Posted by Abdul Adzim Irsad On September - 4 - 2015 0 Comment

Al Madinah Al Munawwarah-20130719-02327Sholawat kepada Nabi Muhamamd SAW itu dianjurkan, bahkan Nabi sendiri yang mengatakan agar supaya para pengikutnya dimana saja berada, agar selalu bersholawat kepadanya. Sesungguhnya, sholawat yang dibaca itu termasuk menyapa Rosulullah SAW. Dan, Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengenali kepada setiap orang yang membaca sholawat kepadanya.

 Khusus pada hari jumat, Nabi Muhammad SAW, menganjurkan agar semakin banyak membaca sholawat kepada Rosulullah SAW. Sampai-sampai Nabi Muhammad SAW bersabada:’sesungguhnya orang yang paling utama bagiku ialah, orang yang paling banyak bersholawat kepadaku” (HR Al-Baihaqi). Karena hadis inilah, maka umat Rosulullah SAW dimana saja berada, selalu berlomba-lomba memperbanyak sholawat kepada Rosulullah SAW agar kelak memperoleh syafaat Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Indonesia salah negeri yang paling rajin sholawatan kepada Rosulullah SAW dengan dikemas dengan membaca Al-Barjanji, Al-Diba’. Bisa dikatakan, Nusantara itu negeri sholawat Nabi SAW. Sholawat dan puji-pujian terhadap Rosulullah SAW setiap hari bisa didengarkan dari dimasjid-masjid, musolla. Bahkan, setiap khitanan, walimahan, sering kita temukan sholawatan Al-banjari. Puji-pujian dengan aluanan sholawatan juga sering diperdengarkan setiap menjelang sholat fardu. Menariknya, sholawatan itu dibaca rame-rame setiap malam jumat dengan cara bergiliran dari rumah kerumah dengan di iringi music tradisional Arab.

Sholawatan yang seperti itulah yang kemdian dikecam habis-habisan, di sesatkan, bahkan di anggab masuk Neraka karena tidak pernah di ajarkan oleh Rosulullah SAW. Itulah yang disebut dengan istilah “bidah (sesat)” yang menjadi pintu masuk Neraka menurtut pemahaman Salafi Wahabi. Semua sudah tahu bahwa Arab Saudi itu satu-satunya Negara yang membidahkan (menyesatan) sholawatan model seperti ini.

Lulusan-lulusan Arab Saudi-pun mati-matian menyesatkan orang yang melakukan shoalawatan model di atas. Lagi-lagi, alasan yang dikemukan “bidah” tidak pernah diajarkan oleh Rosulullah SAW, dan juga para sahabat. Dalil yang paling sering dikemukan “jika itu dianjurkan, mestinya para sahabat yang melakukan”. Tetapi, sahabat tidak pernah melakukan, kenapa justru sekarang melakukan apa yang tidak dilakukan oleh Rosulullah SAW, sahabat dan salafussolih?

Sekarang sudah berubah, dimana Arab Saudi sudah terbiasa dengan “sholawatan”, bahkan setiap khutbah jumah dan pengajian-pengajian di Masjidilharam juga sering menggunakan “sayyidina” Muhammad yang dulu pernah menjadi “tabu”. Bahkan, sepanjang jalan Makkah menuju Madinah tertulis jelas “Allahumma Solli Ala Sayyidina Muhammad”.

Tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang ikut-ikutan alias latah mengecam orang yang sholawatan dengan dalil “tidak ada dalil” dari Al-Quran dan sunnah Nabi Muhamamd SAW. Bahkan, ketika membaca sholawat, kemudian ditambahi dengan “sayyidna” juga enggan, dengan alasan karena Nabi Muhammad SAW itu tidak mau di agungkan. Pada Muktamar Muhammadiyah di Makasar terdengar geger, ketika terdengar “sayyidina” terucap. Disamping tidak terbiasa, juga ada yang ber-anggapan bahwa meng-agungkan Nabi Muhammad SAW termasuk hal yang berlebihan.

Tahun ini, barangkali tahun yang sangat mengegerkan dunia, bagaimana tidak? Arab Saudi yang dulu paling keras memerangi sholawatan ala masyarakat Nusantara, kini menjadi pelopornya. Pada Minggu (30/08/2015), jamaah Haji Indonesia setibanya di Hotel Al Tayseer, Makkah disambut dengan sholwatan. Wajar saja, jika jamaah haji Indonesia terharu, bergetar, karena alunan sholawatan di rame-rame di alunkan saat Jamaah haji menginjakkan kakinya ditempat kelahiran dan dimakamkan Rosulullah SAW.

Alunan sholawatan sebagaimana yang tersebar dalam video, dipimpin langsung oleh seorang laki-laki dengan busana khas Arab Saudi yang dikelilingi anak-anak remaja sambil mengalunkan syair-syari indah memuji Rosulullah SAW.

??? ????? ????? # ?? ????? ??????

????? ????????? ????????? … ?? ???? ???? ????

 

Sholawatan seperti inilah yang tidak pernah ada dan tidak pernah terdengar, bahkan dikatakan sesat, saat ini sudah mulai membumi lagi di bumi kelahiran Rosulullah SAW, juga di Madinah kota suci Nabi SAW.

Tidak cukup dengan shalawatan, anak-anak remaja dengan busana khas Arab, menyambut dengan senyuman dan membagi-bagikan wewangian, makanan ringah, dan juga air zam-zam. Makkah dan Madinah kembali seperti jaman dulu, dimana  Ulama Nusantara, seperti; Syekh Mahfudz Al-Tirmizi, Syekh Abdul Hamid Ali Qudus, Syekh Uhid Al-Bukhuri, dimana sebagian besar dari mereka waktu itu banyak yang menjadi pengajar di Masjidilharam sekaligus menjadi Imam Masjidilharam (Malang, 4/09/2015)


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook