Posted by Abdul Adzim Irsad On Juli - 12 - 2014 0 Comment

TarawihSudah menjadi rahasia umum bahwa bulan suci Ramadhan itu waktu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Ibadah. Artinya, bulan puasa ini menjadi kesempatan untuk memperbanyak qiyam ramadhan (tarawih), sholat tahajud dan witir, tasbih, sholat hajat. Jangan lupa, sholat dhuhanya juga diperbaiki kualitas dan kuantitasnya agar supaya rejekinya semakin berkah juga.

Agar puasa bulan suci Ramadhan akan lebih bermakna, kewajiban bagi setiap umat islam untuk menghidupkan hari-harinya dengan membaca Al-Quran (tadarusan). Tadarusan ini bisa dilakukan dengan sendiri-sendiri, bisa juga dengan cara saling menyimak. Sebagaimana yang sudah berjalan di tenggah-tenggah masyarakat Indonesia di seluruh nusantara, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Bagi yang memiliki kelebihan rejeki, atau yang ingin mendapatkan pahala lebih, agar supaya aktif berbagi kepada sesama. Caranya cukup banyak, seperti;memberikan buka puasa (iftaru al-Shim) kepada masyarakat, di masjid, jalan, atau dimana saja. Sebab, memberikan buka puasa kepada orang yang sedang berbuka puasa, pahalanya sangat besar. Nabi SAW mengibaratkan orang yang memberikan buka puasa, maka ia akan mendapatkan pahala persis dengan orang yang berpuasa tersebut.

Bulan suci Ramadhan merupakan moment paling istimewa sepanjang tahun, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT. Adapun syarat utama agar semua amal ibadah itu bisa diterima Allah SWT ialah Ihlas. Imam Ghozali pernah mengatakan bahwa ihlas itu ialah meninggalkan ihlas dengan ihlas. Artinya, tidak ada sedikitpun dalam hati, ingin mendapatkan pujian, kecuali puasa itu sebagai bentuk pengabdikan kepada Allah SWT.

Wajib bagi setiap mukmin untuk menata hatinya dengan sebaik-baiknya agar ibadahnya, sesuai dengan tunutun syariah, agar supaya ibadah puasanya tidak sia-sia. Cukup banyak orang yang berpuasa, tetapi yang diperoleh hanyalah lapar dan dahaga. Iman dan semata-mata karena Allah SWT (ihtisaban) itu juga menjadi dasar utama ketika menjalankan ibadah puasa. Jangan sampai ibadah puasa yang sedang dilaksanakan, qiyam ramadhan (tarawih, witir, tahajud), sedekah (zakat), tadarusan Al-Quran, tidak bermakna, hanya gara-gara tidak bisa menjaga lisan, hati.

Rosulullah SAW telah memberikan kesempatan seluas-luasnya dengan diberikan bulan suci Ramadhan. Bahkan, ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, itulah malam lailatul qodar. Bagi pengikutnya dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam ramadhan dengan memperbanyak qiyam ramadhan. Secara khusus, Rosulullah SAW mengatakan:’’barang siapa yang melaksanakan qiyam ramadhan atas dasar iman dan semata-mata mengharap karena Allah SWT, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa yang telah lampau (HR Muslim).

Dalam rangka mengamalkan hadis Rosulullah SAW, Umar Ibn Al-Khattab ra melakukan sebuah ijtihad dengan melaksanakan tarawih 20 rakaat. Selama ber-abad-, kira-kira sudah berlaku selama dua belas abad, umat islam melakukan sholat tarawih dengan 20 rakaat. Tidak satupun dari ulama ahli hadis, fikih, yang membantah atau mengingkarinya. Ini telah dilaksanakan Al-Khulafaur Al-Rasyidin, sahabat ra serta tabi’in, dan para ulama salafussolih, hingga ulama masa kini. Tiba-tiba, dua abad yang lalu, tiba-tiba muncul sebuah firqah (golongan) baru yang menamakan ahlul hadits mencetuskan teori bahwa tarawih yang benar sesuai dengan sunnah Nabi SAW hanya 8 rakaat, bukan 20 rakaat.

Kholifah Umar Ibn Al-Khattab ra telah melakukan sebuah Ijtihad, bahwa qiyam Ramadhan itu (tarawih)  20 rakaat dan 3  witir, yaitu dua 2 salam di t ambah 1 salam. Pada pemerintahan Arab Saudi-pun yang konon disebut-sebut wahabi juga melaksanakan tarawih 20 rakaat. Buktinya, Makkah dan Madinah (Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi)  melaksanakan tarawih 20 rakaat. Bahkan, pada sepuluh terahir ditambah 13 rakaat, dengan perincian, 10 rakaat dan tiga witir. Tiap-tiap dua rakaat salam.

Di Indonesia-pun mulai berkembang sholat tarawih gaya baru, 8 rakaat dan 3 witir. Dengan alasan ini sesuai dengan hadis Rosulullah SAW, serta sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi SAW. Dengan kata lain, bahwa menganggab bahwa  tarawih yang 20 rakaat itu lemah (dhoif), karena bukan dari Rosulullah SAW. Apalagi, ketika menyindir orang-orang Indonesia yang menjalankan tarawih 20 rakaat yang dilakukan dengan lebih cepat. Seolah-olah tidak berguna. Padahal, cukup banyak warga NU (Indonesia) yang melaksananakan tarawih 20 rakaat, dengan durasi lebih satu jam. Setiap malam membaca Al-Quran 1 juzz.

Terlepas dari sebuah perbedaan, perlu diketahui bersama bahwa sholat tarawih itu hukumnya tidak wajib (sunnah). Berpahala bagi yang menjalankannya dan tidak berdosa bagi yang meninggalkanya. Serta rugi sekali bagi yang tidak melaksanakan, karena Qiyam Ramadhan (tarawih) itu sunnah Rosulullah SAW dan para sahabatnya.

Yang lebih buruk lagi, menganggab bahwa dalil 8 rakaat itu lebih baik dan shohih dari pada hadis 20 rakaat. Apalagi sampai menganggab bahwa 20 rakaat itu adalah bidah. Dengan pemahaman bahwa semua jenis bidah itu tersesat. Jika pemahaman tentang bidah itu sangat sempit, maka semua orang yang melaksankan sholat 20 rakaat sejak ber-abad, mulai Umar Ibn Al-Khattab ra hingga sekarang termasuk mengikuti bidah. Semua Bidah itu tersesat, dan setiap kesesatan itu itu masuk neraka. Dengan demikian orang yang berhak masuk surga ialah mereka yang melakukan tarawih 8 rakaat, karena sesuai dengan Rosulullah SAW.

Umar Ibn Al-Khattab ra, Al-Khulafaur Al-Rosyidin, Tabiin, Salafussolih, serta ulama fikih dan hadis, seperti; Imam Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Ibn Majah, Imam Abu Hanifah Syafii, Malik, Ibn Hambal, lebih memahami hidup Rosulullah SAW, serta lebih faham dengan hadis Rosulullah SAW, mereka lebih pintar, lebih dalam iman dan taqwanya, serta lebih mengerti makna seta kandungan sunnah Rosulullah SAW. Jika kemudian ada sekelompok komunitas dengan mengatasnamakan ahli hadis lantas mengatakan bahwa hadis yang lebih shohih itu delapan rakaat bukan 20 rakaat plus 3 witir. Pertanyaanya, apalah kelompok tersebut lebih baik pemahaman hadisnya dari pada Umar Ibn Al-Khattab dan ulama hadis yang sebelumnya.

Hadis Rosulullah SAW yang dijadikan rujukan seputar sholat tarawih delapan rakaat sebagai berikut:

“Diriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa  ia memberitahunya bahwa ia bertanya kepada Aisyah ra: ‘Bagaimanakah shalat Rasulullah saw pada waktu (malam) Ramadlan?’ Maka beliau  menjawab: ‘Rasulullah saw tidak pernah menambah pada waktu Ramadlan dan tidak pula pada waktu lainnya (selain ramadhan) lebih  dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan tanya tentang bagusnya dan lamanya, kemudian beliau shalat lagi empat rakaat  dan jangan tanya tentang bagusnya dan lamanya, kemudian beliau shalat tiga rakaat.” (Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Hadis di atas dapat disimpulan bahwa Rosulullah SAW memang melaksanakan Qiyam Ramadhan 8 rakaat dan 3 witir pada bulan Ramadhan dan juga selain malam Ramadhan. Sebagian ulama fikih meletakkan hadis ini pada ‘’Bab Al-Witri’’ (bab menerangkan sholat witir).

Jika mau jujur, ingin mencontoh Rosulullah SAW masalah shalat qiyam Ramadlan dan selain ramadhan berarti harus konsisten 11 rakakat (qiyam dan witir). Adapaun prakteknya benar-benar memperhatikan kualitas, bagus, khusu’ dan sangat lama sebagaimana Rosulullah SAW lakukan. Jika ingin mengikuti Nabi SAW dan sahabat Rosulullah SAW, maka 20 rakaat itu sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW, karena apa yang dilakukan sahabat termasuk sunnah juga. Rosulullah SAW mengatakan:’’wajib bagi kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafaurrosidin’’ (HR Abu Dawud).

Jika melihat praktek tarawih di berbagai masjid Indonesia, khususnya yang 8 dan 3 rakaat, dengan durasi yang pendek (singkat), berarti tidak sesuai dengan qiyam ramadhan Rosulullah Rosulullah SAW. Apalagi pada selain Ramadhan juga tidak laksanakan dengan jumlah yang sama, serta durasinya juga berbeda. Jika mengikuti Umar Ibn Al-Kahttab ra serta para sahabat dan ulama hadis dan fikih, berarti telah mengikuti Rosulullah SAW dan para sahabatnya.

Teringat pernyataan tokoh Muhammadiyah, Prof.Dr. Abdul Munir Mulkan:”yang penting berbeda dengan NU’’. Kemudian menganggab hadis paling shohih itu delapan rakaat dan witir. Kemudian orang yang terawih delapan rakaat merasa lebih baik pemahamanya dari pada ulama-ulama hadis, seperti; Imam Malik, Imam Bukhori, Muslim, Syafii, Hanafi, Ibn Hajar Al-Askolani, Imam Nawawi,. Ulama-ulama hadis-pun yang di akui dunia, juga melaksanakan terawih 20 rakaat.

Sementara, tiba-tiba ada yang merasa lebih baik di dalam memahami hadis dan prilaku Rosulullah SAW. Bahkan apa yang dilakukan Umar Ibn Al-Khattab ra, dan sahabat, tabiin, ulama salafussolih, di anggab bidah, padahal  apa yang mereka lakukan itu sudah sesuai dengan ajaran kitab suci Al-Quran, sunnah Rosulullah SAW dan para sahabat. Apa yang dilakukan Sahabat Nabi SAW itu itu adalah sunnah, bukan bidah. Jangan sampai sunnah Nabi SAW dan sahabat berubah menjadi bidah, hanya karena ingin tampil beda.

 

 


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook