Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 14 - 2015 0 Comment

Ka'bahBulan Dzulqo’dah salah satu bulan istimewa di antara 12 bulan Hijriyah, karena pada bulan itu umat memulai ritual suci di tanah suci Makkah. Wajarlah jika kemudian bulan mulia dan sakral. Dzulqo’dah termasuk bulan sacral (suci), sebagaiaman bulan Muharram dan bulan Dzulhijjah, dan Rajab. Masing-masing memiliki kelebihan yang saling melengkapi. Terkait dengan keistimewaan bulan Dzulqo’dah, Nabi SAW pernah menuturkan:” Barang siapa berpuasa bulah Haram, Hari kamis, Jum’at, dan sabtu, maka Allah mencatatnya seperti ibadah sembilanratus tahun) (Lihat; Kanju Al-Najah; Syekh Abdul Hamid Ali Qudus).

Ulama sepakat bahwa Dzulqo’dah salah satu bulan al-Hurum (Ashurul Hurum). Akan tetapi, para ulama’ berbeda pendapat seputar sakralnya bulan Dzulhijjah. Apakah pada awal bulan, atau pertenggahan, atau pada ahir bulan. Bahkan, Allah SWT menegaskan bahwa bulan Dzulhijjah adalah bulan haji, di dalam surat al-Baqarah,Q.S( 1;197)  “(Musim) Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi…”

Menurut pengertian bahasa, konon di namakan Dzulqo’dah, karena adanya genjatan senjata (duduk sejenak) untuk berhenti perang.  Menurut sebuah keterangan, konon Nabi SAWmenunaikan ibadah Umrah sunnah, tepat pada bulan Dzulqo’dah, kecuali umrah yang bersamaan dengan haji. Di dalam sebuah riwayat, Nabi SAW menunaikan Umrah sunnah pada bulan Dzulhijjah. Beliau pernah juga umrah pada bulan Rajab.  Para ulama’ menganjurkan, jika ingin menunaikan ibadah umrah, hendakanya pada bulan Dzulqo’dah, karena Nabi sering menunaikan umrah sunnah.

Umrah menurut bahasa berarti Ziarah. Sedangkan menurut pengertian etimologis yaitu berziarah mengunjungi Makkah (Baitullah) dengan tujuan khusus . Oleh karena itu, umrah itu bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Yang membedakan dengan haji ialah pelaksanaanya pada bulan “Ashurun Ma’lumat” (mikot zamani) serta dimulai dari tempat tertentu”mikot makani” Yang di maksud al-Qur’an dengan Asyhurun ma’luumaat (bulan-bulan yang dikenal) merupakan bulan yang tidak sah ihram Haji kecuali pada bulan-bulan ini, (Syawwal, Dzuqo’dah, dan sepuluh hari bulan Dzulhijjah).

Di dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman”Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi)…”(QS.Al- A’raaf (7:142).

Para ulama’ sepakat bahwa yang dimaksud dengan “tiga puluh hari” ialah tiga puluh bulan Dzulqo’dah. Imam al-Tobari dalam tafsirnya juga memberikan penjelasan yang sama. Sedangkan sepuluh malam lagi ialah sepuluh Dzulhijjah.  Jadi, tidak banyak yang dikutip oleh para ulama’ seputar bulan Dzulqo’dah, kecuali pelaksanaan umrah sunnah.

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook