Posted by Abdul Adzim Irsad On Mei - 4 - 2017 0 Comment

Oleh; Abdul Adzim Irsad

masjid kyai hasimSeseorang itu biasanya paling suka dipuji jika meraih prestasi. Wajar, karena memang manusia memliki kebanggan tersendiri jika mendapat pujian. Apalagi, pujian itu datang dari orang yang dicintainya.
Nah, bagi seorang karyawan, betapa senangnya jika mendapat sanjungan dari atasannya. Bagi pimpinan, juga merasakan hal yang sama, jika mendapatkan pujian dari anak buahnya, apalagi yang memberikan pujian orang yang disukainya.


Soal puji memuji, bagi manusia itu sudah biasa, yang tidak boleh itu saat mendapatkan pujian dari rekan kerja, kerabat, tetangga, membuat lupa diri. Kemudian merasa lebih baik, sombong sekaligus lupa dengan dzat yang maha dipuji yaitu Allah SWT. Ketika lupa diri, maka Allah SWT akan mencabut kenikmatan, keindahan, keberhasilan serta prestasi yang diperolehnya.
Kisah menarik dari penuturan Rosulullah SAW, yang diceritakan dalam kitab shahih Bukhori. Dulu, ada tiga orang yang sakit, yaitu kepalanya tidak tumbuh rambut (botak), kulit rusak (kusta), serta tidak bisa melihat (buta).
Ketiganya sudah berusaha sekuat tenaga (ikhtiayar) berobat, serta berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kesembuhan.

Sampai suatu ketika Allah SWT mengirimkan kepada mereka malaikat dengan menyamar menjadi manusia yang bisa mengobatinya.
Datanglah Malaikat itu kepada lelaki yang botak kepalanya. Lalu menawarkan diri akan mengobatinya. Dengan senang hati, si Botak itu sangat bahagia. Rupanya, sekali oles saja, kepalanya langsung sembuh, dan tumbuhlah rambut. Si Botak itu terlihat ganteng dan keren.

Kemudian Malaikat yang menyamar menjadi manusia itu bertanya “sekarang kamu pingi apa? Laki-laki yang baru sembuh dan tumbuh rambutnya mengatakan “saku pingin kaya”. Tidak lama kemudian, Malaikat memberinya seekor onta untuk dirawat agar terus berkembang.
Tidak lama kemudian, laki-laki yang sudah ganteng itu menjadi kaya raya karena ternaknya banyak. Rupanya, kegantengan dan kekayaan yang dimilikinya membuat dirinya semakin percaya diri. Sampai suatu ketika, Allah SWT mengutus seorang Malaikat dengan menyamar menjadi sosok yang lemah, miskin dan kekurangan datang kepada laki-laki kaya dan ganteng itu.
Kemudian Malaikat yang nyamar menjadi laki-laki miskin meminta kepada Si Botak yang sudah kaya “Pak….tolonglah saya, saya ini orang miskin dan tidak punya apa-apa. Saya ingin meminta ontanya untuk kebutuhan hidup saya”.

Mendengar rintighan itu, Si Botak yang sudah kaya menjawab “jangan,…minta kok satu onta”. Kamu tahu, saya bisa kaya seperti ini karena kerja keras. Apa yang saya miliki, merupaka hasil dari prestasi kerja saya selama bertahun-tahun. Maka, jangan seenaknya minta-minta.

Mendengar ucapakan kasar dari pemilik Onta, maka Malaikat yang menyamar menjadi manusia itu menegadahkan tanganya, bermunajat kepada Allah SWT seraya berdoa “ Ya Allah …..kembalikanlah orang ini seperti semula”. Seketika itu, laki-laki kaya yang rambutnya tumbuh, tiba-tiba kembali rontok.Ternaknya juga mati semua. Dia kembali hidup dalam kemiskinan dan dalam kondisi sakit.

Orang kaya jika bangga dengan prestasinya, lupa bahwa yang memberikan kekayaan itu adalah, suatu saat akan dicabut kekayaananya. Orang ganteng yang tidak bersyukur, juga akan dicabut kegantenganya, begitu juga wanita cantik. Orang yang sukses dalam karir, bangga dengan prestasinya, lupa akan jati dirinya, maka Allah SWT juga akan mencabutnya.

Begitu juga dengan para pemimpin yang sombong dan meremehkan orang lain.
Sejatinya, semua itu adalah kehendak Allah SWT. Tidak satupun daun yang jatuh, kecuali atas pengetahuan Allah SWT.

Jadi, jangan pernah merasa lebih baik dan lebih benar, sementara setiap hari menyalahkan orang lain. Bukankah, semua yang ada di alam semesta ini merukan kehendak Allah SWT. Maka, semua terserah Allah SWT. Seorang hamba harus mengabdikan dirinya kepada Allah SWT secara totalitas (Malang, 03/05/2017)


Facebook Like Box provided by technology news
  • Facebook