Posted by Abdul Adzim Irsad On Agustus - 24 - 2013 2 Comments

Syekh Al-BaniOrang yang mengaku salafi (pengikut sunnah Nabi SAW), ketika sedang ngaji (ta’lim), khutbah, ceramah,  paling getol dengan istilah sesuai dengan ‘’Al-Quran & Sunnah Nabi SAW’’. Di dalam mukaddimahnya, mereka selalu mengunakan hadis Rosulullah SAWS yang artinya;’’ sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rosulullah SAW. Sejelek-jelek perkara adalah (perkara agama) yang diada-adakan, setiap (perkara agama) yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i). Syekh Al-Bani menshahihkan hadis ini dalam kitabnya ‘’ Shahih wa Dha’if Sunan An Nasa’i).

                Hadis ini menjadi identitas kaum salafi dalam penyampaian ceramahnya, sebagaimana guru  besar hadis mereka yaitu Syekh Al-Bani. Apalagi, hadis yang di riwayatkan Imam Nasai itu di shahihkan oleh Syekh Al-Bani. Tidak dipungkiri, Syekh Al-Bani memang mengerti ilmu hadis. Kendati demikian, kemampuanya tidak sebanding dengan Imam Abu Dawud, Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Nasai, Imam Nawawi.

Syekh Al-Bani di anggab oleh sebagian Ulama Saudi Arabia, dan juga para pencintanya sebagai ulama hebat dalam ilmu hadis. Kehebatan Syekh Al-Bani ini seolah-olah mengalahkan ulama hadis sebelumnya. Para tabiin, dan salafussholih, serta dan para sahabat Rosulullah SAW seolah-olah kalah kehebatanya dengan Syekh Al-Bani.  Lihat saja, Syekh Al-Bani melarang umat islam menambah jumlah rakaat pada Qiyam Ramadhan. Dengan alasan, selama 23 tahun, Rosulullah SAW tidak pernah melakukan sholat dengan jumlah 23 rakaat.

Syekh Al-Bani adalah orang yang pertama kali melarang (menyesatkan) kaum muslimin yang melakukan sholat 23 rakaaat (tararwih) di bulan suci Ramadhan (Lihat: Fatwa Syekh Al-Bani (315). Padahal, ulama hadis telah menjelaskan bahwa 23 rakaat itu adalah gagasan Umar Ibn Al-Khattab ra. Bahkan Umar Ibn Al-Khattab ra mengatakan” inilah nikmatnya bid’ah’’  (HR, Baihaqi, Malik). Syekh Ibn Rajab Al-Hambali di dalam kitab ‘’Jamiu Al-Ulum Wa-Alhikam’’ mengutip pernyataan Imam Syafii bahwa Bidaah itu dibangi menjadi dua, bid’ah mahmudah dan bid’ah madmumah.

Tidaklah berlebihan jika para sahabat Nabi SAW pada masa Umar, Usman, Ali Ibn Abi Thalib ra melaksanakan tarawih 20 rakaat dengan 3 witir. Bukankah Rosulullah SAW mengatakan:’’ Sesungguhnya barangsiapa hidup sesudahku niscaya dia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku. Berpeganglah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi gerahammu serta jauhilah oleh kalian perkara agama yang diada-adakan karena semua yang baru dalam agama adalah bid’ah dan semua bid’ah adalah sesat (HR Ahmad,Abu Dawud). Syekh Al-Bani juga menshahihkan hadis ini di dalam kitab no. 2549

Jika umat islam melakukan sholat tarawih 23 rakaat, sebagaimana dilaksanakan di Masjidilharam dan Masjid Nabawi. Padahal itu jelas-jelas tidak pernah dilakukan Rosulullah SAW. Mereka hanya melaksanakan gagasan Umar Ibn Al-Khattab. Bukankah, Umar itu adalah Khulafaur Rosyidin, yang harus dipatuhi juga?

Kelihatanya Syekh Al-Bani lupa dengan hadis ini. Jika memang menganggab bahwa orang yang melaksanakan tarawih 23 itu tersesat, maka beliau berarti telah menyesatkan seorang sahabat Umar  ra dan juga para muhadis sebelum, dan ulama-ulama salaf yang selama ini melaksanakan tarawih 23 rakaat. Serta jutaan orang yang melaksanakan sholat tarawih 20 rakaat setiap tahun di Masjidlharam dan Masjid Nabawi. Jelas sudah, Rosulullah SAW mengatakan:’’Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari).

Para pengikut Syekh Al-Bani menempatkan gurunya seolah-olah melebihi Rosulullah SAW. Sampai-sampai apa yang disampaikan Syekh Al-Bani semuanya sempurna tanpa cacat. Lihat saja, hadis yang ditulis oleh Imam Bukhori  dalam kitab Shohih Al-Bukhori menulis ‘’At-Tahiyyat’’ di dalam sholat. Dalam hadis tersebut tertulis ‘’Assalamualaika ayyuha Al-Nabiyyu’’ kemudian diganti dengan Syekh Al-bani dengan ‘’Assalamu Ala Al-Nabii’’( lihat Sifat Nabi Saw;hlm ;143. Begitulah penjelasan Syekh Al-Bani.

Apa Syekh Al-Bani tidak membaca dan tidak mendengar bahwa Abu Bakar Al-Shidiq, Umar Ibn Al-Khattab, Abdullah Ibn Zubair dan sebagian para sahabat Rosulullah SAW ketika naik mimbar selalu mengajarkan ‘’ ?????????? ???????? ???????? ?????????? ?????????? ??????? ????????????? (HR.Bukhori). Tidak satu-pun dari sahabat yang Rosulullah SAW merubah dan mengingkari. Begitu juga dengan ulama hadis lainya, setelah wafatnya Nabi SAW selalu mengunakan lafad di atas dengan tidak menambahi dan menguranginya. Dengan berani dan tegas Syekh Al-Bani menguranginya, sementara beliau mengaku pengikut setia Rosulullah SAW.

Secara khusus, Syekh Al-Bani yang mengaku sebagai seorang ahli hadis. Banyak sekali orang yang mengkagumi termasuk Syekh Yusuf Al-Qordowi. Banyak juga dari murid-muridnya yang meng-agung-agungkan kehebatan Syekh Al-Bani. Ternyata, Syekh Al-Bani telah mengingkari apa yang telah tulis oleh Imam Bukhori.

Imam Al-Bukhori penulis dan penghafal hadis Rosulullah SAW ketika memaknai ayat Al-Quran ‘’setiap sesuatu rusak, kecuali wajhahu’’ (QS. Al-Qoshos (28:88) Imam Bukhori memaknai ‘’Wajahahu’’ dengan Mulkahu (???? ),[1] begitu juga dengan Mufassir Imam Al-Bagawi di dalam ktab tafsirnya. Sedangkan Ibn Hajar Al-Asqolani menjelaskan dalam Sarah Shohih Al-Bukhori bahwa Abu Ubaidah meng-artikan ‘’Wajahahu’’ dengan ‘’Jalalahu’’.

Dengan lantang, Syekh Al-Bani membantah dengan mengatakan:’’ini bukan perkataan seorang muslim yang ber-iman. Hal ini tidak ada dalam kitab Bukhori tidak ada ta’wil seperti ini( Lihat fatawa Al-Al-Bani, hlm 523). Lebih lanjut Syekh Al-Bani mengatakan:’’kami membersihkan Imam Bukhori menta’wil ayat ini, Imam Bukhori adalah Imam Hadis, dan akidahnya adalah Salafi’’.

Padahal, Imam Bukhori tidak pernah merubah ta’wilnya, baik dalam bab ‘’Surat Al-Qosos’’, bab’’ Wa Andzir Asyirataka Al-Aqrabin” . Ibn Hajar sebagai pensyarah juga tidak merubahnya. Bagaimana mungkin, Syekh Al-Bani mengatakan ‘’ini bukan perkataan seorang muslim yang ber-iman’’. Ali Sirat Al-Hak dalam kitabnya yang berjudul ‘’Al-Qordowi fi Al-Aro’’ mengatakan ‘’Syekh Al-Bani termasuk orang yang mengkafirkan Imam Bukhori. Sebab, naskah kitab shahih Al-Bukhori tidak disepakati ulama hadis, dan tidak satupun dari mereka yang merubahnya. Justru, sebagian dari murid-murid Syekh Al-Bani merakukan Aqidahnya Imam Al-Bukhori. Dengan begitu, Syekh Al-Bani jauh lebih hebat dari pada ulama-ulama hadis yang pernah berjumpa dengan sahabat, serta para tabiian dan salafaussolih.

 



[1][1][1] . Lihat Kitab Shohih Al-Bukhori Bab Surat Al-Qoshos.

2 Responses so far.

  1. Abu Hadromi mengatakan:

    Jazakallah ustadz atas paparannya yg gamblang.
    Kadang ana heran, kenapa Syekh Al Bani bisa tidak konsisten seperti itu ya? Apapun termasuk faham/aliran/sekte yang dibuat oleh manusia pasti ada cacatnya dan saling bertabrakan.
    Ana kuatir ustadz, fatwa-fatwa yg saya pelajari dari Syekh Al Bani, Usaimin, Bin Baz, Shalih Fauzan, Abdul Muhsin Al-Abbad, Ali Hasan Al-Halaby, An-Najmi, Muhammad Al-Hamud An-Najdi, Masyhur Hasan Alu Salman, Muqbil Al-Wadi’i, Mushthofa Al-Adawi, Rabi’ Al-Madkholi, Syaikh Shalih Al-Fauzan, dkk itu juga ada sebagian yg diakal-akalin.
    Syukron ustadz atas pencerahannya.

    • admin mengatakan:

      Berbeda pendapat itu boleh, bahkan menjadi rahmat, tetapi jika mengklaim paling benar, kemudian ulama-ulama sunnah perawi hadis dinyatakan sesat, itu justru sama dengan menyesatkan dirinya sendiri.


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook