar yang bernama Syehk Ahamd bin Hajaji mengatakan “Sungguh ulama’ ulama Salafi Al-Salafussolih meyambut bulan Sya’ban dengan membaca Al-Qur’an”. Hal ini dikemukan di dalam kitab Tuhfatul Ihwan. Walaupun memabaca Al-Quran tidak terkait dengan bulan Sya’ban, tetapi pada bulan ini sangatlah istimewa, karena ayat tentang anjuran sholawat turun pada bulan Sya’ban.

Semua tahu bahwa bulan Sya’ban penuh dengan kemulyaan dan barokah.  Momentum yang sangat istimewa ini, para ulama’ kembali menginggatkan dan mengajurkan agar uamt islam senantiasa memperbanyak membaca Al-Qur’an dan berdzikir agar menjadi pemacu untuk persiapkan meyambut bulan suci Romadlhon. Bulan yang di dalamnya terdapat Lailatul Qodar yang lebih baik dari seribu bulan.

Dalam sebuah hadis, Rosulullah SW pernah berkata “ Sya’ban adalah bulanku (bulanya kanjeng Nabi) dan Romadlhon adalah bulan Allah (sahrullah), dan Sy’aban mutohhir ( menyucikan ) dan Romadhlon Mukaffir ( penghapus dosa)’ ( H.R Adailami ).  Adapun yang dimaksud dengan Mutohhair ( pembersih dosa) yaitu dimana pada bulan ini momentum paling tepat untuk mensucikan diri dari kesalahan serta dosa-dosa yang melekat pada diri manusia dengan cara meningkatkan ibadah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sedangkan yang dimaksud dengan Mukaffair ( penghapus ) adalah dimana pada bulan ini juga menjadi momentum bagi kaum muslimin untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dengan berpuasa Romadhon dan pada malamnya melaksanakan qiyamul lail. Untuk menyempurnaka, kemudian  memperbanyak membaca Al-Qur’an. Dengan demikian dosa-dosa yang melekat akan terhapus dengan kebaikan yang dilakukan pada bulan suci Sya’ban.

Keitimewaan seseuatu bisa dilihat dari jumlah nama. Dalam literatur Arab Islam, apabila sesuatu mempunyai keistimewaan, biasanya mempuyai lebih dari tiga nama bahkan sampai lima, begitu pula dengan Sya’ban.

Dua belas bulan dalam islam, ada satu yang paling istimewa yaitu yaitu Romadhan, kemudian yang kedua yaitu Sya’ban dan Rajab. Dalam bulan itu sendiri juga ada keistimewaan yang kita kenal dengan malam puncak. Pada bulan Romadhan puncaknya pada sepuluh terahir, yaitu  pada malam sepuluh terahir.

Pada malam sepuluh terahir ini, umat islam biasanya berbondong-bondong kemasjid dengan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bahkan mereka menambah amal sosial (sedekah), kepada sesama yang membutuhkan. Ada juga yang melakukan umrah berkali-kali, dengan harapan mendapat kebaikan berlipat ganda di sepuluh terahir bulan suci Ramadhan.

Karena pada sepuluh terahir ini akan datang malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam itu dinamakan malam LAILTUL QODAR. Dalam bulan Sya’ban juga mempuyai malam puncak yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban, malam ini disebut dengan Lailatu Nisfi Sy’aban.

 

Puasa Sya’ban Mubarok.

Amalan sunnah yang biasa dilakukan oleh Rosulullah SAW pada bulan Sya’ban adalah puasa. Bahkan beliau SAW termasuk paling  banyak berpuasa ketika bulan Sya’ban dibanding bulan-bulan lain, kecuali puasa wajib di bulan suci Ramadhan. Dengan demikian, puasa sunnah pada bulan Sya’ban adalah Sunnah Rosulullah SAW yang harus dilestarikan.

Para ulama sepakat bahwa puasa dalam bulan Sya’ban itu sunnah. Hanya saja, puasa itu harus dilaksanakan sejak pada awal Ramadhan. Apalagi, pada bulan Sya’ban di barengi dengan pusa sunnah Senin dan Kamis, atau Puasa Dawud, maka pahalanya menjadi berlipat. Adapun dalil kesunnahan puasa pada bulan Sya’ban itu dijelaskan dalam sebuah hadis yang bersumber dari Aisyah ra.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ (رواه البخاري).

 

Rasulullah SAW biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah SAW berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari).

 

Pada bulan Sya’ban Rosulullah SAW paling banyak berpuasa, seolah-olah Nabi bepuasanya sebulan penuh, walaupun realitasnya tidak sebulan penuh. Karena yang berpuasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan tidak diperbolehkan. Jadi, makna “Aktsaru Siyaman” itu diartikan mayorotitas, bukan sebulan penuh. Imam Nawawi mengatakan “kenapa Nabi SAW tidak berpuasa sebulan penuh pada bulan suci Ramadhan?  Alasanya, agar agar supaya tidak disangka puasa selain Ramadhan adalah wajib. ”(Syarh Muslim, 4/161)


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook